Minggu, 01 Maret 2009

KONTRIBUSI PIKIRAN, PERASAAN, DAN LINGKUNGAN SOSIAL TERHADAP KUALITAS PRIBADI
MAHASISWA IAIN SUMATERA UTARA
Oleh:Fitri Amaliyah Batubara

Hidup, Pilihan, dan Motivasi
Pada awalnya, menjadi mahasiswa IAIN Sumatera Utara tak pernah terpikirkan oleh saya. Cita-cita dan impian yang sudah lama ada pada saya yang membuat saya berpikir seperti itu. Tak berlebihan, cita-cita saya pada waktu itu adalah kuliah di Universitas Sumatera Utara pada jurusan Ilmu Komunikasi atau di Universitas Negeri Medan pada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Karena itu, ketika di Madrasah Aliyah, saya memilih jurusan Bahasa. Untuk mewujudkan itu semua, jalur SPMB pun saya tempuh dengan persiapan yang matang, baik itu mental, materi, dll.
Dengan segenap usaha yang sudah saya lakukan, ternyata Universitas Sumatera Utara atau Universitas Negeri Medan bukanlah tempat yang Allah pilihkan untuk saya dalam berjuang menimba ilmu pengetahuan. Kecewa tentu ada, khususnya pada saat membaca satu persatu nama-nama yang lulus dalam SPMB tahun 2006. Tapi kecewa itu tidaklah lama, karena ada solusi lain yang datang. Solusi itu adalah kuliah di IAIN Sumatera Utara.
Jurusan Bahasa Inggris di IAIN yang membuat saya ikhlas memilih IAIN. Walaupun begitu, Bahasa Inggris bukanlah pilihan utama saya diatas formulir tetapi, Pendidikan Agama Islam. Bahasa Inggris hanya menjadi pilihan ketiga saya dan pilihan keduanya adalah Komunikasi Penyiaran Islam. Semua itu terjadi tentunya dengan pertimbangan yang datang dari orang-orang di sekeliling saya. Saya pun berpikir, bukankah Bahasa Inggris bisa didapat dimana saja dan dapat bermanfaat dimana saja. Bukankah menulis itu bisa dilakukan di jurusan manapun atau bidang apapun yang kita pilih. Dan pada akhirnya, saya memang terpilih di jurusan Pendidikan Agama Islam, jurusan yang menjadi favorit di IAIN Sumatera Utara.
Bagi saya kuliah di IAIN bukanlah hal yang begitu berbeda tapi juga bukan hal yang sepele. Tidak begitu berbeda karena saya berasal dari Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Artinya, masih ada hubungan yang erat diantaranya, baik itu dari segi pengetahuan maupun suasana lingkungannya. Bukan juga hal yang sepele, karena menuntut ilmu butuh tekad dan kemauan yang kuat agar tak sia-sia. Kita telah memilih maka tak bijak jika kita lari dari apa yang telah kita pilih.
“ ...Dan boleh jadi apa yang kamu benci akan sesuatu, sedang ia lebih baik bagimu dan boleh jadi kamu kasihi sesuatu , sedang ia tidak lebih baik bagimu. Allah mengetahui tetapi kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Berpikir untuk Berpikir
“Sesungguhnya telah Kami berikan hikmah (ilmu pengetahuan) kepada Luqman (firman Kami): Berterima kasihlah kepada Allah. Barangsiapa yang berterima kasih (kepadaNya), maka hanya berterima kasih untuk dirinya, dan barangsiapa yang kafir (tidak berterima kasih), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji.” (Q.S. Luqman: 12)
Eric Baum (2004) dalam What is Thoughth, Chapter Two: The Mind is a Computer Programmenuliskan bahwa pikiran adalah gagasan dan proses mental. Berpikir memungkinkan seseorang untuk merepresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan keinginan.
Jika dianalisis, benar bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan dan dengan berpikir apa yang kita harapkan bisa terjadi. Saya misalnya, saya tidak berharap menjadi guru walaupun saya telah memilih jurusan Pendidikan Agama Islam. Saya sempat terhenti sejenak dari semangat untuk bergiat di jurusan ini. Ada semacam kejenuhan dan keengganan untuk serius pada setiap mata kuliah yang saya dapatkan. Apalagi, mata kuliah Bahasa Inggris hanya saya dapatkan pada dua semester saja, itu pun di semester dua, dosen yang mengajarkan bidang ini tidak begitu saya harapkan. Terlalu materialistis dan tidak profesional. Selain itu yang membuat saya jenuh adalah impian untuk kuliah di perguruan tinggi lain sempat terbersit di benak saya kembali. Sampai sekarang pun pemikiran ini sesekali menyelinap di pemikiran saya.
Saya berpikir untuk berpikir kembali tentang segala hal yang saya pikirkan itu. Saya berpikir bahwa yang membuat perjalanan yang sudah sempat saya lalui ini menjadi bermanfaat hanyalah saya sendiri. Bukan orang lain. Saya coba mencari celah kebaikan dari masalah ini. Tak harus menjadi guru sehabis S1 pada jurusan ini. Banyak hal yang saya yakin bisa saya capai dari jurusan atau pengetahuan yang saya tekuni. Lantas, tersemat di pikiran saya untuk menjadi seorang Dosen bahkan Pakar Pendidikan yang berjuang untuk memperbaiki sistem pendidikan di negara ini.
Terkadang, dengan pemikiran ini, saya lebih semangat untuk serius dalam menuntut ilmu dan “bersaing” dengan teman-teman di IAIN khususnya di kelas saya sendiri. Namun, dengan segala keterbatasan yang ada -misalnya fasilitas yang tak lengkap dan sulit dijangkau, pergaulan yang tak sehat dan bermanfaat, juga lingkungan yang tidak efisien- dapat menghambat saya untuk bergerak bebas meraih yang saya harapkan. Tapi, lagi-lagi saya berpikir bagaimana caranya agar hambatan ini menjadi jalan buat saya untuk lebih kreatif. Semoga dengan ini, nantinya orang-orang setelah saya tidak akan merasakan hambatan ini juga. Tentunya dengan usaha perubahan yang lahir dari saya dan teman-teman lainnya yang berjuang di IAIN ini.

Hanya Perasaan
“Tiadakah engkau ketahui orang-orang yang membersihkan dirinya? Bahkan Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya, sedang mereka tiada teraniaya sedikitpun.” (Q.S. An-Nisa’: 49)
Sulit untuk membedakan antara keyakinan dan perasaan, butuh kejelian tentunya. Tapi, kita sering terjebak dalam hal perasaan. Perasaan juga yang kadang membuat kita terdiam dari apa yang kita harapkan. Perasaan tak senang, perasaan ingin marah, perasaan tak bersalah dan merasa selalu benar adalah contohnya. Dan perasaan seperti yang ditulis oleh Achmanto Mendatu adalah keadaan yang dirasakan sedang terjadi dalam diri seseorang.
Perasaan tidak senang pernah muncul di diri saya ketika telah lulus di jurusan Pendidikan Agama Islam. Perasaan ini lahir dari impian saya yang tidak tercapai. Ada keterasingan dengan pilihan ini, walaupun telah ada pertimbangan dan keyakinan untuk memilih jurusan ini. Yang jelas, saya benar-benar terjebak dengan perasaan ini. Padahal teman-teman saya yang lain tampak begitu semangat dan terlihat mantap dengan jurusan ini.
Ini hanya perasaan sementara karena perasaan positif telah muncul di diri saya. Perasaan optimis dan perasaan cocok dengan jurusan ini muncul mengalahkan perasaan tidak senang yang muncul pertama sekali. Jika saja perasaan tidak senang itu berdiam terlalu lama, saya mungkin sulit untuk serius dan bergiat di jurusan ini sampai semester 6 (enam) ini. Sampai sekarang, saya berusaha agar perasaan-perasaan negatif itu tak pernah datang dengan adanya perasaan-perasaan positif yang lahir dari adanya rasa kaeyakinan dan pemikiran bahwa saya harus bisa.

Beradaptasi dengan Lingkungan Sosial
Adaptasi adalah kemampuan makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tentunya manusia termasuk kedalam kategori makhluk hidup itu. Dan setiap orang memang dituntut untuk bisa beradaptasi dimanapun ia berada. Jika tidak, maka orang tersebut akan tersingkir dari kominitas yang ia masuki. Hambatan pasti ada tentunya tapi usaha juga harus ada untuk mengatasi hambatan itu.
Menurut psikolog DR. Dewi Matindas, lingkungan sosial adalah wilayah kita bisa menjalin hubungan kerja dan silaturrahim secara spontan dan menyenangkan. Dalam hal ini, menurut beliau pikiran, perasaan dan nsikap positif memiliki andil yang sangat besar.
Awal memasuki lingkungan IAIN, perasaan saya paling berperan dalam setiap tindakan saya. Meskipun berasal dari lingkungan sekolah religi, ada perasaan canggung dan terasingkan yang datang. Butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri saya terhadap kehidupan di IAIN dan segala yang ada di dalamnya. Saya harus menganalisis walaupun secara “diam-diam”, bagaimana kehidupan di kampus ini sebenarnya.
Untuk bisa beradaptasi dengan IAIN, yang pertama sekali harus bisa saya pahami adalah pola belajar dan segala sesuatu yang berhubungan dengan belajar itu. Lalu, latar belakang teman-teman dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka untuk bisa saya jadikan bahan perbandingan atau cerminan kepada saya. Hak dan kewajiban mahsiswa dan dosen adalah hal lainnya, dengan ini ada harapan bahwa kuliah saya bisa berjalan tanpa ada perasaan terbebani.
Tak hanya itu, persaingan antar mahasiswa dalam dunia kampus juga menjadi sorotan bagi saya agar bisa beradaptasi. Menurut saya, jika mahasiswa tak punya sesuatu utnuk di jadikan senjata untuk bertahan dalam komunitas kampus, maka ia akan terseret dia arus yana tak jelas muaranya. Karena siswa bukan mahasiswa yang harus di suguhkan lagi dengan jamuan-jamuan yang otomatis ada. Buat saya mahasiswa adalah pejuang yang harus mencari dan mendapatkan sesuatu yang belum dicari dan didapat oleh orang lain. Artinya mahasiswa harus kreatif dan tidak suka menunggu pemberian orang lain, khususnya dalam hal pengetahuan agar bisa bertahan pada komunitas yang ia pilih.
Organisasi bisa menjadi alat untuk bertahan di dunia kampus. Dengan adanya pemahaman yang baik tentang manfaat suatu organisasi, kiranya setiap mahasiswa mampu untuk menjadi kreatif, inisiatif bahkan inovatif dalam kehidupannya. Saya misalnya, jika saja saya tidak memilih salah satu organisasi yang sekarang saya ikuti, mungkin saya akan terikut dengan arus yang tidak jelas muaranya tadi. Untuk bisa bertahan di komunitas kampus, bagi saya bukan hanya kemampuan intelektual yang diperlukan. Kemampuan dalam hal spiritual dan emosional juga sangat di perlukan. Karena orang yang cerdas adalah orang yang seimbang antara kemampuna intelektualnya dengan kemampuan emosi dan spiritulanya.
Dalam hal beradaptasi dengan lingkungan tampaknya kecerdasan emosional memiliki peranan penting. Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.
Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.
Dan menurut Zainun Mu'tadin, SPsi., MSi. ada 3 (tiga) unsur penting kecerdasan emosional yang terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).




Kesimpulan
Butuh keberanian untuk melahirkan pikiran dan perasaan yang positif. Butuh keberanian juga untuk menjadikan lingkungan sosial yang kita pilih menjadi lingkungan yang berhawa positif. Semua itu tentunya untuk memperlihatkan siapa yang berkualitas dan siapa yang tidak.
Membiarkan pikiran dan perasaan negatif muncul sama saja membiarkan diri terperangkap dalam ruang gelap tanpa jejak. Tak ada yang menolong, begitupun diri sendiri. Begitupun, jika kita membiarkan lingkungan sosial yang negatif melenakan kita tanpa pernah tersadar sedikitpun.
Untuk setiap kebaikan yang kita harapkan, jangan pernah berharap dari orang lain. Karena kita sudah diberi kemampuan oleh Allah untuk berusaha menurut kemampuan kita masing-masing. Semoga dengan kesadaran ini, kita mampu medapatkan dampak positif dari setiap pikiran dan perasaan yang kita punya. Begitupun lingkungan sosial yang telah kita pilih.
“ Apakah kamu mengira, bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja berkata: Kami telah beriman, tanpa mereka mendapat cobaan.” (Q.S. Al-Ankabut: 2)
(Berbagai Sumber)

1 komentar: