KITA DAN KATA
By: Fitri Amaliyah Batubara
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. As-Shaf: 3)
”dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?” (Q.S. As-Syu’araa’: 226)
Tak terhitung berapa banyak kata yang telah terucap dari mulut kita semenjak terlahir ke dunia hingga sekarang, sengaja atau tidak. Mampukah kita untuk menghitungnya? Begitupun untuk mengingat setiap kata yang pernah lahir dari lisan kita, mampukah kita? Luar biasa, jika setiap orang mampu untuk itu. Bagaimana dengan yang tidak mampu? Memang setiap orang tidak ada yang mampu untuk mengingat segala perkataan yang pernah ia ucapkan semenjak lahir. Entah Anda???
Mungkin hanya sekelumit peristiwa dan perkataan yang tetap on di memori kita, selebihnya tersembunyi entah dimana. Tak perlu pusing untuk memaksakan diri mengingat semua yang pernah kita katakan di masa lalu kepada Allah, kepada diri sendiri dan kepada orang lain, sebab lupa adalah sifat manusia. Namun, jangan pernah dengan sengaja melupakan setiap hal yang pernah terucap dari lisan kita sebab bisa fatal akibatnya, apalagi kalau itu berbau janji. Toh, lupa juga ada obatnya kalau kita mau, seperti meningkatkan dzikir kepada Allah atau seperti yang terdapat dalam ilmu Psikologi, yang salah satunya adalah menggunakan Memonic Device (muslihat memori).
“…(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.”(Q.S.Ali-Imran: 76)
“…dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (Q.S. An-Nur:15)
Hati-Hati dengan Kata
“Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang,” (Q.S. Thaahaa: 130)
Lidah memang tidak bertulang, begitu katanya. Terkadang kita lupa bahwa mulut adalah harimau bagi kita sendiri. Tak sadar kalau baru saja kata yang terucap telah menyisakan luka di ketulusan hati orang tua, sahabat kita dan entah siapa lagi. Tak juga paham kalau seminggu yang lalu kita telah membungkus kata menjadi sebuah janji pada teman kita, dan kemarin hingga sekarang ia masih menunggu janji itu.
Maka berhati-hatilah dengan kata. Begitupun ketika dipuji orang lain, kata seperti madu manis dan hembusan angin yang membuat kita terlena dan terbuai. Ketika hati tersakiti karena ucapan, kata menjadi api yang menyala-nyala di hati kita bahkan seperti pisau yang mencabik-cabik tanpa belas kasihan.
Kata-kata pun menyimpan beribu-ribu misteri. Buat saya misteri kata-kata itu ada yan berwarna hitam dan ada yang berwarna putih. Berwarna putih ketika kata-kata itu mampu mengantar setiap orang kepada kebaikan. Nasihat, motivasi, dan renungan adalah jelmaan dari kata-kata yang memiliki misteri berwarna putih. Lalu, berwarna hitam ketika kata-kata itu bisa membuat setiap orang tersakiti, putus asa dan jauh dariNya. Selagi nyawa masih akrab dengan jasad, berlomba-lombalah untuk menguak misteri putih kata-kata kepada siapa saja termasuk pada diri sendiri.
“…Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(Q.S.Al-Baqarah: 148)
Bercermin pada Kata
Kata adalah cermin bagi setiap orang. Akan berbeda apa yang selalu dikatakan oleh orang yang tak luput dari mengingat Allah dengan orang yang terbiasa dengan kemungkaran dan jauh dari Allah. Dalam kehidupan sehari-hari pun, ini menjadi semakin nyata. Misalnya saja ketika akan berencana untuk melakukan sesuatu, orang yang beriman akan mengatakan Insya Allah untuk setiap rencana dan janjinya. Tapi orang yang jauh dari Allah, dengan mudah akan mengatakan “ya”, “ok” dan “bisa” tapi “tidak” untuk dilaksanakan.
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi. Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”[879]. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”. (Q.S.Al-Kahfi: 23-24)
Ketika bercermin pada kata, semoga tak ada kita jumpai kekusaman dan kekeruhan. Kalaupun ada, kita pasti bisa untuk mensucikan cermin kata itu dengan niat tulus untuk selalu berbuat kebaikan, watawassawbilhaq watawassawbissabri.
Tak peduli apakah selama ini kita termasuk orang-orang yang begitu dekat atau termasuk orang-orang yang sangat jauh dariNya, kita berpotensi untuk akrab dengan lisan yang baik dan buruk. Keimanan seseorang hanya Allah yang mengaturnya dan menjaminnya tapi kita juga dituntut untuk berusaha memiliki keimanan yang mantap dan bisa mempertahankannya. Paling tidak dengan kata, kita bisa menjadi orang-orang yang menghuni surganya. Sekali lagi, kata kita adalah cerminan kita. So, jangan buat cermin kata itu keruh dan tidak bisa untuk dibersihkan lagi.
“ Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.” (Q.S. Al-Qamar: 52)
(ketika aku bercermin pada kata: 100109)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar