KORAN WASPADA
“Usia Emas” Anak Justru Sering Dirusak Orangtua
Perkembangan kecerdasan dan mental seorang anak atau IQ/EQ sering dirusak para orang tua karena cara mengasuh, membimbing, serta membina anak pada "usia keemasan" (0 sampai enam tahun) dengan cara yang salah, yakni sekedar bicara bukan dengan sikap/teladan.
Pesan moral itu disampaikan Ria Enes bersama boneka Susan saat menghibur sekitar seribu anak-anak dalam acara "Kumpul Seribu Bocah" yang digelar oleh Dinas Pendidikan Kaltim dalam rangkaian peringatan Hardiknas di Stadion Madya Sempaja, Minggu lalu.
"Menurut para ahli, usia menyerap anak pada 'usia keemasan', yakni sampai enam tahun mencapai 70-80 persen yang efektif dibina dengan cara sikap atau teladan orangtua, bukan hanya sekedar perintah atau bicara, jadi ibu-ibu jangan merusak kecerdasan dan mental anak kita akibat kesalahan kita sendiri," kata Ria Enes.
"Kalau kita perintahkan anak belajar, sementara orangtuanya nonton tivi, pasti anak tetap ikut nonton tivi. Kalaupun kita paksa anak belajar, kemungkinan besar anak akan menangis, ya Susan ya!," kata Ria menatap "Susan", boneka lucu yang dipegang di tangan kanannya.
Sementara itu "Susan" mengiyakan apa yang dikatakan Ria. Bahkan, Susan juga mengatakan jika orangtua menyuruh belajar, maka orangtua juga harus memberi contoh belajar agar anak mau mengikutinya.
"Kalau ibu menyuruh saya belajar, ibu juga harus belajar, jadi kita sama-sama belajar," kata Susan, sang boneka yang disambut tawa ibu-ibu dan bocah yang terlihat kagum melihat pertunjukan suara perut itu.
Ia menambahkan bahwa anak-anak butuh keteladanan dan contoh sikap tersebut bagi seorang anak akan tertanam kuat dalam benaknya sampai mereka dewasa nanti.
"Jika sejak kecil anak sudah terbiasa melihat orangtuanya berbuat apa saja, baik itu sholat dan mengaji, maka hal itu akan mereka ingat terus. Namun, apabila ayah dan ibunya sering berkelahi, maka kebiasaan orangtua akan terekam pula dan bisa terbawa menjadi sikap keras mereka saat dewasa," kata Ria melalui sang boneka Susan.
Ria yang juga menghibur lewat
Pasalnya, hal itu justru bisa mempengaruhi lambat daya fikir, kreatifitas, dan mental atau intelligent quatients dan emotional quotients (IQ/EQ) si anak.
Sementara itu, panitia Kumpul Seribu Bocah, Sutikno yang juga salah seorang Kasi di Disdik Kaltim mengatakan bahwa salah satu tujuan dilakukan acara tersebut adalah selain memberikan penyegaran terhadap anak tentang hiburan yang dibawakan oleh Ria Enes, juga memberikan tambahan ilmu kepada orangtua yang mengantar anaknya.
"Cara mendongeng dan menyanyi lebih cepat mereka terima baik bagi anak-anak maupun para orangtua yang hadir pada acara ini. Dalam rangkaian peringatan Hardiknas ini kita ingin mengisinya dengan hal yang benar-benar bermanfaat bagi dunia pendidikan, yakni melalui pesan moral ini, bukan sekedar hura-hura," imbuh dia.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan di sekolah sifatnya hanya dukungan bagi perkembangan anak namun mempersiapkan generasi muda yang menjadi aset bangsa itu berawal dari rumah atau kehidupan keluarganya.
"Ketika memasuki dunia sekolah di SD, usia keemasan anak itu sudah lewat karena masuk sekolah, batas usia sudah tujuh tahun," papar dia.
Sebagai "orang pendidikan", ia juga mengharapkan agar cara mendidik anak melalui dongeng sebelum tidur sebenarnya cara sangat tepat selain melalui sikap/teladan orangtua.
"Misalnya, kita akan menceritakan tokoh-tokoh yang bijaksana, berbudi serta orang-orang jahat. Jadi pesan moral yang kita sampaikan di dalam dongeng, termasuk cara pendidikan yang tepat.Namun, dengan perkembangan sekarang, anak kita manjakan dengan menonton tivi dan game," kata dia.
Pihaknya berjanji bahwa dalam peringatan Hardiknas tahun-tahun akan datang, terus mengisinya dengan berbagai acara yang benar-benar bermanfaat bagi dunia pendidikan, bukan sekedar acara serimonial dan hura-hura.
KOMENTAR DAN ULASAN
Oleh: Fitri Amaliyah Batubara
Menurut Indra Sugiarno, Ketua Satuan Tugas Perlindungan dan Kesejahteraan Anak Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP-IDAI), yang dimaksud dengan anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun. Anak mengalami usia keemasan dimulai pada usia 0-6 tahun. Masa-masa ini merupakan masa-masa paling berharga bagi anak dan masa-masa paling tepat bagi orangtua untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak tersebut.
Dalam keluarga, orangtua memiliki peran yang sangat besar terhadap anak.
- Kata kunci pembangunan SDM Anak adalah pendidikan. Menurut M. Surya, keunggulan hanya diperoleh melalui pendidikan yang diprogramkan secara sistematis (A. Sasmita Effendi dan Syaiful Sagala, 2001:66).
- Dalam keadaan normal, lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orangtuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua serta mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui lingkungan itulah anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari (Soerjono Soekamto,1990:496).
- Keluarga diwajibkan untuk menyelami dan mendalami serta mengenalkan ajaran-ajaran agama dalam perilakunya sebagai manusia yang bertaqwa kepada Tuhan YME (Abu Ahmadi, 1991:91).
- Keutuhan rumah tangga adalah syarat utama dalam pembinaan anak (Rusli Nasution, 1996:4). 5)
- Selamatkan Remaja dengan Pendidikan Agama (Rusli Nasutian, 1998:1)
- Bila suatu keluarga tidak dapat menjalankan fungsinya, maka berarti keluarga tersebut telah mengalami kemandekan atau disfungsi akan mengganggu perkembangan kepribadian anak (Syamsu Yusuf, 2003:41).
- Keadaan keluarga yang tidak harmonis, tidak stabil atau berantakan, merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak yang tidak sehat (Syamsu Yusuf, 2003: 43).
Membina dan mendidik anak tampaknya bukanlah hal yang mudah bagi setiap orantua. Namun, bukan seharusnya hal ini menjadikan orangtua berdiam diri atau melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat sama sekali dalam membina dan mendidik anak mereka.
Seperti yang telah diungkapkan pada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar