"Three Time A Lady"
Oleh : Win R.G. (Winarti)
Anda penyuka acara Mario Teguh Golden Ways? saya juga sangat menyukai acara ini. Hanya orang-orang yang tak mau lebih baik sajalah yang tak menyukai acara yang setiap Minggu malam ini disiarkan di Metro TV ini. Sebuah acara yang bukan hanya membuka panca indera kita, melainkan juga membuka hati dan pikiran kita betapa ada banyak hal dalam hidup ini yang harus dibenah.
Jika Anda mengikuti acara Mario Teguh pada tanggal 12 April 2009, pasti tak asing dengan judul "Three Times A Lady" (tiga waktu seorang perempuan)-hm, biar saja Pak Mario mengatakan tiga waktu seorang wanita, tapi saya tetap akan menulis tiga waktu seorang perempuan karena nilai rasanya lebih tinggi-. Berbicara mengenai perempuan mungkin yang hadir di benak kita terlebih dahulu adalah sosok ibu kita. Banyak suami hebat dan anak-anak yang hebat lahir atau dicintai serta dibimbing oleh perempuan. Meski mereka -para perempuan- berdiri di samping kita ataupun hanya sekedar berdiri di belakang, tapi tetap saja kehadiran mereka begitu sangat luar biasa.
"Three Times A Lady" yang dimaksud di acara Mario Teguh Golden Ways adalah perempuan sebagai kekasih, sahabat, dan ibu. Bolehlah kiranya di kesempatan ini saya memberikan fakta bahwa fungsi three times ini benar adanya. Fakta yang akan saya hantarkan adalah tentang ibu saya.
Fungsinya sebagai kekasih, tentu saja kekasih untuk bapak saya. Ibu tetap ada di saat bapak marah, sakit, sedih, bahkan hancur. Keluarga bapak adalah orang-orang yang berwatak keras. Semua keras! Saat menikah dengan ibu dan telah 30 tahun lebih ini membina rumah tangga bapak memang masih kejam, namun ternyata kekejamannya tak menurun pada kedelapan anak-anaknya. Semua anak ibu dan bapak lebih cenderung lembut mengikuti watak ibu yang sangat pengasih.
Fungsinya sebagai sahabat. Dulu saya punya sahabat, tapi saya tak percaya lagi padanya sejak ia menghianati saya. Saya terus mencari sahabat sejati di hidup ini. Sejak mengikuti acara Mario Teguh Golden Ways barulah saya sadar bahwa sahabat tak mengenal usia dan tak mengenal jarak. Sahabat saya ternyata ada di dekat saya. Dialah ibu. Sahabat saya yang selalu memberi banyak omelan saat saya sakit, meluruskan asa yang pernah patah, membototi berbagai bekal saat akan pulang kembali ke Medan, tentu saja sahabat yang memberi pelukan dan ciuman saat berpisah dan menyambut telepon dengan hangat, tapi sekaligus sahabat yang paling cerewet untuk persoalan pasangan hidup.
Fungsinya sebagai ibu. Ah, untuk soal satu ini tak usah ditanya. Sangat sempurna!
Bagaimana dengan "Three Times A Lady" Anda? Hm,pastilah punya cerita berbeda. Yang pasti berbanggalah kita terlahir sebagai perempuan.Tentu saja, kita juga diamanahkan untuk menjadi perempuan yang luar biasa.
Senin, 13 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar