Sabtu, 10 Oktober 2009

Pria Sederhana, Pria Istimewa

oleh: Win R.G.

Sudah nonton KCB 2? Tak enak rasanya jika KCB 2 tak masuk dalam komentarku, setidaknya melanjutkan komentar dari KCB 1. Ada hal yang ingin kukatakan tentang KCB 2. Masih tentang Azzam. Aku ingin berbicara mengenai Azzam sebagai sosok pria yang ada dari sekian berjuta pria di dunia ini (kuharap tulisan ini tak membuat pria lain berkehendak membunuh Kholidi sebagai pemeran Azzam.

Perhatikan lebih dekat karakter dan kehidupannya. Ia sangat sederhana. Ia tak pernah marah pada wanita sekalipun wanita itu tak berkenan di hatinya. Saat kedua adik Azzam terus menggoda Eliana untuk jadi istrinya, tetap saja Azzam bisa bertingkah tak menyakiti, hanya senyum dan berbahasa santun. Padahal bisa saja ia berfakta sebagai pria bahwa ia tak akan mungkin dan tak akan mau memilih Eliana. Profesi Eliana sebagai artis jelas berbalik dari sosoknya sebagai ikhwan. Apalagi sangat jelas bu'enya tak menyetujui wanita yang "bebas" itu sebagai daftar calon menantunya.

Tokoh Azzam yang diperankan oleh Kholidi Asadil Alam paslah bagiku untuk mewakili tokoh mimetik yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Cara berpakaiannya pun tetap mewakili bahwa ia sederhana, apalagi wajahnya yang tak terlalu tampan (saya harap penggemar Kholidi tidak marah untuk bagian ini, termasuk Kholidi sendiri).

Lihatlah saat ia merendahkan hatinya untuk menolak tawaran Kyai Ilyas -ayah Anna- untuk mengisi majelis taklim di pondok pesantren milik beliau. Azzam jelas-jelas menolak karena keterbatasan ilmu yang bisa membuat ia malu tapi karena kyai Ilyas tahu bahwa pria yang baru dikenalnya itu mampu, sehingga Kyai Ilyas terus memaksa. Akhirnya yang terjadi adalah semua orang menyukai cara Azzam menyampaikan materi. Sederhana namun indah. Kesederhanaan pun ditampilkan pada sikapnya yang sempat tampak gugup dan beberapa kali tertunduk namun menguasai materi dan para hadirin. Semua orang terpana dalam majelis taklim itu, baik pria maupun wanita.

Kesabaran dalam menjemput pendamping hidup harus diacungi jempol. Begitu banyak yang datang dan didatangkan, namun berguguran di awal jalan dan di tengah jalan bahkan di jalan yang hampir menuju pelaminan. Azzam tetap ikhtiar bahwa ia akan mendapatkan pasangan terbaik tepat pada masanya.

Garis merah sebenarnya adalah Azzam bukan sederhana tapi istimewa. Mana ada yang sederhana mampu mengontrol emosinya sedemikian rupa, mana ada yang sederhana mampu menyampaikan materi sedemikian dimegerti, mana ada yang sederhana dalam berpenampilan namun tampak cukup rapi, mana ada yang tak terlalu tampan namun enak untuk dipandang (nah, baru deh boleh senyum fans Kholidi).

Buat kebanyakan orang, sederhana itu biasa tapi tidak untukku. Tak selamanya yang sederhana itu biasa karena ternyata sederhana itu banyak mendatangkan keistimewaan yang wah. Sederhana itu sekilas tampak apa adanya tapi sebenarnya sederhana itu "ada apanya". Bahkan rasulullah sendiri menyukai kesederhaan, beliau tak menyukai sesuatu yang berlebihan karena dianggap sebagai kemubaziran yang tak mendatangkan kebaikan. Dalam kesederhanaan sesungguhnya ada banyak tersimpan cahaya yang berguna untuk menerangi sekelilingnya, dan...mana ada sosok yang sederhana bisa jadi coverguest 2002 di salah satu tabloid ibukota (Ups!).

By the way, Azzam memang taklah terlalu tampan jika dibandingkan dengan Mas Arulku, namun jika Mas Arul dibandingkan dengan Andra ternyata Andra jauh lebih tampan. Apakah Bintang akan bimbang? kutahu kalian tak sabar menanti novel Bintang jilid 2-ku, tunggulah sejenak beberapa minggu. Saat ini aku sedang mengumpulkan banyak ilmu yang harus bertarung dengan waktu. Mohon doanya agar aku bisa menampilkan Mas Arul yang istimewa di mata Bintang agar Bintang tak memilih pria yang lebih kaya dan lebih tampan (ow ow ow!).
***

Kamis, 20 Agustus 2009

Paket Pelatihan Menulis Ramadhan

Tadarus Sastra 2009;
Pelatihan Menulis Cerpen-Puisi FLP Sumut


Forum Lingkar Pena Sumut akan menggelar pelatihan bertajuk menulis fiksi (cerpen-puisi) yang akan dilaksanakan selama 20 hari di bulan ramadhan. Kegiatan akan diisi oleh para penulis-penulis FLP Sumut dan beberapa sastrawan Taman Budaya Sumut.

Syarat dan ketentuan :
Hari/Tanggal : 25 Agustus-14 September 2009

Pukul : Sesi 1, pukul 08.00 Wib-10-00 Wib
Sesi 2, pukul 15.00 Wib-17.00 Wib
(Pilih salah satu sesi)
Tempat : Taman Budaya Sumut, Jl. Perintis Kemerdekaan
Jumlah Peserta : Maksimal tiap sesi sebanyak 20 orang

Kriteria Peserta : Ibu rumah tangga, Pelajar, Mahasiswa, Karyawan, Pedagang, dosen dan masyarakat umum

Kontribusi : Rp. 100.000,- /orang*)
Fasilitas : Makalah, Sertifikat, List Media Massa dan Buku “Pelangi Kasih”**)

Syarat-syarat***) :
1. Mengisi formulir yang tersedia di blog www.batangpinsil.blogspot.com
2. Mentrasfer uang kontribusi ke rekening Bank Syariah Mandiri 0067008814 a.n Sukma (melampirkan bukti transfer pada saat pertemuan pertama)
3. Melampirkan pas foto ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar
4. Mengirimkan karya terbaru (3 judul puisi dan 1 judul cerpen)


Selain beribadah, niscaya dengan bergabung dengan kelas menulis fiksi ini, Anda sengaja digiring untuk lebih semangat, cepat, dan tepat untuk memahami teknik-teknik menulis, menyajikan serta mengirimkannya ke media massa. Tunggu apalagi, segera daftarkan diri Anda. Tempat sangat terbatas!!


Informasi Pendaftaran:
Sukma (081370458213)
Nurul Fauziah (085261483012)


*) Diskon 25% bagi Anda yang membawa teman sebanyak 5 orang
**) Selama persediaan masih ada
***) Formulir pendaftaran, Naskah tulisan, dan Pas Photo di kirim via email sukma_kidspro@yahoo.co.id

Formulir Pendaftaran Peserta TADARUS SASTRA 2009

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : …………………
T/Tgl Lahir : …………………
Alamat : …………………
Asal Sekolah : …………………
Kelas : …………………
No.Telp/handphone : …………………
Emai/Blog : …………………
Motivasi Mengikuti Pelatihan : …………………
Judul Buku yang Digemari : …………………
Penulis Pengarang yang Dikagumi : …………………
Pelatihan Menulis yang Pernah diikuti :
1. ………………………
2. ………………………
3. ……………….........
4. ………………………

Judul Karya yang Pernah ditulis :
1. ………………………
2. ………………………
3. ………………………
4. ………………………

Karya yang dikirimkan berjudul :
1. ………………………
2. ………………………
3. ………………………
4. ………………………

Menyatakan diri mengikuti Pelatihan Menulis Cerpen-Puisi Ramadhan 2009 FLP Sumut dan bersedia mentaati semua aturan yang berlaku. Demikian form ini saya isi dengan sebenarnya. Atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan banyak terima kasih.

Hormat saya,
Peserta
……………………………2009



…………………………….

Kamis, 09 Juli 2009

Oji & Ssstttssstttssss....

oleh: Zee
Azan Maghrib baru saja selesai berkumandang, dan segeralah diriku berwudhu lalu mendirikan solat Maghrib sedangkan adikku si Oji masih anteng di depan televise, disuruh sholat, hanya gumaman “mmmm…” yang keluar dari mulutnya yang berarti dua hal: pertama, akan sholat tapi sebentar lagi dan yang kedua bermakna akan sholat tapi sebentar lagi, eh sama aja yak an?. Yoda aku pun masuk kamar untuk sholat.
Setelah aku raka’at ke 3 lalu salam menolehkan wajah ke kanan yang berarti masukkan aku ke surga jannatuna’im ya Allah, dan menolehkan wajah ke kiri yang ya Allah jauhkan aku dari siksa neraka, tiba-tiba si Oji masuk ke kamarku dengan tergesa-gesa, mukanya pucat, dan napas berburu seperti baru ikut lomba lari marathon, lalu dia bilang “Kak ada ular di belakang”, dibelakang itu maksudnya di dapur, “Hah…betul ko Ji?, mana mungkin ada ular”, Iya kak betul, aku dengar bunyi ssttt… di dapur di bawah meja makan”. “Aku selesaikan dulu doaku ya, aku belum berdo’a ni”.
Selesai berdoa aku dan Oji mencari tahu apakah benar ada ular di dapur. Ternyata sodare2 bukan tertawa aja yang menular lebih cepat ke orang lain tetapi rasa takut ternyata juga bisa menular, aku pun jadi ikutan takut. Aku dah membayangkan bagaimana sosok ular yang dibilang si Oji itu berukuran besar kayak di pilem2 barat terus panjangnya bermeter-meter, pikiran ku terus berburuk-buruk ria, bagaimana jika ularnya manjat dinding, kemana aku kan lari?. Lagian siapa yang nggak takut bila ular seperti itu masuk ke dalam rumah. Hiiii…
Penasaran dengan promosi si Oji tentang ular yang dia maksud, akhirnya berdua kami keluar dari kamarku. Saking takutnya keluar dari kamar saat buka pintu pun kami haris lihat kiri kanan memastikan kalau-kalau itu ular ada di depan pintu, ternyata keadaan masih dalam on the control. Dengan mengendap-endap, aku di depan dan si Oji di belakangku, kami berjalan pelan menuju dapur. Sesampainya di dapur rasa takut itu makin besar.
“Mana ularnya, Ji?”
“Itu kk, di bawah meja”
Aku lihat di bawah meja tak ada apa-apa lah kayaknya.
“Bukan pas di bawah mejanya kk, tapi dia ada di atas kursi”, Jadi biar kujelaskan kawan2 meja makan kami itu ada kursinya nah, Karena lagi nggak ada acara makan memakan, kursinya di masukkan ke dalam meja. Apakah meja makan kalian juga kayak gitu?
“Mana Ji?”
“Nah, ko buka lah kk pake ujung sapu ini”, alamak dia ngasih aku sapu, saking takutnya untuk membuka alas meja dengan tangan, takut di patuk soalnya. Ku terima lah pemberian adikku itu. Saran yang bagus ku pikir.
Mau tak mau aku beranikan diriku. Pokoknya sok pemberani lah, terpaksa memberanikan diri tepatnya, kayak dipilem2 action, padahal aku takutnya setengah mati.
Ternyata sodara2 setelah layar terkembang alias pinggiran taplak meja di buka, mau tahu sesuatu apa yang dengan Pe We alias Posisi Wuenaknya, tergeletaklah di atas kursi sebuah plastic hitam yang isinya beberapa buah timun sgar. Emang sih sekilas timun-timunnya kayak kepala ular tapi kok kesannya lebay gitu ya???
Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, asal muasal bunyi ssstttss yang didengar si Oji berasal dari termos keci punya Azeeza yang penutupnya tidak rapat sehingga udara dan sisa-sisa air yang di dalam termos berdesak-desakan keluar dari pinggir penutup sehingga menimbulkan bunyi ssttsstt. Wah, dah ilmiah apa belum ya jawaban aku ini? Perasaanku mengatakan dah ilmiah kali pun.
Dulu aku pun sempat terkecoh dengan bunyi ini tapi tidak kusimpulkan bunyi itu sebagai suara ular kayak si Oji, tapi bunyi suara hantu yang mau menakut-nakutiku. Ssstttss…ssstt…(macam pernah dengar aja suara hantu ntu kyk mana).

Rabu, 08 Juli 2009

Kembali Pulang 2


Oleh : Sukma



Sepagi tadi, seisi rumah terlihat benar-benar diguyur panik. Adik perempuan saya yang biasanya berleha-leha di tempat tidurnya seketika bangkit dan melonjak saat membaca isi ponselnya yang berisi tentang kabar tak mengenakkan itu.

“Mak, aku baru dapat sms dari Wak Ipo. Bukde Lina sudah meninggal jam enam tadi !” Suara adikku memburu.

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun !! Sambil mengelus dada emak terdengar beberapa kali mengucapkan kata-kata itu.

Begitupun adikku yang lelaki, abangku_kala itu ia masih tidur_ juga si bapak yang tengah menyapu halaman terdengar sedikit gaduh. Mungkin terkejut. Pasalnya malam tadi, mak dan bapak menjenguk kabar derita bukde kami itu di rumah sakit berjarak tidak jauh dari rumah.

Dan jujur saja, saya yang pagi ini tengah asyik nongkrong_dalam renungan yang panjang_ di toilet, sepintas terganggu pula.

“Meninggal ? Sudah saatnya kah?” Kata saya dalam hati.

Namun, memang dari sekian orang-orang yang ada di dalam rumah hanya saya-lah yang terbilang cuek. Tidak gusar sedikit pun. Emak terlihat terus saja mengelap air matanya yang tak kunjung usai. Sesenggukan. Bapak mengambil handphone, bersihendak mengabari sanak famili nun jauh di kampung. Sama pula dengan adik dan abangku, sudah langsung mandi, berbusana dan berpeci kemudian menggilir pesan kematian itu ke tetangga-tetangga terdekat.

Mereka sibuk. Nyaris melupakan sarapan pagi saya, yang umumnya, sudah harus terhidang di meja makan. Adik saya yang perempuan juga bergegas. Menjemur pakaian, menyapu ruang depan hingga menyetrika jilbab yang hendak dipakai.

Lagi-lagi saya tetap mengacungkan tampang cuek. Saya malah asyik menyemir sepatu. Mengemasi buku-buku dalam tas kemudian menyalakan televisi.

Itulah !

Entah mengapa saya tidak merasa penting dengan berita kematian itu. Saya tidak merasa itu hal yang ajaib. Karena menurut saya mati dan hidup adalah hal biasa. Orang-orang menangisi jenazah yang sudah tiada adalah hal yang sudah umum. Lalu, apa yang hendak dihebohkan dengan kejadian itu ?

Saya juga merasa bahwa sanak famili yang jauh pasti sudah ada yang mengabari, bilal mayit, penggali kubur serta Wak Dullah, pemuka agama di desaku yang biasa mengumumkan berita kematian di Toa Mesjid, pun pasti sebentar lagi akan berkumandang menghalo-halokan perihal berita itu.

Maka sekali lagi, apa sebenarnya yang mesti saya repotkan ?

Sementara tetangga-tetangga, kaum ibu dan bapak, beberapa tampak pula anak muda mulai berduyun menuju rumah almarhumah bukde saya. Mereka berbusana begitu rapi. Ada juga yang bertampang necis. Jilbab penuh kemeriahan. Juga ada yang saya lihat seperti hendak pergi berhari raya saja. Rapi nian. Sungguh, kejadian pagi ini benar-benar mengherankan bagi saya.

Tak lama berselang, mak juga mulai berteriak-teriak, menyuruh adik saya yang perempuan untuk lekas menjerang air, menggoreng telur hingga bermata sapi untuk sarapan pagi ini. Si abang juga disuruh-suruh supaya lekas mengeluarkan sepeda motornya. Cuma saya yang tidak disuruh emak. Mungkin karena emak sungkan.
Karena sepagi itu pasti saya sudah berdandan rapi, kemeja licin, celana bersih dan sepatu mengkilap ialah tanda bahwa saya telah siap untuk menerjang rezeki. Biasanya, kalau pagi mulai tiba tabiat saya memang begitu. Lekas mandi, berseragam rapi, menyetel tivi seraya menunggu sarapan pagi.

Maka kalau sarapan pagi tak kunjung tiba selanjutnya saya akan pergi sendiri ke pajak pagi untuk membelinya disana. Egois !! Kata adik saya begitu.

Mungkin ada benarnya. Namun, saya memang tidak pernah merasa begitu. Hari-hari saya selalu membuat saya nyaris tidak punya banyak waktu bahkan sering kehilangan waktu. Bukan pada persoalan manajemen waktunya tapi lebih kepada aktifitas yang jumlahnya tidak sebanding. Kadang rencana seabreg yang saya miliki belakangan sering menjelma duri yang teramat tajam. Kadang pula ibarat gua yang menakutkan.

Maka, memikir hari-hari itu jauh lebih menakutkan bagi saya ketimbang mendengar berita kematian pagi ini. Mungkin memang saya tipikal orang yang tak sembarang berkawan, terlalu suka menghabiskan waktu di luar, tidak terlalu peduli ke sanak famili hingga membuat saya tidak merasa begitu dekat dengan mereka.

Tidak hanya itu, jauh sebelum-sebelumnya ketika banyak teman-teman SD saya yang sudah naik pelaminan kemudian mengundang saya pada resepsinya itu, saya justru sama sekali tidak berhasrat datang ke pesta itu, apalagi arisan-arisan keluarga, acara wiritan tetangga sampai peringatan hari-hari besar islam di mesjid ujung, pun jarang jua saya ikuti.

Saya sama sekali tidak mengerti. Kenapa saya bisa sebegini egois, sebegini cuek. Padahal dulu-dulunya tidaklah saya separah ini. Apa mungkin karena aktifitas kota tengah meleburkan saya pada kegiatan-kegiatan seperti ini ? Mungkinkah saya sudah terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan modern yang membuat saya lupa dengan aktifitas tradisionil, tempat saya dulu dilahirkan ?
Apa juga karena saya terus digilakan dengan semua kecintaan pada hal yang sebenarnya justru (menjauhkan) saya dari nilai-nilai kehidupan ? Atau yang ekstrimnya, apakah saya sudah tidak lagi ingat perihal etika ketuhanan sebagai manusia yang punya hubungan horizontal ?

Oh.., saya benar-benar tidak mengerti !

Tampang-tampang sedih yang muncul pagi ini di rumah sebenarnya adalah simbol bahwa di rumah ini masih menganut jauh tentang apa yang disebut falsafah mati dan hidup. Hal yang kini terlalu sering saya khianati.

Alhasil ketika emak mengusung ide agar hari ini saya di rumah saja, tidak usah masuk kerja dan musti hadir diacara pemakaman almarhumah bukde saya itu, maka sesungguhnya itu permintaan yang teramat sulit bagi saya.

Namun sebagai seorang penulis justru kondisi ini menantang saya. Membuat saya harus mampu menciptakan alur cerita yang baru, adegan-adegan yang fantastis dan ending yang mutakhir dalam tiap cerpen yang kelak saya ciptakan. Hanya saja, yang paling payah saai ini, saya sendirilah tokoh utamanya.

Memang sesekali saya harus belajar mengorbankan semua rencana-rencana yang tadi malam tengah saya susun. Saya juga harus belajar bagaimana masuk dn mencitpakan sebuah cerita dengan dilatari adegan-adegan pemakaman yang nyata, yang itulah sebentar lagi akan saya kunjungi.

**

Benar dugaan saya !

Saat saya dalam suasana kematian yang hening itu, isak tangis kaum pentakziah pelan-pelan menjadi alunan keroncong tanpa nada begitu sepi, wajah-wajah lengang yang membatu, doa dan ayat-ayat yang diterbangkan, serta kain kafan, tempat pemandian dan keranda yang tengah dipersiapkan setidaknya menghipnotis saya untuk tidak bisa banyak bicara.

Saya benar-benar lupa dengan pekerjaan di kantor, saya sudah tidak ingat tentang janji dengan para peserta “workshop menulis” yang saya gelar beberapa hari lalu, saya sama sekali khusyuk dalam riuh aroma daun pandan dan kapur barus yang berkali-kali ditaburkan si bilal ke dalam tempayan tempat pemandian si mayit.

Tapi herannya, justru semakin saya khusyuk, semakin terasa bahwa dada saya berdenyut sesak. Tidak tau mengapa. Saya mencoba menukik ke dalam hati, benak dan emosi saya. Menemukan suatu yang membuat saya tidak habis pikir. Kenapa saya tidak kunjung sedih ? Kenapa saya tetap merasa ini biasa-biasa saja? Dan menangis, tetap saya rasakan sebagai sebuah ketololan saat itu.

Isak tangis terus menghilir dari pipi anak-anak alamarhumah bukde saya itu. Bahkan anaknya yang perempuan hingga siang itu saya hadir, tidak kunjung bangun dari pingsannya. Sementara saya tetap cuek-cuek saja. Tidak ada perasaan apapun !

Saya terus mencari dari kejadian hari ini yang bisa saya kutip pelajaran, ide, pemaknaan, pengetahuan dan rasa kemanusiaan untuk kemudian terjadi internalisasi dalam diri dan segenap tulisan-tulisan saya. Tapi, lagi-lagi saya tidak lihai menemukan itu.

Dalam keadaan yang cukup kikuk, saya masih saja sendirian. Berharap aliran cerita berubah wujud menjadi kisah yang bisa saya tulis sepulang nanti. Namun tetap saja saya terus dikepung bingung, bingung hendak melakukan apa.

Begitupun takut salah bicara. Apalagi memang tidak ada bahan pembicaraan yang bisa saya ungkapkan pada orang-orang di sekitar saya. Saya juga tidak mau terlihat sok sibuk, sok pura-pura membantu. Seperti mengangkat kursi-lah, membentang tenda, memasang kabel microphone atau mengatur parkir-lah. Karena saya tau, itu semua sudah dikerjakan.

Palingan, yang bisa saya lakukan waktu itu yakni mendekati Dian, anak almarhumah bukde saya yang paling besar. Wajahnya sangat kecut. Beberapa kali matanya terus melinangkan air. Sedu-sedannya jelas terlihat. Sebenarnya saya sangat ingin merangkul pundaknya seraya mengatakan, Sabar, ya ! Allah tau yang terbaik buat hambanya. Namun, kata-kata itu juga tidak berani saya ucapkan. Saya hanya diam saja.

Berselang kemudian, Dian beranjak. Kursi di sebelah saya kini kosong. Dari kejauhan bapak saya yang sedari pagi sudah berada di rumah duka ini kini duduk di bangku itu tepat di sebelah saya. Padah kalau bapak tidak mengarah ke bangku ini, saya sudah berniat ingin pulang saja.

“Kapan dikebumikan, Pak ?” Tanya saya

“Berharapnya sih sebelum zhuhur. Tapi sepertinya bakal dikebumikan setelah zhuhur juga,” jawab bapak saya sederhana. “Masih di sini kan sampai selesai ?” Tanya bapak saya kemudian.

“Kenapa, Pak ? Apa masih banyak yang harus dikerjakan ?”

“Bukan ! Tadi pakdemu cerita sama Bapak kalau di rumah ini anak-anaknya, termasuk si Dian tidak ada yang bisa menyolatkan bukdemu itu. Bapak rencananya nyuruh kamu. Bisa kan ? Jadi jangan pulang dulu, ya !” Kata bapak dengan suara pelan.

“Aduh !!”

Seketika saya terkejut bukan main. Tapi biarlah, kini sepertinya ide tulisan saya sudah ketemu.


Medan, 27 Mei 2009

Sabtu, 20 Juni 2009

"Tempe Azzam"

Oleh :Winarti (Win R.G.)

Bulan Juni ini adalah bulan "demam KCB". Anda tentu tahu apa itu KCB. Ya, Ketika Cinta Bertasbih. Sebuah film produksi anak negeri. Sejak munculnya film "Ada Apa dengan Cinta", maka muncullah kebangkitan produksi film di Indonesia setelah sekian lama tidur.

Secara pribadi saya menyukai film ini, termasuk ibu dan adik saya yang saya boyong untuk ikutan hobi saya, nonton! Saat ibu saya ajak, beliau memandang saya lama namun pandangannya itu tampak kabur, tak lama kemudian beliau berkata, "Terakhir kali mamak nonton nang bioskop sama bapakmu pas ngidam kakang Antomu." Oh...ternyata ibu mengenang memori terakhir kali di bioskop. Wah, itu kan 30 tahun yang lalu. Sehingga saat saya ajak beliau tersenyum-senyum. Aha, saya tahulah apa maksud ibu.Mau!

Saat nonton saya perhatikan ibu begitu sangat menikmati layar lebar di hadapannya. Saya gembira jika ibu bahagia seperti saat itu meskipun sebenarnya di pikirannya ada bermacam-macam beban yang ia pikul, sendiri.

Begitu selesai nonton, ibu mengatakan beliau menyukai Azzam. Pria dewasa yang 9 tahun tak tamat-tamat kuliah di Kairo, diakui ibu sebagai pria yang santun, baik, menghargai perempuan, bertanggungjawab, dan sayang pada keluarga. Yang lebih unik lagi besok paginya saat saya menggoreng tempe ibu mengatakan bahwa tempe itu adalah tempe Azzam. Ha ha ha . Ibu ada-ada saja.

Saya pun penasaran dengan manfaat yang dikandung tempe. Anda juga kan? nah, maka kali ini saya akan berbagi.

Tempe ternyata mengandung banyak protein yang dapat mengatasi diare, kaya zat besi yang dapat menurunkan tekanan darah, Superoksida Desmutasenya dapat mencegah jantung, penanggulangan anemia, anti infeksi, menurunkan kadar kolesterol, menolak kanker, mencegah hipertensi, dan mencegah kerapuhan tulang (osteoporosis).

Wah, subhanallah ya. Hanya dengan membeli sebungkus tempe yang seharga Rp. 1000,00 kita bisa sehat. Hm...tampaknya tak salahlah jika saya menamakan tempe adalah "makanan orang kampung yang modern". Anda setuju?

Kututup obrolan ibu dengan, "Ibu mau punya mantu kayak Azzam?"
Tak perlu saya ceritakan jawaban ibu karena Anda sudah tahu jawabannya. ^_^
Tapi buat saya "Mas Arulku" juga ngga kalah hebat. So, tunggu Mas Arulku di bulan Oktober. Insya Allah.

Kamis, 18 Juni 2009

KORAN KOMPAS

Kekerasan pada Anak Lebih Banyak di Rumah

Senin, 13 Oktober 2008

MALANG, SENIN - Sekitar 70 persen kekerasan terhadap anak terjadi di rumah. Demikian disampaikan dr Heru P Kasidi MSc, Asisten Deputi Urusan Pendidikan dan Kesehatan Anak Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, Senin (13/10) di Malang, Jawa Timur.

Hal tersebut diungkapkan dalam seminar program perlindungan bagi anak Indonesia yang diselenggarakan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (BPMKB) Kota Malang di Hotel Gajah Mada, Kota Malang.

"Sebanyak 70 persen kekerasan terjadi di rumah. Bisa kekerasan fisik atau kekerasan psikis yang terkadang tidak disadari pelakunya," ujar Heru.

Bentuk kekerasan yang mungkin terjadi pada anak adalah perilaku menghalangi anak mendapatkan hak-hak dasarnya berupa hak bertahan hidup (gizi yang layak, layanan kesehatan, dan sebagainya), hak untuk bertumbuh dan berkembang (mendapat pendidikan yang layak, bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk bermain, dan sebagainya), hak perlindungan (terlindungi dari semua kekerasan fisik), dan hak partisipasi (turut andil menyumbang pendapat dalam keluarga).

Pelaku kekerasan pada anak ini bisa saja orang tua, saudara, atau kerabat lainnya.

"Kadang kala orang tua tidak sadar bahwa dengan membatasi waktu bermain anak dan hanya menyibukkan mereka dengan kegiatan belajar, merupakan salah satu bentuk kekerasan pada anak. Padahal itu salah satu bentuk kekerasan pada anak yang jarang kita sadari," ujar Heru.

Data tahun 2006, Heru menyebutkan bahwa ada 2,8 juta kasus kekerasan pada anak. Kekerasan itu selain terjadi di rumah, juga berasal dari media massa seperti surat kabar, dari lingkungan sekitar, dan sebagainya.

Winartiningsih, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Usaha Ekonomi BPMKB Kota Malang menuturkan bahwa dengan seminar itu, warga Kota Malang diharapkan mendapat pengetahuan dan informasi agar bisa memperjuangkan kesejahteraan dan perlindungan anak.

"Tanpa sadar banyak masyarakat yang tidak tahu apa itu kekerasan terhadap anak. Dengan informasi ini diharapkan tujuan mewujudkan Kota Malang sebagai kota layak anak bisa terpenuhi," ujar Winartinisngsih.

Asih Tri Rachmi, Kepala Bidang Kesehatan Keluarga dan Masyarakat (Kesgamas) Dinas Kesehatan Kota Malang mengatakan bahwa salah satu upaya Kota Malang mewujudkan kota layak anak dimulai dengan menjadikan Puskesmas Arjuno sebagai salah satu puskesmas yang memantau tumbuh kembang anak.

Kota Malang bekerjasama dengan Universitas Brawijaya melalui program pendidikan dokter spesialis (PPDS)-nya agar mereka berbagi informasi dan ilmu dengan masyarakat di puskesmas Arjuno. "Orangtua bisa mengontrol tumbuh kembang anaknya secara fisik dan psikis di sana. Tidak saja hanya pada saat sang anak sakit, namun juga saat-saat biasa," ujar Asih.

http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/13/17524094/kekerasan.pada.anak.lebih.banyak.di.rumah.


KOMENTAR DAN ULASAN

Oleh: Fitri Amaliyah Batubara

Seperti yang diungkapkan dalam surat kabar Kompas bahwa bentuk kekerasan yang mungkin terjadi pada anak adalah perilaku menghalangi anak mendapatkan hak-hak dasarnya berupa hak bertahan hidup (gizi yang layak, layanan kesehatan, dan sebagainya), hak untuk bertumbuh dan berkembang (mendapat pendidikan yang layak, bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk bermain, dan sebagainya), hak perlindungan (terlindungi dari semua kekerasan fisik), dan hak partisipasi (turut andil menyumbang pendapat dalam keluarga).

Dari semua bentuk kekerasan tersebut, anak lebih banyak mendapatkan perlakuan kekerasan dalam rumah mereka. Fakta yang ada menunjukkan bahwa ternyata anak di dalam keluarga mereka tidak mendapatkan giji yang layak, layanan kesehatan yang baik, pendidikan yang layak, kebebasan untuk bermain, perlindungan fisik dan kebebasan untuk berperan secara maksimal di tengah-tengah keluarga.

Orang tua terhadap anak mereka memiliki tugas dan kewajiban yang secara gamblang dapat disimak dalam Firman Allah SWT, Sabda Rasulullah SAW, Deklarasi PBB tentang Hak Anak-anak serta beberapa undang-undang yang mengaturnya. (Soemarjo, 171:951).

Firman Firman AllahSWT tersebut adalah

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakunya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar dan yang keras; yang tidak mendurhakakan Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim:6)

Kekerasan anak memang lebih banyak terjadi di rumah jika dibandingkan di sekolah. Di sekolah, anak hanya berada selama beberapa jam saja dan di rumahlah anak lebih banyak menghabiskan waktunya.

Awal Januari 2006 masyarakat dikejutkan kejadian tragis di Serpong, Tangerang. Indah (3 tahun) dan Lintar (1 tahun) dibakar oleh Yeni, ibu kandung mereka yang mengaku kesal karena tekanan ekonomi dan kebiasaan suaminya mabuk-mabukkan. Setelah dirawat sembilan hari, Indah meninggal sedangkan Lintar membaik dan sudah pulang dari rumah sakit. (Kompas edisi Selasa tanggal 24 Januari 2006). Peristiwa ini hanya sebagian kecil saja yang menunjukkan bahwa kekerasan pada anak memang lebih banyak terjadi di rumah.

Menurut WHO, kekerasan adalah penggunaan secara sengaja kekuatan fisik atau kekuatan, ancaman atau kekerasan aktual terhadap diri sendiri, orang lain, atau terhadap kelompok atau komunitas, yang berakibat luka atau kemungkinan besar bisa melukai, mematikan, membahayakan psikis, pertumbuhan yang tidak normal atau kerugian. (Kusworo, Danu. 2006 : 1)

Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa kekerasan tidak hanya melibatkan fisik tetapi juga psikis seseorang. Begitupun seorang anak yang kenyataannya hanyalah seseorang yang tidak bersalah dan belum memahami banyak hal.

Melihat fenomena yang terjadi bahwa kekerasan terhadap anak kebanyakan terjadi di dalam rumah, maka sudah sepantasnya para orang tua berusaha merubah fenomena tersebut dan paradigma berpikir masyrakat. Orang tua harus berusaha menjadikan rumah sebagai tempat yang menyenangkan bagi anak mereka.