Selasa, 02 Juni 2009

SENDIRI #2

Oleh: Fitri Amaliyah Batubara

Saat sendiri aku temukan diriku yang selalu menunggu di depan pintu. Selalu seperti itu setiap hari. Berharap anak-anak berseragam sekolah yang pulang beramai-ramai dengan langkah kaki yang selalu semangat menyusuri perjalanan mereka antara sekolah dan rumah atau antara rumah dan sekolah, lewat lagi di depan rumahku.

Entahlah. Aku begitu senang melihat mereka yang selalu riang dan sesekali berteriak-teriak kecil antara sesama mereka. Yang kutahu, mereka adalah anak sekolah yang setiap hari memakai pakaian merah putih lengkap dengan kain merah yang tersangkut di leher baju mereka. Ada topi merah yang menempel di atas rambut mereka. Mereka memakai tas yang berbeda warna tapi warna sepatu mereka sama semua, yaitu hitam. Dan aku tahu, ketika pagi mereka menuju sekolah dan siangnya mereka pulang kerumah.

Aku tidak tahu apakah aku tahu makna sekolah yang sebenarnya. Tapi, yang kutahu, sekolah adalah tempat yang bisa membuat siapa saja bisa membaca dan pintar.

Aku selalu meminta kepada ibu untuk bisa sekolah secepatnya walaupun umurku baru 5 tahun 3 bulan. Aku juga berharap ibu bisa mengabulkan permintaanku. Aku merasa aku layak walaupun umurku belum 6 tahun. Toh, aku sudah mengenal huruf-huruf meskipun aku tidak TK dahulu seperti anak-anak kebanyakan. Aku bisa mengenal huruf-huruf itu hanya melalui kerendahan hati kedua orangtuaku yang membelikanku satu set huruf-hurufan yang terbuat dari bahan plastik dan mengajariku dengan sabar dan perlahan-lahan. Hingga akhirnya kubuktikan, aku sudah layak untuk duduk di bangku sekolah dasar seperti anak-anak sekolah yang setiap hari lewat di depan rumahku.

Aku selalu bermimpi, suatu saat aku bisa bangun pagi, sarapan, menyiapkan buku-buku pelajaran sekolah dan memasukkannya ke dalam tas sekolah yang dibeli ayah, memakai sepatu sekolah berwarna hitam yang dibeli ibu dipasar dan berpamitan serta mencium tangan ayah dan ibu setiap akan pergi dan pulang sekolah. Sampai disekolah, aku pun disambut teman-temanku dengan senyum manis mereka. Menunjukkan pada guruku kalau aku bisa menjawab semua pertanyaannya.Itu mimpiku.

Mimpiku terwujud tidak berapa lama kemudian. Ibuku mendaftarkanku sekolah pada saat usiaku 5 setengah tahun dengan segala pertimbangan yang ibu lakukan ke pihak sekolah.

Dalam sendiri, akhirnya kudapati aku telah sekolah seperti mereka yang selalu lewat di depan rumahku. Aku bangun pagi, sarapan, menyiapkan buku-buku pelajaran sekolah dan memasukkannya ke dalam tas sekolah yang dibeli ayah, memakai sepatu sekolah berwarna hitam yang dibeli ibu dipasar dan berpamitan serta mencium tangan ayah dan ibu setiap akan pergi dan pulang sekolah. Sampai disekolah, aku pun disambut teman-temanku dengan senyum manis mereka. Menunjukkan pada guruku kalau aku bisa menjawab semua pertanyaannya.

(31 Mei 2009, ketika memoriku sedang bermain)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar