Minggu, 26 April 2009

Pengorbanan (Tahdiyah)

Oleh : Win R.G (Winarti)

Hidup adalah perjuangan, hidup adalah bergerak, hidup adalah pilihan, hidup juga pengorbanan.

Ibarat tumbuhan, dia akan dikatakan hidup jika dia tetap bergerak dan terus tumbuh menjadi besar dan ada perubahan pada bentuk fisiknya sehingga menghasilkan bunga ataupun buah. Begitu juga dengan manusia, untuk mencapai mimpi, cita-cita, kemenangan, kemakmuran, ambisi, semuanya membutuhkan pengorbanan.

Banyak contoh teladan dari orang-orang yang dapat kita tiru mengenai pengorbanan mereka untuk mencapai sesuatu. Rasulullah berani mengorbankan jiwa dan raganya demi kejayaan Islam, diancam, diludahi, dilempar dengan kotoran, dimusuhi, bahkan akan dibunuh.

Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah, juga dengan rela mengorbankan harta bendanya demi Islam. Abu Bakar siap menempuh semua bahaya pada saat hijrah untuk melindungi Rasulullah. Abu Ubaidah tidak tidur malam di tengah tentaranya yang nyenyak tidur. Pada musim paceklik, Umar hanya bisa membolak-balikkan badan karena lapar karena seluruh makanan miliknya ia bagikan kepada rakyatnya. Abu Thalhah menjadikan dirinya sebagai tameng pada saat perang uhud untuk melindungi Rasulullah dari gempuran anak panah.

Semua itu secuil pengorbanan yang pernah mereka lakukan untuk kehidupan yang lebih baik. Siapa yang banyak berkorban, dia akan merasakan manisnya pengorbanannya. Ia akan tersenyum bahagia menikmati segalanya walau mungkin itu pahit buat orang lain.

Untuk sukses butuh pengorbanan lebih. Jangan mau jadi manusia yang biasa-biasa saja karena yang biasa-biasa akan mendapatkan hal yang juga biasa saja. Jadilah manusia yang luar biasa seperti Rasulullah, Siti Khadijah, Umar, dan sahabat-sahabat lainnya. Lihatlah hasilnya, ternyata mereka mendapatkan hal yang luar biasa. Nama yang dikenang sepanjang zaman dan tentunya surga dari yang Maha Terindah.Terbukti bukan, ternyata "buah" ataupun "bunga" pengorbanan itu benar-benar ada.

Harimau mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gadingnya, manusia mati meninggalkan namanya. Jika kita ingin nama kita harum ketika meninggalkan dunia nanti, maka perbanyaklah berbuat baik dan jadilah manusia yang bermanfaat.Salah satu hal menuju ke sana adalah dengan "berkorban".

Ikhlaskah kita berkorban dengan hal yang kita punya? Tinggalkan titik kenyamanan kita saat ini untuk hidup yang lebih baik kecuali kita tetap ingin jadi manusia yang biasa-biasa saja!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar