Sabtu, 10 Oktober 2009

Pria Sederhana, Pria Istimewa

oleh: Win R.G.

Sudah nonton KCB 2? Tak enak rasanya jika KCB 2 tak masuk dalam komentarku, setidaknya melanjutkan komentar dari KCB 1. Ada hal yang ingin kukatakan tentang KCB 2. Masih tentang Azzam. Aku ingin berbicara mengenai Azzam sebagai sosok pria yang ada dari sekian berjuta pria di dunia ini (kuharap tulisan ini tak membuat pria lain berkehendak membunuh Kholidi sebagai pemeran Azzam.

Perhatikan lebih dekat karakter dan kehidupannya. Ia sangat sederhana. Ia tak pernah marah pada wanita sekalipun wanita itu tak berkenan di hatinya. Saat kedua adik Azzam terus menggoda Eliana untuk jadi istrinya, tetap saja Azzam bisa bertingkah tak menyakiti, hanya senyum dan berbahasa santun. Padahal bisa saja ia berfakta sebagai pria bahwa ia tak akan mungkin dan tak akan mau memilih Eliana. Profesi Eliana sebagai artis jelas berbalik dari sosoknya sebagai ikhwan. Apalagi sangat jelas bu'enya tak menyetujui wanita yang "bebas" itu sebagai daftar calon menantunya.

Tokoh Azzam yang diperankan oleh Kholidi Asadil Alam paslah bagiku untuk mewakili tokoh mimetik yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Cara berpakaiannya pun tetap mewakili bahwa ia sederhana, apalagi wajahnya yang tak terlalu tampan (saya harap penggemar Kholidi tidak marah untuk bagian ini, termasuk Kholidi sendiri).

Lihatlah saat ia merendahkan hatinya untuk menolak tawaran Kyai Ilyas -ayah Anna- untuk mengisi majelis taklim di pondok pesantren milik beliau. Azzam jelas-jelas menolak karena keterbatasan ilmu yang bisa membuat ia malu tapi karena kyai Ilyas tahu bahwa pria yang baru dikenalnya itu mampu, sehingga Kyai Ilyas terus memaksa. Akhirnya yang terjadi adalah semua orang menyukai cara Azzam menyampaikan materi. Sederhana namun indah. Kesederhanaan pun ditampilkan pada sikapnya yang sempat tampak gugup dan beberapa kali tertunduk namun menguasai materi dan para hadirin. Semua orang terpana dalam majelis taklim itu, baik pria maupun wanita.

Kesabaran dalam menjemput pendamping hidup harus diacungi jempol. Begitu banyak yang datang dan didatangkan, namun berguguran di awal jalan dan di tengah jalan bahkan di jalan yang hampir menuju pelaminan. Azzam tetap ikhtiar bahwa ia akan mendapatkan pasangan terbaik tepat pada masanya.

Garis merah sebenarnya adalah Azzam bukan sederhana tapi istimewa. Mana ada yang sederhana mampu mengontrol emosinya sedemikian rupa, mana ada yang sederhana mampu menyampaikan materi sedemikian dimegerti, mana ada yang sederhana dalam berpenampilan namun tampak cukup rapi, mana ada yang tak terlalu tampan namun enak untuk dipandang (nah, baru deh boleh senyum fans Kholidi).

Buat kebanyakan orang, sederhana itu biasa tapi tidak untukku. Tak selamanya yang sederhana itu biasa karena ternyata sederhana itu banyak mendatangkan keistimewaan yang wah. Sederhana itu sekilas tampak apa adanya tapi sebenarnya sederhana itu "ada apanya". Bahkan rasulullah sendiri menyukai kesederhaan, beliau tak menyukai sesuatu yang berlebihan karena dianggap sebagai kemubaziran yang tak mendatangkan kebaikan. Dalam kesederhanaan sesungguhnya ada banyak tersimpan cahaya yang berguna untuk menerangi sekelilingnya, dan...mana ada sosok yang sederhana bisa jadi coverguest 2002 di salah satu tabloid ibukota (Ups!).

By the way, Azzam memang taklah terlalu tampan jika dibandingkan dengan Mas Arulku, namun jika Mas Arul dibandingkan dengan Andra ternyata Andra jauh lebih tampan. Apakah Bintang akan bimbang? kutahu kalian tak sabar menanti novel Bintang jilid 2-ku, tunggulah sejenak beberapa minggu. Saat ini aku sedang mengumpulkan banyak ilmu yang harus bertarung dengan waktu. Mohon doanya agar aku bisa menampilkan Mas Arul yang istimewa di mata Bintang agar Bintang tak memilih pria yang lebih kaya dan lebih tampan (ow ow ow!).
***