Minggu, 15 Maret 2009

Ternyata Takdir pun Bisa Diubah

Oleh : Sukma

Berbicara perihal takdir ibarat membicarakan hal yang ghaib. Namun keghaiban itu bukan berarti tidak bisa diilmiahkan. Takdir memang tidak dapat diperdebatkan hanya dengan bermodalkan percaya atau tidak percaya belaka. Melainkan konsistensi takdir yang datang manakala tidak kita inginkan, atau sama sekali kita harapkan, itulah ciri khas dari takdir tersebut.

Sebagai kaum yang beriman kepada Allah maka sudah sepatutnya kita sepenuhnya percaya kepada takdir. Karena selain merupakan bagian dari rukun iman yang enam, tentang hal ini Al-qur`an juga telah menjelaskan dalam Surat An-Nisa ayat 136 yang berbunyi,” Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya”

Walau tidak nyata dalam perwujudan dimana letak takdir itu diposisikan. Namun yang jelas kita tidak perlu risau akan kehadiran takdir yang secara parsial akan sulit untuk didefinisikan.

Keparsialan takdir itu hanya akan meliputi sisi terluar dari pemaknaan terhadap takdir itu sendiri. Inilah yang kemudian mengarahkan kita titik kekeliruan dalam pemaknaan takdir secara utuh.

Takdir berasal dari kata qadr, yakni kadar, ukuran atau batas. Semua alam semestar ini beraktivitas berdasarkan takdir (batas) yang telah dikendaki oleh Allah swt.
Burung-burung terbang berdasarkan takdirnya dan ikan-ikan berenang berdasarkan takdirnya. Manusia pula diciptakan Allah berdasarkan takdirnya, sehingga tidak bisa terbang liar seperti burung atau berenang bebas seperti ikan.

Dia yang menciptakan segala sesuatu, Dia pula yang menetapkan atasnya takdir yang sesempurn-sempurnanya (QS.25:2)

Itulah, dari yang kecil hingga yang besar, ada takdir yang ditetapkan Tuhan atasnya (lihat QS 65:3). Sehingga dari semua itu, apa-apa yang telah Allah ciptakan, terdapatlah kemungkinan takdir yang tengah digariskan padanya.

Tenaga Allah, Tangan Manusia

KH. Ridwan Hamid dalam sebuah ceramahnya pernah menyampaikan bahwa jikalau semua pekerjaan manusia ini adalah pekerjaan Allah maka sesungguhnya tiada makna antara dosa dan pahala.

Beliau juga menjelaskan bahwa takdir yang digariskan Allah pada tiap hambanya kerap dipulangkan kembali pada hamba tersebut. Ini berarti penggunaan atas takdir yang diberikan senantiasa menuntun manusia untuk memaknai ketuhanan Allah sebagai sang pencipta.

Takdir memang tidak lepas dari baik dan buruk. Orang yang terkena banjir bisa jadi karena takdirnya dari Allah. Namun apakah banjir tersebut tidak ada campur tangan manusia di dalamnya sebagai upaya menemukan sebab-musabab di dalam banjir tersebut ?

Inilah yang kemudian di simbolkan oleh KH. Ridwan Hamid bahwa tenaga, nikmat, bahkan ujian yang Allah berikan hanya akan tergantung kepada bagaimana hamba tersebut mampu memberdayakannya pada proses pendekatan dirinya kepada Allah.

Seperti dicontohkan, ketika saya memberikan sebuah pisau kepada seseorang untuk memudahkannya dalam hal memasak. Lalu kemudian pisau itu malah digunakan seseorang tersebut untuk melukai orang lain. Maka, inilah takdir !

Tapi, tentu kita bisa bedakan, mana perbuatan saya dan mana perbuatan orang yang saya beri pisau itu. Hal yang dipilihnya untuk menggunakan pisau sebagai alat memasak adalah takdir sedangkan pisau yang dipakainya untuk melukai orang lain juga kita sebut sebagai takdir.

Begitulah dengan nikmat atau bantuan Allah. Kita diberikan Allah berbagai potensi untuk kita gunakan pada hal-hal yang mengarah pada prosesi pencapaian takdir tersebut. Hanya saja, terletak di tangan kita lah pilihan takdir positif dan takdir negatif itu berada.


Mari Mengubah Takdir

Dari uraian di atas sudah selayaknya kita sepakat bahwa takdir sebagian berada pada pilihan kita. Allah hanyalah memberikan serta mengabulkan apa yang telah kita pilih tersebut.

Anda menjadi orang susah adalah takdir. Anda pun kaya tetaplah sebuah takdir. Lalu, mana takdir yang kita pilih ? Jawabannya tentu pada seberapa kuat kita mengarahkan segenap potensi yang telah Allah takdirkan jauh-jauh waktu sebelum kita Anda.

Memang secara jujur, pelbagai pandangan seputar takdir sangat sulit dipahami, sehingga menimbulkan kesalahpahaman. Namun demikian, banyak faktor yang lebih dominan dalam kemunduran umat pada saat sekarang ini. Kemunduran itulah yang menurut ulama kondang, M. Quraish Shihab, diartikan sebagai penimpaan salah satu faktor yang belum sepenuhnya terbukti.

Penimpaan salah satu faktor tersebut hanya ditujukan sesaat malapetaka datang kepada kita. Kondisi ketidakamanan ini malah menjadi sebuah definisi tunggal dalam pemaknaanya terhadap takdir. Kesusahan, musibah dan kesedihan lebih cenderung kita sudutkan pada persoalan takdir semata. Namun, ketika kita sukses dan bahagia, takdir sama sekali tidak tersentuh.

Sikap ini yang sangat tidak sejalan dengan penjelasan Al-Qur`an : Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja yang menimpamu maka itu (kesalahan) dari dirimu sendiri.”(QS. 4: 74)

Hal ini yang menjadi dalil bahwa kita tidak bisa melepaskan diri dari takdir Allah. Tetapi, lagi-lagi yang harus diingat adalah takdir Allah tidaklah satu.

Takdir itu pula yang kemudian bisa diterjemahkan sebagai sebuah aturan, norma, dan tanda atau hukum. Semisal hukum di jalan raya. Ketika kita mengendarai sepeda motor, misalnya. Maka hukum dan peraturan itu akan tetap berlaku. Sebut saja penggunaan helm. Kita dituntut untuk menggunakan helm disaat berkenderaan roda dua.

Dengan memenuhi aturan itu, keselamatan dari penilangan polisi akan dapat dihindari. Terlebih lagi disaat kecelakaan. Setidaknya posisi kepala dapat lebih meminimalkan benturan yang terjadi saat kecelakaan tersebut.

Namun begitupun, ketika helm dan surat-menyurat kenderaan telah kita penuhi. Rambu-rambu kita patuhi. Bukan tidak mungkin kecelakaan tetap saja bisa terjadi. Itulah yang semula kita sebut sebagai takdir.

Memenuhi aturan pun bisa kita sebut sebagai takdir dan melanggar aturan juga kata lain dalam memaknai takdir yang telah kita pilih. Untuk itulah, takdir tidak semata campur tangan Allah saja. Melainkan takdir adalah usaha dimana kita secara terus-menerus melakukan apa-apa yang dianjurkan Allah swt.

Kemudian, takdir yang telah kita pilih tersebut (meskipun yang terjadi negatif atau positif) hendaklah menjadi pemicu bahwa segala sesuatu yang tengah kita kerjakan merupakan sebuah usaha agar kita senantiasa dekat dengan Allah.

Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Lentara Hati juga menambahkan bahwa kelirulah seseorang yang hanya mengingat takdir pada saat terjadi malapetaka saja. Namun lebih keliru lagi yang mempersalahkan takdir untuk malapetaka yang menimpanya.

Maka, mulai sekarang ubahlah takdir Anda !

Medan, 4 Februari 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar