Minggu, 22 Maret 2009


Hanya Satu yang Tahu dan Mau
Oleh: Fitri Amaliyah Batubara

Sebatang pohon besar tumbang di jalan raya. Jalan yang selalu mereka lewati setiap harinya. Mereka yang pejabat, polisi, tokoh masyarakat sampai orang biasa yang selalu menaiki bus. Jalanan menjadi begitu macet, hingga tak ada ruang untuk bergerak. Namun, mereka saling menyalahkan, saling menunggu dan saling menanyakan “kenapa bisa begini?”. Tak ada yang tergerak hatinya apalagi fisiknya untuk mencari solusi terhadap masalah sepele seperti itu.
Tetap tak ada seorang pun yang menemukan solusinya sampai hujan turun dengan derasnya. Tapi, dari sebuah bus dibelakang sana ada seorang anak yang sejak awal memperhatikan masalah ini dan memperhatikan sikap setiap orang yang ada di tempat itu. Dia pun turun dan memandangi pohon itu sejenak di tengah derasnya hujan itu. Ia menangis. Spontan, ia pun berlari menuju pohon besar itu. Bukan main, ia berusaha mengangkat pohon itu sendiri agar setiap orang tak lagi saling menyalahkan, saling menunggu dan saling menanyakan “kenapa bisa begini?”.
Tanpa ia sadari, setiap orang memandangnya dan seolah-olah tak percaya dengan apa yang anak itu lakukan. Seketika, ia disusul oleh kekuatan anak kecil lainnya. Mereka senyum satu sama lain, seakan percaya kalau pohon besar itu bisa terangkat dengan kekuatan tangan-tangan kecil mereka. Tapi, keyakinan itu memang benar terjadi. Aura polos mereka mendorong hati setiap orang dewasa yang melihatnya untuk segera membantu mereka.
Hujan perlahan berhenti dan matahari pun mulai menampakkan dirinya. Pohon besar itu tak lagi berada di tengah jalan itu. Setiap orang tersenyum dan membanggakan anak itu. Senyum itu hanya untuk kepolosan dan kehebatan anak kecil itu. Bukan untuk siapa-siapa. (Andai sejuta anak terlahir dengan kehebatan itu!). Semoga.



(Kisah ini adalah sepenggal cerita dari sepotong film India. Saya ceritakan kembali setelah menyaksikannya di Hotel Madani Medan. Semoga Bermanfaat!)

88embun.pagi@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar