Minggu, 31 Mei 2009

Iblis, Tak Selamanya Berbuat Mungkar


Oleh : Sukma

Maka, apa mungkin neraka akan penuh sekalau iblis tak lagi berbuat mungkar ?


Di masa lampau pernah iblis berikrar di hadapan Tuhan bahwa ia-nya tidak akan pernah tunduk dan patuh kepada manusia. Melainkan akan terus berupaya menggoda umat manusia hingga ke tepi neraka. Apa mungkin itu karena kesombongan iblis ? Apa karena iblis tak lagi mau bertuhankan Allah atau karena iblis diciptakan dari api yang kemerah-merahan ? Ah, itu terka-terkaan yang membikin siapa saja sepakat bahwa iblis muara dari segala dosa.

Inilah Cublis, alias cucu iblis yang dipentaskan monolog oleh Hasan Albanna pada Sabtu, 16 Mei 2009 di Taman Budaya Sumatera Utara. Pementasan kali ini setidaknya menyedot perhatian banyak orang. Mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum. Mungkin karena pementasan monolog ini berbau iblis sehingga identik dengan kebengisan, kekerasan atau bahkan kengerian maka seiring itu alasan beberapa orang tertarik pula untuk menyaksikannya.

Monolog ini disajikan dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai pada sore hari sekitar pukul 16.00 wib dan malam harinya pada pukul 19.30 wib. Tentunya, karena Cublis adalah gawean Teater Generasi Medan maka seyogyianya pementasan kali ini pun kerap diawali dengan musikalisasi puisi oleh pemain dari tim Generasi sendiri. Padamu Jua karya Amir Hamzah dan Sembahyang Rumputan sebuah puisi rakitan Ahmadun Yosi Herfanda terdengar mengalun sayup-sayup sebagai tanda bahwa pementasan Cublis telah dibuka.

Tampilan Hasan Albanna sebagai aktor utama dalam pementasan kali ini memberi aroma baru bagi kalangan pelajar. Setidaknya huru-hara, teriakan-teriakan dan tawa geli mampu membius penonton dengan cara yang terbilang beda.

Ketertawaan, kelucuan dan riuh tepuk tangan bukan semata dimainkan Hasan Albanna sebagai aktor yang mumpuni pada Cublis kali ini. Melainkan lebih kepada nilai rasa Cublis ini sendiri sedari awal ialah pembalikan arah berpikir manusia tentang iblis. Ia-nya sanggup menertawakan perawakan iblis yang setidaknya wujud dari penjelmaan manusia itu sendiri. Dramatisasi itu juga dikemas dalam bentuk yang tidak kalah elegan seperti halnya tontonan-tontonan di gedung biskop penuh AC atau pagelaran musik bermahkota sound yang menggelegar. Cublis sebenarnya adalah alkisah kehidupan anak cucu iblis—yang dalam usianya masih terbilang muda untuk menggoda manusia—namun dengan sekelumit cobaan, ujian serta kegelisahannya yang teramat membingungkan ternyata dari keresahan itu ia berhasil menyuguhkan sekelumit renungan bagi kita umat manusia.

Cublis sering tak tentram hati manakala manusia sering bahkan terlalu sering menjadikan iblis sebagai dalang dalam semua aktifitas yang berbau dosa dan neraka. Sang aktor, Hasan Albanna, memainkan tokoh-tokoh dalam monolog ini nyaris sepi dari kebuntuan. Tatkala ia harus memerankan Tuan Bustaman sebagai tokoh yang sangat menyeramkan, sadis, menakutkan dan paling diktator di kalangan iblis. Tuan Bustaman yang senantiasa mengajak Cublis berbuat aniaya, kesalahan, dan penuh kemaksiatan mampu diperankan Hasan dengan tuturan-tuturan yang mengulik hati, sedikit kocak bahkan sesekali terkesan angker.

“Sebenarnya malam ini aku ingin mengajakmu bersenang-senang. Tapi, sudahlah, lain kali saja. Malam ini, bergembiralah dengan teman-temanmu. Mabuklah. Fly. Berpestalah dengan perempuan-perempuan jalang terbaik. Bukankah sudah aku ajari kau bagaimana mabuk dengan cara yang anggun dan elegan?” Begitu tutur Tuan Bustaman saat mengajak Cublis berpesta fora.

Ternyata kehidupan iblis yang selama ini sering dianggap miring oleh manusia nyatanya tak lah separah itu. Bagaimana Cublis begitu gelisah melihat manusia yang kerap menjadikan iblis sebagai hal-hal yang buruk. Tidak berprikeiblisan. Dan Hasan Albanna menjadikan adegan-adegan yang tercipta tertata penuh ketelitian. Meski terbilang sedikit terkesan melebihkan, namun menurut hemat saya sebagai penonton bahwa Cublis seiyanya mampu memenggal pemikirian manusia tentang hakikat iblis yang ada selama ini.

Manusia lupa bahwa iblis tidak pernah merampas hak manusia untuk beribadah kepada tuhannya. Berbuat baik kepada sesama. Namun jauh dari itu, iblis memang tidak sendiri, iblis kerap berkelompok untuk terus memasang strategi supaya manusia terhasut dan tentunya menjadi kawanan iblis. Maka, sajian Cublis sebenarnya sajian dari sekelumit hidup dan kehidupan manusia.

Itulah Cublis !

Banyak hal yang sebenarnya bisa kita renungkan ketika iblis divonis sadis. Senang berdurhaka. Kerap mengajak manusia untuk melakukan hal-hal yang berbuah neraka. Namun jauh itu, dari adegan Cublis yang dipentaskan Hasan Albanna selama lebih kurang satu jam tersebut, setidaknya mampu mengguit hati para manusia bahwa kreatifitas iblis dalam berbuat dosa jauh ketinggalan tinimbang kreatifitas manusia itu sendiri.

”Memang, memang, terus terang, kamilah yang habis-habisan menggoda Kabil agar membunuh saudara, Habil. Tapi ingat, ingat, catat, tulis, dan cetak dengan huruf yang besar di surat kabar terbitan besok, bahwa kami para iblis tidak pernah menyuruh manusia memenggal-menggal tubuh sesamanya, merajang, dan merebusnya sampai putih, sampai hancur seperti bubur sumsum.” Begitu tutur Cublis dalam ketika merenung di pesta ulang tahunnya saat aroma Tuan Bustaman terus membuntutinya.

Bukan sekedar itu, pementasan Cublis ini selalu saja mengejutkan penonton dengan adegan yang tak terduga. Lihat saja ketika Cublis hendak berdoa, merenung, ulang tahun, saling peduli antar sesama iblis dan senang bergotong-royong. Iblis pun sering mengutamakan kata mufakat, ramah, tahu soal adat-istiadat, tahu mana yang pantang mana yang boleh. Hati iblis gampang tersentuh, iblis mudah menitikkan air mata. Menangis. Tentu bukan air mata buaya. Maka seiring godaan manusia, iblis telah pula dibuat menakutkan padahal sejatinya tampang iblis adalah tampan. Semua itu diperankan oleh manusia yang sok tau, sok mulia. Manusia menganggap iblis sebagai mahkluk yang menyeramkan dan menjerumuskan manusia semata. Padahal, semua itu terjadi karena ulah manusia sendiri.

Hmm, bisa jadi neraka lebih banyak dipenuhi manusia daripada khalayak iblis !

Selain tokoh Tuan Bustaman dan Cublis yang diperankan Hasan Albanna, ada Atok, sebagai tokoh tetua dari Cublis. Yang kerap lebih meliukkan hati penonton dengan petuah-petuahnya. Atok diperankan seolah memberi warna baru dalam dunia keiblisan. Ia-nya memberikan peringatan pada umat iblis bahwa iblis memang menghimbau manusia untuk memelihara kedengkian hati, kemewahan, ketamakan, keculasan, tapi ummat iblis tidak pernah melakukan hal-hal demikian. Semula hanya memberi jalan dosa bagi manusia, tapi manusia malah lebih lihai menciptakan jalan dosa sendiri. Bahkan mampu memperbudak iblis untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang iblis pun sangat membencinya.

Karena gesekan-gesekan cerita Cublis inilah yang secara hakikat, tidak pula sanggup mengundang audiens untuk mengantuk, apalagi jemu. Kharismatik iblis, alur cerita dan suntikan-suntikan pesan yang dititipkan ditiap adegan Cublis telah mampu membikin hati penonton untuk tertawa geli sambil merenung-renung apa pesan terdalam dari iblis yang kini tengah geleng-geleng menyaksikan manusia lebih parah dari iblis sendiri.

Terlepas dari sajian yang begitu menghibur baik lahir maupun batin, namun saya sangat yakin bahwa Cublis bikinan Hasan Albanan telah menyeret kita untuk menyadari bahwa iblis begitu setia menggoda anak manusia. Iblis kerap merenung akan ketakutannya menuia neraka kelak. Karena ketakutan itu, kiranya iblis mencari kawan untuk tidak berhenti mengobati kegelisahan dan keresahannya dengan janji yang tengah Allah tetapkan padanya.

Kalau saja iblis begitu konsisten menepati janji akan menggoda anak manusia. Lalu, mengapa manusia tidak belajar dari iblis perihal ”kekonsistenan” itu ?

Yah !


Medan, Mei 2009

Senin, 18 Mei 2009

Kembalikan Lagu Untuk Anakku !


Oleh : Sukma

Saya teringat ketika masa kanak-kanak saya dulu, teringat pula ketika saya harus didendangkan dengan nyanyian kasih sayang oleh ibu saya saat hendak beranjak tidur. Nyanyian yang melambungkan angan-angan akan indahnya masa kanak-kanak, nyanyian yang penuh suka cita, kegembiraan, pesan-pesan moral untuk saling menyayangi dan saling mencintai antara semesta, hewan, lingkungan juga ibu bapak.

Sampai saya kelas 5 SD, masih banyak lagu yang bisa saya hapal. Tidak hanya lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah pun sempat kami (saya dan teman-teman) teriakkan di dalam kelas secara bersama-sama dengan riangnya. Bukan tidak sering saya juga diajak bapak dan ibu guru untuk bermain angklung, menepuk rebana, meniup seruling, meramu marakas dari kumpulan tutup botol, batok kelapa yang dipernis menjadi ketipung, juga botol kecap yang dimainkan untuk menghasilkan irama kelenting dalam membawakan lagu “Sayang-sayang Sipatokaan”, apalagi menjelang pentas seni diselenggarakan.

Namun jauh berbeda dengan sekarang, banyak diantara anak-anak Indonesia saat ini hampir melupakan lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah atau lagu-lagu yang sengaja dipopulerkan oleh para penyanyi cilik Indonesia.

Dulu pun kita masih ingat dengan sederetan lagu yang sempat populer di kalangan para penyanyi cilik Indonesia, sebut saja Josua, Trio Kwek-kwek, Marshanda, Sherina, Dea Ananda dan lain sebagainya. Lagu-lagu yang mereka bawakan adalah lagu-lagu yang mengenangkan banyak kisah yang seru, indah, bahkan menakjubkan untuk dunia anak-anak. Tentang gunung, tentang laut, langit biru, kicauan burung, bertamasya, bercocok tanam, bersepeda ria, juga sampai pada lagu anak-anak yang beraliran religius seperti yang pernah dipopulerkan dalam tembang sholawatnya Sulis dan Haddad Alwi.

Namun berbeda dengan kondisi masa kini, kalau kita disuruh memilih dan mencari dimana lagi lagu anak-anak yang meriah dinyanyikan ? Kemana kita akan membeli kaset anak-anak yang menceritakan tentang burung-burung, pemandangan sawah atau hembusan angin ? Lantas, siapa pula penyanyi cilik yang sekarang digandrungi oleh para anak-anak kita ?

Maka jawabannya, tidak ada ! Hampir semua event yang mengasah bakat menyanyi anak-anak Indonesia semuanya luput dari dunia anak-anak. Anak-anak disuguhi dengan lagu-lagu yang bernuansa dewasa, tentang cinta, soal selingkuh, tentang patah hati juga tentang nafsu birahi. Lihat saja pemandangan yang tak menyenangkan pada tayangan televisi di rumah kita, para anak-anak diikutkan dalam sebuah ajang perlombaan menyanyi dengan dalih mengasah potensi bakat dan talentanya. Nyatanya, anak-anak kita dipilihkan lagu-lagu orang dewasa yang secara tidak langsung membuat mereka jauh lebih dewasa dari kita, orang dewasa yang sesungguhnya.

Anak-anak kita disuruh menjiwai lagu-lagu orang dewasa, dengan lirik-lirik yang mendewasakan mereka belum pada masanya. Berikut pun kontes-kontes yang ada, anak-anak kita tidak lagi diajarkan apa itu pelangi? Apa itu purnama ? Apa itu bintang? Dan, apa itu bunga ? Melainkan mau tidak mau anak-anak kita telah diajarkan bagaimana menyatakan cinta dengan pasangan, trik mendapatkan pasangan, sampai pula bagaimana menjaga romantisme hubungan lawan jenis.

Belum lagi kalau kita mampir di setiap lapak-lapak penjualan kaset murah, aneka vcd bajakan, MP3 via handphone yang kesemuanya itu adalah fasilitas yang memudahkan anak-anak kita untuk senantiasa mendengarkan lagu-lagu orang dewasa untuk kian merasuk dalam telinga dan ingatan mereka.

Padahal, kalau saja industri musik Indonesia mau kembali menggeliatkan lagu untuk anak-anak di Indonesia, saya amat yakin lagu-lagu tersebut akan sangat laris manis. Betapa tidak anak-anak Indonesia sudah sangat jenuh dengan lagu-lagu orang dewasa yang tidak mengajarkan bagaimana menjadi anak-anak yang sebenarnya.
Wajar saja kalau anak usia sembilan tahun sudah mengenal jatuh hati, istilah cinta monyet, coklat di hari valentine, sms-sms cinta, sampai pula bunuh diri akibat patah hati. Siapa yang lantas kita salahkan ? Orangtua ? Stasiun televisi ? Grup-grup band pencipta lagu ? Panitia penyelenggara kontes menyanyi? Atau malah pemerintah ?

Kalau sudah begini maka kita akan semakin repot menjawabnya, tidak mungkin kita matikan televisi, tidak mungkin kita halangi anak-anak kita mendengar radio, tidak pula kita larang mereka bergabung dengan anak-anak yang juga berstatus penghapal mati lagu-lagu orang dewasa tersebut.

Lalu kalau begitu, saya akan sangat optimis lima belas tahun mendatang. Anak-anak Indonesia tidak akan lagi mengenal bagaimana lagu Piso Surit, lagu Indonesia Raya, lagu Halo-halo Bandung, Lagu Bengawan Solo, lagu Bintang Kecil, Pelangi, Topi Saya Bulat, atau pula lagu Cicak-cicak di Dinding. Dan kemudian dengan sangat gampang kita akan mengatakan; Say good bye lagu anak-anak Indonesia !



Medan, 25 April 2008
Tulisan ini pernah dimuat pada Harian MEDANBISNIS-edisi Minggu, Akhir Mei 2008

Sabtu, 02 Mei 2009

SEBUAH PERANGKAP BERNAMA UTANG

Oleh : Nurul Fauziah

Utang adalah kecemasan di malam hari dan kehinaan pada siang harinya
( sebuah atsar)

Pertama kali saya membaca kalimat bijak di atas, perasaan saya mengatakan bahwa ada benarnya juga atsar—perkataan sahabat tersebut. Kebenaran atsar tersebut menjadi lebih kuat ketika didasari dan dibuktikan dari pengalaman orang-orang disekitar saya bahkan tak dipungkiri saya pun juga terkait suka duka ketika memiliki utang.

Sebut saja Bu Dila (nama samaran), suatu hari dia menumpahkan segala kekecewaannya terhadap majikannya kepada saya. Pasalnya sudah empat bulan terakhir ini gajinya belum dikeluarkan majikannya. Tentunya Bu Dila kesal bukan main, berkali-kali Bu Dila mencoba bertahan dan berharap gajinya segera dibayar, namun seperti pungguk merindukan bulan. Bu Dila tetap mencoba untuk bersabar dan memahami kesulitan sang majikan.

Kesulitan keuangan membuat Bu Tati terjebak dalam perangkap yang bernama utang. Ada sedikitnya tiga bank yang beliau isi formulir pengajuan peminjaman uang yang tentunya bunga bank yang harus dibayar dikemudian hari tidaklah sedikit. Belum lagi kredit motor yang belum lunas, kredit HP dan barang kredit lainnya. Bayangkan bagaimana kalang kabutnya Bu Tari membayar bunga kreditnya saat tiba jatuh tempo pembayaran. Sampai tak jarang Bu Tati dihantui oleh para rentenir yang datang menagih utang ke rumah. Kedatangan mereka kadang disambut Bu Dila sang pegawai yang membantu usaha jahit menjahit yang dibuka Bu Tati. Tentu saja untuk menyelamatkan sang majikan, Bu Dila lebih sering mengeluarkan jurus 1001 alasan serta kebohonga-kebohongan yang harus di karang tentang keberadaan Bu Tati. Bahkan karena saking takutnya ditagih Bu Tati sampai harus bersembunyi di bawah kolong meja, untuk menghindari para penagih utang yang tak kenal ampun dan Bu Dila terpaksa harus berbohong lagi.

Imam Al-Qurthubiy berkata,” Para ulama berpendapat bahwa aib dan kehinaan itu diakibatkan sibuknya hati dan pikiran serta perasaan cemas yang senantiasa menggelayutinya karena ingin melunasi utangnya dan perasaan minder dan merasa hina ketika bertemu dengan orang yang mengutangi dan amat menderita karena telah menunda perlunasan hutangnya sampai melebihi batas yang ditentukannya.

Menabung vs Mengutang dan Anekdot Gajah Menangis


Dalam buku “Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya”, Safir Senduk sang penulis serta praktisi perencana keuangan menuliskan perbedaan tipis antara menabung dan mengutang. Menabung berarti bersusah-susah dulu, bersantai-santai kemudian. Artinya Anda bekerja di depan, setelah itu merasakan nikmatnya di belakang. Kalau mengutang, berarti Anda bersantai-santai dulu, baru merasakan susahnya dibelakang. Artinya Anda menikmatinya di depan, setelah itu melakukan kerja keras.

Menurut beliau kebanyakan orang Indonesia lebih senang ngutang daripada nabung. Kemudian dalam bukunya beliau juga menuliskan sebuah anekdot tentang utang. Alkisah di negeri antah-berantah, diadakanlah sebuah kontes. Nama kontes itu Kontes Gajah Menangis. Ada seekor gajah yang seumur hidupnya tidak pernah menangis. Banyak orang di sekitarnya berputus asa karena bingung melihat kenapa si gajah tidak pernah menangis. Oleh sang raja di negeri tersebut, akhirnya diadakanlah sebuah kontes yang meberikan tantangan bagaimana agar si gajah menangis.

Pukul 10 pagi, dimulailah kontes tersebut. Si gajah dengan badan besarnya duduk, dan mulailah peserta satu per satu menunujukkan aksinya, Peserta pertama adalah peniup serulin dari India. Dengan serulingnya, ia memainkan lagu sedih, menyayat hati. Selama setengah jam lagu tersebut dimainkan, si gajah bukannya menangis tapi malah ketiduran. Peserta pertama gagal.

Peserta kedua, pendongeng anak-anak dari Swedia. Dengan bukunya, ia mulai membacakan cerita yang paling sedih yang pernah dibuat. Lagi-lagi si gajah tidak menangis, si gajah malah melongo mendengarkan cerita pendongeng tersebut. Pesrrta kedua pun gagal juga.

Peserta ketiga, seorang ekonom dari Indonesia. Dengan santai, si ekonom dating ke arah si gajah yang sedang duduk, lalu mengarahkan mulutnya ke tellinga si gajah dan membisikkan sesuatu. Hanya satu menit, si gajah langsung berteriak melengking dan menagis sejadi-jadinya. Akhirnya orang Indonesia itulah yang memenangkan kontes.

Apa rupanya yang dibisikkan si ekonom kepada si gajah? “Utang Indonesia lebih dari Rp. 3 triliun…”. Gajah saja menangis mendengarkan jumlah utang Indonesia, konon lagi kita, apakah kita menangis teringat utang pribadi kita sendiri?

Aktivitas Utang Dalam Kacamata Islam

Utang, satu kata yang sering didengar dan mudah diucapkan serta sulit pertanggungjawabannya di akhirat jika tidak segera dilunasi. Orang hidup tidak bisa lepas dari aktivitas yang satu ini. Karena memang utang bagian dari muamalah—sebuah aktivitas yang dilakukan manusia kepada manusia lainnya. Bagi sebagian orang yang tidak bisa memanajemen utang dengan baik, menganggap aktivitas utang seperti perangkap tikus jika telah masuk sulit rasanya untuk keluar atau bahkan muncul istilah gali lubang tutup lubang (efek ketagihan, sekali utang ingin mengutang lagi kemudian).

Siapa sih di zaman ini yang tak punya utang?, Negara adidaya sekaliber Amerika Serikat pun punya utang hingga perekonomian AS terpuruk luarbiasa saat terjadi krisis finansia global akhir tahun 2008 lalu. Orang kaya sekaya apapun pasti punya utang, paling tidak minimal empat kartu kredit menjadi penghuni tetap dompet kulit mereka. Caleg semiskin apapun pasti punya utang buat mengusahakan bagaimana supaya ia dikenal masyarakat Bahkan ada orang yang pada hari ini bangga punya utang, lebih bangga lagi jika orang yang menghutangi tidak berani atau segan meminta uang pinjaman mereka kembali. Na’udzubillah.

Islam tidak melarang umatnya untuk melakukan transaksi utangpiutang. Rasulullah sendiri juga pernah melakukan aktivitas ini, dalam suatu hadis yang diriwayatkan Bukhari, Aisyah berkata : Rasulullah pernah membeli makanan dengan cara berutang dan beliau menjaminkan baju besinya. Bahkan ayat Al-Qur;an yang paling panjang adalah ayat yang berkenaan denga utangpiutang salah satunya, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah: 282, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai (melakukan utangpiutang), untuk waktu yang ditentukan , hendaklah kamu menuliskannya.” Utang boleh saja, namun lihat kemampuan diri jangan sampai utang membuat hidup jadi tidak tenang

Walaupun agama Islam tidak melarang aktivitas ini bukan berarti Islam mengaturnya.. Islam mengatur secara detail masalah muamalah yang satu ini, sehingga umatnya tidak menganggap remeh. Perhatikanlah bagaimana upaya Rasulullah agar umatnya tidak mudah mengambil utang sebagai solusi keuangan umat Islam. Kalimat hadis berikut adalah inti dari dua hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan At-Tirmidzi, Rasulullah enggan menshalati jenazah sahabat yang masih terlilit utang. Pintu surga pun enggan terbuka bagi seorang pengutang, sekalipun ia mati dalam keadaan syahid. Semoga kita dihindarkan dari yang demikian.

Tips Terhindar dari Utang

Syaikh Adil bin Muhammad Al-Abdul Ali salah satu dari dua penulis yang menulis buku berjudul Jangan Gampang Berutang, menuliskan untuk kita tips-tps terbebas dai utang:
1. Hayati hadits-hadits yang berkenaan dengan akibat berutang. Salah satu hadis yang menurut saya paling diingat para pelaku utang adalah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Jiwa seorang mukmin itu terikat oleh hutangnya, sampai hutangnya dilunasi”. Mudah-mudahan kita tidak mati dalam kedaan berutang, Amiin.
2. Jangan sekali-kali berutang, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa. Sebaiknya Anda mengetahui terlebih dulu kapan boleh berutang dan kapan tidak, serta untuk apa kita berutang, penting apa tidak jangan hanya lapar mata atau nafsu semata yang membuat kita kebablasan dalam berutang dan hidup dipenuhi utang yang menumpuk dimana-mana. Mau?
3. Bertawakkalah kepada Allah sebelum berutang. Kebanyakan para pelaku utang sebelum berutang terbesit niat untuk tidak melunasinya sesuai jadwal apalagi jika meminjam uang pada teman atau pun orangtua sendiri, “nggak janjilah ya bakalan melunasinya tepat waktu”, wah, jika niat dari awal seperti ini, alamat Allah pun enggan untuk mengeluarkannya dari kesulitan keuangan yang dialami.
4. Jangan tertipu pinjaman bank dan kartu kredit. Jika terjebak dalam dua hal ini, yakni pinjaman bank yang berbunga serta kartu kredit, hati-hati ada harta riba yang bukan hak kita, ujung-ujungnya jadi haram dan sangat dibenci Allah.
5. Hindari pembelian secara kredit, sebagaimana Anda menghindari seekor singa. Mau itu hp, motor, mobil, rumah, baju seragam perwiridan, peralatan rumah tangga, teriakkan dengan lantang No kredit, Lunas Yes!, Harta Riba, Naudzubillah, Harta Halal, Alhamdulillah!.
6. Membaca doa bebas utang yang selalu diamalkan Rasulullah.” Ya Allah, aku berlindung dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat penecut dan bakhil, adri tekanan utang dan kesewenang-wenagan orang lain”.
7. Jadikan “melunasi utang” sebagai cita-cita awal sejak Anda mengambil utang.

Semoga Bermanfaat
Wallahu a’lam bishowab.