Oleh : Win R.G. (Winarti)
Perempuan tua belum layu
masih tangguh bersepeda di jalan raya
sedikit klausa perbanyak makna
ribuan nyeri ditaklukkan
untuk pertahankan senyuman
Kala gelap memeluk petang dengan mesra
alam terang permisi pulang
makhluk sang Maha telah kembali
namun perempuan tua tetap tak bersama lelaki
masih bersarung
masih harum meski dibalut lumpur
(Ngawi, akhir Desember 2008)
Itulah kado dari saya untuk hari Kartini esok hari. Sebuah puisi sederhana untuk para perempuan Indonesia. Mengapa harus Ngawi? Saya benar-benar terinspirasi ketika berada di Ngawi saat melintasi Jawa dan Bali di akhir tahun 2008 lalu.Sepanjang Ngawi, saya menemukan banyak perempuan yang bersepeda ria di jalan lintas, mereka bersarung dan memakai pakaian berladang, tak lupa membalut kepala mereka dengan kain panjang ataupun sarung. Persis ibu saya jika berangkat dan pulang dari sawah.
Para perempuan Ngawi itu bergerombol, tak ada pria di sana. Mereka tertawa, bahagia. Meski mungkin ada beban di pundak mereka tentang masa depan anak-anaknya.Tapi mereka tetap tertawa lepas bersama untaian angin sawah yang menyapa.Kulihat kaki-kaki itu, bertelanjang. Tak ada sandal di sana. Kaki yang tampak lesuh tapi kokoh dan tentunya ada surga di kaki-kaki itu.
Jujur, pada saat itu saya langsung ingat ibu saya. Ada kerinduan yang mendalam. Jika seandainya ibu ada di Ngawi, bisa menginjakkan kaki di tanah Jawa sebagai tempat aslinya, alangkah sangat bahagianya ia. Tapi lagi-lagi pasti dengan lugu ibu akan mengatakan, "Jika pun tetap kowe paksa, emoh ah. Takut naik pesawat."
Dunia, besok hari Kartini. Semoga akan tetap lahir Kartini-Kartini abadi sepanjang jagad raya nusantara Indonesia.Kartini yang berkarir sekaligus Kartini yang tak lupa "membajak" dapur, kamar, dan sumur.
Ya, itu pesan Kartini saya. Ibu.
Senin, 20 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar