Oleh : Sukma
Maka, apa mungkin neraka akan penuh sekalau iblis tak lagi berbuat mungkar ?
Di masa lampau pernah iblis berikrar di hadapan Tuhan bahwa ia-nya tidak akan pernah tunduk dan patuh kepada manusia. Melainkan akan terus berupaya menggoda umat manusia hingga ke tepi neraka. Apa mungkin itu karena kesombongan iblis ? Apa karena iblis tak lagi mau bertuhankan Allah atau karena iblis diciptakan dari api yang kemerah-merahan ? Ah, itu terka-terkaan yang membikin siapa saja sepakat bahwa iblis muara dari segala dosa.
Inilah Cublis, alias cucu iblis yang dipentaskan monolog oleh Hasan Albanna pada Sabtu, 16 Mei 2009 di Taman Budaya Sumatera Utara. Pementasan kali ini setidaknya menyedot perhatian banyak orang. Mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum. Mungkin karena pementasan monolog ini berbau iblis sehingga identik dengan kebengisan, kekerasan atau bahkan kengerian maka seiring itu alasan beberapa orang tertarik pula untuk menyaksikannya.
Monolog ini disajikan dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai pada sore hari sekitar pukul 16.00 wib dan malam harinya pada pukul 19.30 wib. Tentunya, karena Cublis adalah gawean Teater Generasi Medan maka seyogyianya pementasan kali ini pun kerap diawali dengan musikalisasi puisi oleh pemain dari tim Generasi sendiri. Padamu Jua karya Amir Hamzah dan Sembahyang Rumputan sebuah puisi rakitan Ahmadun Yosi Herfanda terdengar mengalun sayup-sayup sebagai tanda bahwa pementasan Cublis telah dibuka.
Tampilan Hasan Albanna sebagai aktor utama dalam pementasan kali ini memberi aroma baru bagi kalangan pelajar. Setidaknya huru-hara, teriakan-teriakan dan tawa geli mampu membius penonton dengan cara yang terbilang beda.
Ketertawaan, kelucuan dan riuh tepuk tangan bukan semata dimainkan Hasan Albanna sebagai aktor yang mumpuni pada Cublis kali ini. Melainkan lebih kepada nilai rasa Cublis ini sendiri sedari awal ialah pembalikan arah berpikir manusia tentang iblis. Ia-nya sanggup menertawakan perawakan iblis yang setidaknya wujud dari penjelmaan manusia itu sendiri. Dramatisasi itu juga dikemas dalam bentuk yang tidak kalah elegan seperti halnya tontonan-tontonan di gedung biskop penuh AC atau pagelaran musik bermahkota sound yang menggelegar. Cublis sebenarnya adalah alkisah kehidupan anak cucu iblis—yang dalam usianya masih terbilang muda untuk menggoda manusia—namun dengan sekelumit cobaan, ujian serta kegelisahannya yang teramat membingungkan ternyata dari keresahan itu ia berhasil menyuguhkan sekelumit renungan bagi kita umat manusia.
Cublis sering tak tentram hati manakala manusia sering bahkan terlalu sering menjadikan iblis sebagai dalang dalam semua aktifitas yang berbau dosa dan neraka. Sang aktor, Hasan Albanna, memainkan tokoh-tokoh dalam monolog ini nyaris sepi dari kebuntuan. Tatkala ia harus memerankan Tuan Bustaman sebagai tokoh yang sangat menyeramkan, sadis, menakutkan dan paling diktator di kalangan iblis. Tuan Bustaman yang senantiasa mengajak Cublis berbuat aniaya, kesalahan, dan penuh kemaksiatan mampu diperankan Hasan dengan tuturan-tuturan yang mengulik hati, sedikit kocak bahkan sesekali terkesan angker.
“Sebenarnya malam ini aku ingin mengajakmu bersenang-senang. Tapi, sudahlah, lain kali saja. Malam ini, bergembiralah dengan teman-temanmu. Mabuklah. Fly. Berpestalah dengan perempuan-perempuan jalang terbaik. Bukankah sudah aku ajari kau bagaimana mabuk dengan cara yang anggun dan elegan?” Begitu tutur Tuan Bustaman saat mengajak Cublis berpesta fora.
Ternyata kehidupan iblis yang selama ini sering dianggap miring oleh manusia nyatanya tak lah separah itu. Bagaimana Cublis begitu gelisah melihat manusia yang kerap menjadikan iblis sebagai hal-hal yang buruk. Tidak berprikeiblisan. Dan Hasan Albanna menjadikan adegan-adegan yang tercipta tertata penuh ketelitian. Meski terbilang sedikit terkesan melebihkan, namun menurut hemat saya sebagai penonton bahwa Cublis seiyanya mampu memenggal pemikirian manusia tentang hakikat iblis yang ada selama ini.
Manusia lupa bahwa iblis tidak pernah merampas hak manusia untuk beribadah kepada tuhannya. Berbuat baik kepada sesama. Namun jauh dari itu, iblis memang tidak sendiri, iblis kerap berkelompok untuk terus memasang strategi supaya manusia terhasut dan tentunya menjadi kawanan iblis. Maka, sajian Cublis sebenarnya sajian dari sekelumit hidup dan kehidupan manusia.
Itulah Cublis !
Banyak hal yang sebenarnya bisa kita renungkan ketika iblis divonis sadis. Senang berdurhaka. Kerap mengajak manusia untuk melakukan hal-hal yang berbuah neraka. Namun jauh itu, dari adegan Cublis yang dipentaskan Hasan Albanna selama lebih kurang satu jam tersebut, setidaknya mampu mengguit hati para manusia bahwa kreatifitas iblis dalam berbuat dosa jauh ketinggalan tinimbang kreatifitas manusia itu sendiri.
”Memang, memang, terus terang, kamilah yang habis-habisan menggoda Kabil agar membunuh saudara, Habil. Tapi ingat, ingat, catat, tulis, dan cetak dengan huruf yang besar di surat kabar terbitan besok, bahwa kami para iblis tidak pernah menyuruh manusia memenggal-menggal tubuh sesamanya, merajang, dan merebusnya sampai putih, sampai hancur seperti bubur sumsum.” Begitu tutur Cublis dalam ketika merenung di pesta ulang tahunnya saat aroma Tuan Bustaman terus membuntutinya.
Bukan sekedar itu, pementasan Cublis ini selalu saja mengejutkan penonton dengan adegan yang tak terduga. Lihat saja ketika Cublis hendak berdoa, merenung, ulang tahun, saling peduli antar sesama iblis dan senang bergotong-royong. Iblis pun sering mengutamakan kata mufakat, ramah, tahu soal adat-istiadat, tahu mana yang pantang mana yang boleh. Hati iblis gampang tersentuh, iblis mudah menitikkan air mata. Menangis. Tentu bukan air mata buaya. Maka seiring godaan manusia, iblis telah pula dibuat menakutkan padahal sejatinya tampang iblis adalah tampan. Semua itu diperankan oleh manusia yang sok tau, sok mulia. Manusia menganggap iblis sebagai mahkluk yang menyeramkan dan menjerumuskan manusia semata. Padahal, semua itu terjadi karena ulah manusia sendiri.
Hmm, bisa jadi neraka lebih banyak dipenuhi manusia daripada khalayak iblis !
Selain tokoh Tuan Bustaman dan Cublis yang diperankan Hasan Albanna, ada Atok, sebagai tokoh tetua dari Cublis. Yang kerap lebih meliukkan hati penonton dengan petuah-petuahnya. Atok diperankan seolah memberi warna baru dalam dunia keiblisan. Ia-nya memberikan peringatan pada umat iblis bahwa iblis memang menghimbau manusia untuk memelihara kedengkian hati, kemewahan, ketamakan, keculasan, tapi ummat iblis tidak pernah melakukan hal-hal demikian. Semula hanya memberi jalan dosa bagi manusia, tapi manusia malah lebih lihai menciptakan jalan dosa sendiri. Bahkan mampu memperbudak iblis untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang iblis pun sangat membencinya.
Karena gesekan-gesekan cerita Cublis inilah yang secara hakikat, tidak pula sanggup mengundang audiens untuk mengantuk, apalagi jemu. Kharismatik iblis, alur cerita dan suntikan-suntikan pesan yang dititipkan ditiap adegan Cublis telah mampu membikin hati penonton untuk tertawa geli sambil merenung-renung apa pesan terdalam dari iblis yang kini tengah geleng-geleng menyaksikan manusia lebih parah dari iblis sendiri.
Terlepas dari sajian yang begitu menghibur baik lahir maupun batin, namun saya sangat yakin bahwa Cublis bikinan Hasan Albanan telah menyeret kita untuk menyadari bahwa iblis begitu setia menggoda anak manusia. Iblis kerap merenung akan ketakutannya menuia neraka kelak. Karena ketakutan itu, kiranya iblis mencari kawan untuk tidak berhenti mengobati kegelisahan dan keresahannya dengan janji yang tengah Allah tetapkan padanya.
Kalau saja iblis begitu konsisten menepati janji akan menggoda anak manusia. Lalu, mengapa manusia tidak belajar dari iblis perihal ”kekonsistenan” itu ?
Yah !
Medan, Mei 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar