Senin, 18 Mei 2009

Kembalikan Lagu Untuk Anakku !


Oleh : Sukma

Saya teringat ketika masa kanak-kanak saya dulu, teringat pula ketika saya harus didendangkan dengan nyanyian kasih sayang oleh ibu saya saat hendak beranjak tidur. Nyanyian yang melambungkan angan-angan akan indahnya masa kanak-kanak, nyanyian yang penuh suka cita, kegembiraan, pesan-pesan moral untuk saling menyayangi dan saling mencintai antara semesta, hewan, lingkungan juga ibu bapak.

Sampai saya kelas 5 SD, masih banyak lagu yang bisa saya hapal. Tidak hanya lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah pun sempat kami (saya dan teman-teman) teriakkan di dalam kelas secara bersama-sama dengan riangnya. Bukan tidak sering saya juga diajak bapak dan ibu guru untuk bermain angklung, menepuk rebana, meniup seruling, meramu marakas dari kumpulan tutup botol, batok kelapa yang dipernis menjadi ketipung, juga botol kecap yang dimainkan untuk menghasilkan irama kelenting dalam membawakan lagu “Sayang-sayang Sipatokaan”, apalagi menjelang pentas seni diselenggarakan.

Namun jauh berbeda dengan sekarang, banyak diantara anak-anak Indonesia saat ini hampir melupakan lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah atau lagu-lagu yang sengaja dipopulerkan oleh para penyanyi cilik Indonesia.

Dulu pun kita masih ingat dengan sederetan lagu yang sempat populer di kalangan para penyanyi cilik Indonesia, sebut saja Josua, Trio Kwek-kwek, Marshanda, Sherina, Dea Ananda dan lain sebagainya. Lagu-lagu yang mereka bawakan adalah lagu-lagu yang mengenangkan banyak kisah yang seru, indah, bahkan menakjubkan untuk dunia anak-anak. Tentang gunung, tentang laut, langit biru, kicauan burung, bertamasya, bercocok tanam, bersepeda ria, juga sampai pada lagu anak-anak yang beraliran religius seperti yang pernah dipopulerkan dalam tembang sholawatnya Sulis dan Haddad Alwi.

Namun berbeda dengan kondisi masa kini, kalau kita disuruh memilih dan mencari dimana lagi lagu anak-anak yang meriah dinyanyikan ? Kemana kita akan membeli kaset anak-anak yang menceritakan tentang burung-burung, pemandangan sawah atau hembusan angin ? Lantas, siapa pula penyanyi cilik yang sekarang digandrungi oleh para anak-anak kita ?

Maka jawabannya, tidak ada ! Hampir semua event yang mengasah bakat menyanyi anak-anak Indonesia semuanya luput dari dunia anak-anak. Anak-anak disuguhi dengan lagu-lagu yang bernuansa dewasa, tentang cinta, soal selingkuh, tentang patah hati juga tentang nafsu birahi. Lihat saja pemandangan yang tak menyenangkan pada tayangan televisi di rumah kita, para anak-anak diikutkan dalam sebuah ajang perlombaan menyanyi dengan dalih mengasah potensi bakat dan talentanya. Nyatanya, anak-anak kita dipilihkan lagu-lagu orang dewasa yang secara tidak langsung membuat mereka jauh lebih dewasa dari kita, orang dewasa yang sesungguhnya.

Anak-anak kita disuruh menjiwai lagu-lagu orang dewasa, dengan lirik-lirik yang mendewasakan mereka belum pada masanya. Berikut pun kontes-kontes yang ada, anak-anak kita tidak lagi diajarkan apa itu pelangi? Apa itu purnama ? Apa itu bintang? Dan, apa itu bunga ? Melainkan mau tidak mau anak-anak kita telah diajarkan bagaimana menyatakan cinta dengan pasangan, trik mendapatkan pasangan, sampai pula bagaimana menjaga romantisme hubungan lawan jenis.

Belum lagi kalau kita mampir di setiap lapak-lapak penjualan kaset murah, aneka vcd bajakan, MP3 via handphone yang kesemuanya itu adalah fasilitas yang memudahkan anak-anak kita untuk senantiasa mendengarkan lagu-lagu orang dewasa untuk kian merasuk dalam telinga dan ingatan mereka.

Padahal, kalau saja industri musik Indonesia mau kembali menggeliatkan lagu untuk anak-anak di Indonesia, saya amat yakin lagu-lagu tersebut akan sangat laris manis. Betapa tidak anak-anak Indonesia sudah sangat jenuh dengan lagu-lagu orang dewasa yang tidak mengajarkan bagaimana menjadi anak-anak yang sebenarnya.
Wajar saja kalau anak usia sembilan tahun sudah mengenal jatuh hati, istilah cinta monyet, coklat di hari valentine, sms-sms cinta, sampai pula bunuh diri akibat patah hati. Siapa yang lantas kita salahkan ? Orangtua ? Stasiun televisi ? Grup-grup band pencipta lagu ? Panitia penyelenggara kontes menyanyi? Atau malah pemerintah ?

Kalau sudah begini maka kita akan semakin repot menjawabnya, tidak mungkin kita matikan televisi, tidak mungkin kita halangi anak-anak kita mendengar radio, tidak pula kita larang mereka bergabung dengan anak-anak yang juga berstatus penghapal mati lagu-lagu orang dewasa tersebut.

Lalu kalau begitu, saya akan sangat optimis lima belas tahun mendatang. Anak-anak Indonesia tidak akan lagi mengenal bagaimana lagu Piso Surit, lagu Indonesia Raya, lagu Halo-halo Bandung, Lagu Bengawan Solo, lagu Bintang Kecil, Pelangi, Topi Saya Bulat, atau pula lagu Cicak-cicak di Dinding. Dan kemudian dengan sangat gampang kita akan mengatakan; Say good bye lagu anak-anak Indonesia !



Medan, 25 April 2008
Tulisan ini pernah dimuat pada Harian MEDANBISNIS-edisi Minggu, Akhir Mei 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar