Oleh : Win R.G. (Winarti, S.Pd)
Jujur aja, aku enggak pernah pusing mikiri jerawat seperti layaknya wanita-wanita lain yang jungkir balik kalau jerawatan. Perawatan wajah intensiflah, make up harus hati-hatilah, makan ini itu enggak bolehlah. Walah-walah! Biasa ajalah!
Aku bener-bener santai aja, enggak ada aturan sama sekali. Tapi…
“Ibu…” seorang bocah berusia sekitar 6 tahun menyapaku saat aku dan dia berjalan beriringan menuju ruang makan di bagian belakang sekolah, dekat klinik Mitra Bunda. Dia menatapku begitu sangat serius. Aku tak pernah melihatnya sebelum ini. Mungkin dia murid kelas 1-A. Karena aku tak pernah masuk ke kelas 1-A sebagai asisten.
“Ya, Sayang. Ada apa?” balasku ramah sambil mensejajarkan posisi badanku dekat dengan badannya.
“Yang di wajah ibu itu … namanya cacar air ya?” what?! Jerawatku disamain dengan cacar air? Padahal kan cacar air itu lebih jelek daripada jerawat, berarti menurut dia… Oh tidak!!!
Sabar, sabar. Dengan tenang kujawab.
“Bukan, Sayang, ini namanya jerawat bukan cacar air”
“Oh…” responnya, masih terus menatap wajahku dengan serius, serius, dan serius!!!
Ya ampun, kenapa bisa anak selugu itu memerhatikan wajahku dan menyamakannya dengan jerawat. Apakah sejelek itu wajahku?
Respon yang hampir sama aku dapatkan juga dari rekan kerjaku,
“Kak Win, kakak cacar air ya?”
“Kok bisa bilang gitu?”
“Eh jerawat ya? Maaf ya. Wana sebelumnya enggak pernah lihat kakak jerawatan. Maaf ya?” ujarnya dengan penuh permohonan maaf.
Atau komentar ini…
“Neng geulis ini kok sekarang jerawatan? Biasanya wajahnya mulus aja.”tanya bu haja dan Bu Lela, rekan kerjaku yang senior di Shafiyyatul Amaliyyah.
“Aku tahu siapa yang berikutnya menikah!” ujar PKS II saat para guru lagi nimbrung di jam istirahat.
“Siapa?” tanya yang lain
“Ini, si Winarto” aku tercengang. Seluruh guru menatap ke arahku.
“Jangan gitu pak, bisa jadi fitnah.” balasku
“Halah, itu buktinya jerawatan gitu. Ya kan Winarto?”
“Ya sudah, doakan saja.” ujarku padanya. Tuh orang ya kayak gitu, selalu saja panggil aku Winarto.
“Win, kok jerawatan sih sekarang?” tanya Kak Suryani, pengelola My Zakat
“Mbak Win, kok jerawatan sih?”tanya Mbak Ratna, anggota FLP Sumut yang noveletnya Loving Twice baru diterbitin.
“Ih, kakak jelek deh kalau jerawatan!”komentar Tono adikku
“Kok elek ngunu raimu saiki? (Kok jelek gitu wajahmu sekarang?)” tanya ibuku saat datang ke Medan
“Bu Win, diam aja jangan bergerak-gerak. Farah keker jerawat ibu.” Perintah Farah Amalia, muridku di kelas III-B sambil gulung selembar kertas putih lalu dikekerkannya padaku.
Oh tidak…!!!
Kenapa enggak ada yang paham sih dengan adanya jerawatku ini? Kenapa banyak yang usil?
Nih jerawat bukan sembarang jerawat, tauk. Kalau SMP dulu aku jerawatan karena suka dengan seseorang, kuliah juga jerawatan karena stress mikiri skripsi, nah jerawat yang sekarang ini karena aku stress mikiri…profesi!!!
Enggak percaya? Nih aku kasih tahu ya hasil dari beberapa sumber yang aku dapat mengenai penyebab jerawat: stress, keturunan dari orangtua, aktivitas hormon, kalenjer minyak yang hiperaktif, bakteri di pori-pori kulit, iritasi kulit karena garukan, anabolic steroid, pil KB, juga dipengaruhi oleh faktor pekerjaan, pendidikan, dan pola hidup.
Nah lho. Bener kan? Jerawatku karena faktor pekerjaan.
Itulah dilema jerawatku. Terserah deh orang mau bilang apa. Seharusnya mereka bersyukur karena jerawat ini nongkrong di wajahku, coba kalau nongkrong di wajah mereka. Hayo!
Tapi setidaknya aku berterima kasih pada mereka atas respon-responnya. Itu menandakan bahwa semuanya sayang dan sangat memerhatikanku.
“Rani yakin, saat kakak menikah nanti jerawat kakak pasti hilang”
“Kok gitu?”tanyaku serius pada Rani, rekan kerjaku saat makan siang
“Jerawat itu tumbuh karena adanya hormon yang berkembang namun tidak tersalurkan. Jadi ketika kakak menikah tentu saja hormon-hormon itu berkembang secara normal.”
Pusing aku! Benarnya itu? Jadi aku harus nikah untuk menghilangkan jerawat-jerawatku ini? Hm, pendapat dia barusan sama dengan hasil browsingku mengenai jerawat yang miskonsepsi bahwa masih ada mitos umum di masyarakat yang menyatakan tumbuhnya jerawat karena masturbasi dan tidak menikah.
Tauk, ah. Gelap!
Memang aku akui sekarang aku jerawatan, banyak! Tapi kita lihat saja nanti wajahku akan cantik lagi. Apakah aku kan berbagi tips menghilangkan jerawat dan mengembalikan kecantikan? He, tak usah ya!
ёёёёё
Minggu, 05 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mbaaaaaaak Win, nasib qt sama ya, Jerawatan hehey, respon orang gimana gtu liat muka qt yg biasanya mulus eh skrg jerawatan, "kok jerawatan sih, nurul sakit ya? bla...bla, memang nurul hargai la kwn2 yg dah mw perhatian tp gk usah lebay gt napa yak?
BalasHapushiks :(