Kamis, 26 Maret 2009

HOARDING : SAKIT GILA NO.28



Oleh: Nurul Fauziah

Sebelumnya saya mau tanya apakah pembaca telah melahap Novel Best Seller abad ini : Laskar Pelangi?

Mungkin ada yang belum (maksudnya belum dua kali bacanya ) ada yang sudah dan lain-lain.

Masih ingat dengan sepotong kisah dari novel itu yang menceritakan teori tentang panyakit gila yang dibuat ibu si Ikal?

Baiklah jika Anda tidak ingat, saya akan mencoba memanggil ingatan Anda itu.
Begini isi teori itu:
“Saat itulah aku mendengar untuk pertama kalinya teori canggih ibuku tentang penyakit gila. Gila itu ada 44 macam, semakin kecil nomornya semakimparah gilanya Gila yang menduduki urutan no.1 adalah orang-orang yang sudah tak berpakaian lagi dan lupa diri di jalan”.
Yang akan saya bahas bukan ke 44 sakit gila tersebut satu persatu. Tapi saya akan membahas sakit gila no.28, Hoarding.

Sekilas Tentang Hoarding


Saya sadar saya bukan ahli psikologi, tapi saya mencoba menelusuri untuk Anda gejala psikologi ini walaupun tak sampai sedetil mungkin. Karena mau tak mau sakit gilaini akan atau sedang menyerang kita dan orang-orang sekitar kita hanya saja kita tidak menyadari hal itu.

Kata Hoarding menurut kamus Inggris-Indonesia karangan John M.Echol dan Hassan Shadily: menimbun, dari kata dasar Hoard yang artinya timbun.

Hoarding adalah sebuah gejala psikologis yang ditandai dengan hobi aneh mengumpulkan barang-barang rongsokan tak berguna tapi sayang dibuang. Pelaku Hoarding disebut Hoarder.
Ada-ada saja gejala psikologis aneh yang dialami manusia akhir zaman ini.

Memang tanpa disadari gejala ini telah mengidap di diri saya sendiri seperti suka mengumpulkan bangkai-bangkai pulpen yang tintanya sudah habis lalu mengumpulkan buku-buku pelajaran waktu saya klas 1 SD pun masih ada bertumpuk di rak di sudut kamar.Kalau nenek saya hobi mengumpulkan tempat bedak yang isinya sudah habis. Kalau Anda apakah punya pengalaman gila juga?

Pertanyaannya adalah kenapa tidak dibuang, dijual atau disumbangkan saja?. Itulah hebatnya Hoarding. Dan jawaban yang keluar dari si hoarder adalah “jangan dibuang suatu saat itu pasti akan berguna atau jangan! Itu masih di pake”. Kan gila gak tu namanya?, yang ada malah merusak pandangan dan menyempitkan ruangan.

Obat Penyakit Gila No.28

Di Amerika, para hoarder yang suka mengumpulkan hewan peliharaan sampai membentuk sebuah tim, tepatnya “Hoarding Prevention Team’, dengan adanya tim atau komunitas dapat membantu para hoarder pengumpul hewan ini untuk mencegah mereka mengumpulkan hewan pelliharaan lebih banyak lagi. Bukannya dilarang untuk memelihara hewan peliharaan dalam jumlah banyak sampai bisa buka kebun binatang mini, tapi masalahnya kebanyakan para hoarder ini tidak merawat hewan-hewan tersebut dengan baik dan susah bagi para hoarder untuk mengikhlaskan hewan peliharaan tersebut pergi.

Solusi dari saya, untuk saya dan semua pembaca dalam mengatasi penyakit gila ini dengan cara menyisihkan waktu luang kita untuk focus membersihkan barang rongsokan tersebut seperti mengumpulkan barang itu dalam satu kardus besar, lalu kalau memang bisa dijual ya dijual saja ke tukang botot.

Pada saat membersihkan usahakanlah si hoarder didampingi oleh seseorang yang waras yang dapat menyadarkan si hoarder itu bahwa barang-barang rongsokan itu memang sudah waktunya dibuang dantidak baik juga untuk kesehatan jiwa dan raga.

Dan tahukah Anda, ternyata bila kita berhasil menyingkirkan barang-barang bekas itu, rasanya lega luarbiasa. Kamar atau ruangan kita jadi lebih luas, segala yang menyakitkan mata sudah dienyahkan. Lakukanlah lalu perhatikanlah apa yang terjadi, begitu kata Pak Mario Teguh menutup acaranya.

ODONG-ODONG HAHAHA


Satu benda yang jika disebutkan berhasil menggelitik perutku, membuatku ingin tertawa, kadang tersenyum-senyum sendiri dalam setahun terakhir ini, yup kata itu adalah odong-odong hahaha, sekali lagi!, odong-odong hahaha, lagi!, odong-odong hahaha, lagi!, ah udah ah, kapan ceritanya dimulai nih.


Memang sejak beberapa tahun terakhir yang namanya odong-odong sedang naik daun, bisa diilang artis papan ataslah, saking terkenalnya dikalangan anak-anak. Entah siapa pencipta kata unik tersebut “odong-odong”, apakah dari bahasa Sansekerta tau dari bahasa mana. Ah entahlah perlu penelitian lebih lanjut sepertinya atau tanya saja pada rumput bergoyang.

Hiburan Anak Yang Murah Meriah


Praktis tak ada lagi pusat permainan anak yang murah meriah dan terletak di pusat kota , sejak Taman Ria Medan dirobohkan dan sudah berdiri megah pusat perbelanjaan terbesar di Medan, Plaza Medan Fair.


Dulu sewaktu saya masih kecil, asal ke Taman Ria saya paling suka naik odong-odong. Odong-odong yang berbentuk mobil-mobilan, kuda-kudaan atau tokoh karton. Untuk menaiki mainan tersebut kita harus memiliki koin khusus yang dijual pengelola. Saat naik odong-odong itu, saya tidak mau turun, yang penting tetap di atas odong-odong yang bergerak naik turun maju mundur dengan lembut sampai membuat saya terkantuk-kantuk dibuai odong-odong, kalau diangkat untuk digendong pasti saya menangis. Untung saya tidak ditinggal pulang orangtua saya, kalau itu terjadi saya sudah jadi anak pengelola odong-odong itu kali ya!:).


Walaupun Taman Ria sudah tidak ada kalaupun ada tapi jaraknya cukup jauh dari rumah serta mungkin saja harga satu permainan tidak seterjangakau seperti dulu. Kini, para bocah tidak perlu repot-repot ke mal ataupun ke Taman Ria untuk mencari hiburan. Mereka cukup nangkring di depan rumah mnunggu odong-odong lewat. Untuk menaiki odong-odong cukup membayar Rp.2000, sekali putaran.


Nama Kerennya Kiddi Ride


Ada berbagai macam odong-odong atau Kiddi Ride, mulai dari yang berbentuk kuda-kudaan atau komidi putar yang digerakkan dengan ontelan kaki sang operator, ada yang membutuhkan 1 koin atau 2 koin seperti yang ada di Taman Ria dulu atau sekarang masih ada di mal-mal, sampai kereta dua-tiga gerbong yang digerakkan dengan mesin bermotor. Untuk membuatnya lebih menarik perhatian, dipasanglah peranti pemutar musik dan pengeras suarau untuk melantukan lagu anak-anak.


Mainan ini memasarkan diri dengan cara jemput bola, mendatangi perumahan-perumahan. Mulanya mereka menjamur di perumahan-perumahan di Jakarta dan kota-kota di pinggirnya. Namun, kini sudah merebak di seluruh penjuru tanah air termasuk kota Medan.
written by: Nurul Zee

Minggu, 22 Maret 2009


JANGAN MAU JADI MAHASISWA GAPTEK
Oleh: Fitri Amaliyah Batubara

Perkembangan zaman menuntut setiap orang untuk tetap aktif, kreatif dan inovatif dalam segala bidang. Zaman bisa saja tak lagi “akrab” dengan manusia yang statis dan hanya menunggu pemberian orang lain. Akibatnya, manusia tersebut akan “punah” dari muka bumi ini atau paling tidak tertindas pada komunitasnya yang terdahulu. Tak jauh beda dengan mahasiswa sebab mahasiswa adalah manusia.
Mahasiswa adalah manusia yang meniti ilmu di perguruan tinggi. Tak main-main sebutan mahasiswa pada orang yang meniti ilmu di perguruan tinggi sebab sebutan itu tersisip satu tanggung jawab besar, belajar, beramal dan mengajarkan. Mahasiswa tak boleh lupa bahwa tanggung jawab itu akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya kelak. Dengan segala kelebihan yang telah Ia berikan pada setiap manusia, pasti manusia bisa melakukan setiap tanggung jawab yang ada pada dirinya. Ia tidak akan membebani setiap orang di luar dari kesanggupannya.
Sadar atau tidak, mahasiswa saat ini sudah cukup banyak diberikan Allah kemudahan. Mahasiswa sekarang tidak perlu lagi menulis di atas batu seperti orang tua mereka dahulu. Mereka tak perlu cemas memikirkan tempat belajar seperti orang-orang sebelum Indonesia merdeka. Mahasiswa saat ini bisa dengan aman dan nyaman mempergunakan segala sarana dan prasarana yang ada yang dapat mendukung segala aktifitasnya. Nah, mahasiswa harus benar-benar pandai dan hati-hati dalam hal ini. Kalau tidak pandai dan hati-hati, mahasiswa harus bersiap-siap atas segala resiko yang ada.
Atas kehandak Allah, zaman telah menawarkan beragam fasilitas dalam hidup manusia, khusunya mahasiswa. Dulu mahasiswa menggunakan mesin tik untuk membuat makalah ataupun skripsi. Sekarang, mahasiswa dapat menggunakan komputer untuk hal itu. Bahkan, laptop pun sudah menjadi hal yang biasa jika seorang mahasiswa memilikinya. Mahasiswa yang merantau tak perlu lagi repot mengirim surat melalui kantor pos untuk menanyakan kabar orang tuanya sebab handphone sudah ada saat ini. Tak perlu yang mahal asal bisa menelpon dan dapat menunjang kelancaran perkuliahan. Kalau setiap ada perlu, ke kantor pos kan repot. Apalagi, perlu waktu lama untuk menunggu surat balasannya.
Saat ini mahasiswa dituntut untuk akrab dengan teknologi. Tak ada alasan untuk mengatakan tidak bisa karena itu hanya kata-kata yang pantas lahir dari seorang “manusia biasa”. Mahasiswa adalah manusia “luar biasa”, jadi ia tak pantas mengatakan tidak bisa. Seorang mahasiswa harus yakin bahwa dimana ada kemauan pasti ada jalan, apalagi untuk hal yang satu ini.
Banyak hal yang bisa dilakukan mahasiswa agar ia bisa “akrab “ dengan teknologi. Pertama, membaca buku yang berhubungan dengan dunia teknologi (cara membuat email, cara membuat blog, cara browsing, dll). Saat ini, cukup banyak toko buku yang menjual buku-buku seperti itu. Kita tinggal pilih saja, ada yang untuk pemula ada juga untuk para senior. Kedua, manfaatkan teman yang jago dunia teknologi. Jadikan ia guru bagi kita. Sesekali ajak ia untuk makan atau sekedar minum jus. Ini bukan paksaan, hanya anjuran dan sekedar lambang terimakasih saja. Ketiga, akrablah dengan komputer atau laptop. Bisa dengan cara membelinya untuk jadi milik pribadi atau sering-sering lah ke rental komputer. Coba saja semua program yang ada di komputer atau laptop. Tak perlu takut. Berani mencoba tak perlu takut salah karena salah adalah jalan agar kita menjadi benar.
Mahasiswa yang tidak juga mau berusaha agar ia tidak menjadi mahasiswa yang “gaptek” berarti ia suka dan rela dengan keadaannya itu. Padahal banyak manfaat yang bisa diperoleh kalau seorang mahasiswa tidak gaptek. Pertama, mengetahui perkembangan zaman dengan mudah sebab ia selalu tahu tentang berita-berita terkini, khususnya melalui internet. Kedua, menambah uang saku. Kemampuan mengoperasikan teknologi yang ada, misalnya saja komputer bisa membantu mahasiswa untuk menutupi biaya-biaya tak terduga. Membuat makalah atau skripsi bukan lagi hal yang susah buatnya, sehingga teman-temannya tak perlu lagi ke rental yang lain. Ketiga, terhebat dari yang terhebat. Di lokal, ia mahasiswa yang cerdas. Ia selalu lebih maju dari temannya yang gaptek. Ia tahu apa yang temannya belum tahu karena ia rajin mencari ilmu, pengetahuan dan informasi dari internet. Semua orang kagum dan bangga dengan kehebatannya dan kemahirannya. Apalagi, setiap orang bisa memanfaatkan kepandaiannya itu untuk hal-hal yang positif, misalnya teman untuk diskusi masalah tugas kampus.
Nyata sekali bahwa “gaptek” alias gagap teknologi bukanlah hal yang menguntungkan, baik untuk pribadi maupun untuk orang lain. Saat orang lain akrab dengan komputer, berusahalah untuk akrab dengan laptop. Ketika orang lain akrab dengan sms berusahalah untuk akrab dengan email. Intinya, kita harus lebih baik dan lebih maju dari orang lain. Hidup ini penuh dengan persaingan. Maka, bersainglah dengan sehat dan sportif. Bukankah berlomba –lomba dalam kebaikan sangat dianjurkan?
Siapa pun kita, belajar, beramal dan mengajarkan adalah konsep hidup yang harus kita jalankan dalam hidup ini. Jangan hanya belajar sebab itu akan membuat kita menjadi manusia yang tak punya arah dan egois. Jangan pula hanya belajar dan beramal karena itu akan menjadikan kita manusia yang sangat egois dan menyalahi hakikat ilmu. Kalau sudah belajar dan beramal, jangan lupa untuk menagajarkannya pada orang lain, insya Allah keberkahan akan datang. Kita pun akan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga!

Hanya Satu yang Tahu dan Mau
Oleh: Fitri Amaliyah Batubara

Sebatang pohon besar tumbang di jalan raya. Jalan yang selalu mereka lewati setiap harinya. Mereka yang pejabat, polisi, tokoh masyarakat sampai orang biasa yang selalu menaiki bus. Jalanan menjadi begitu macet, hingga tak ada ruang untuk bergerak. Namun, mereka saling menyalahkan, saling menunggu dan saling menanyakan “kenapa bisa begini?”. Tak ada yang tergerak hatinya apalagi fisiknya untuk mencari solusi terhadap masalah sepele seperti itu.
Tetap tak ada seorang pun yang menemukan solusinya sampai hujan turun dengan derasnya. Tapi, dari sebuah bus dibelakang sana ada seorang anak yang sejak awal memperhatikan masalah ini dan memperhatikan sikap setiap orang yang ada di tempat itu. Dia pun turun dan memandangi pohon itu sejenak di tengah derasnya hujan itu. Ia menangis. Spontan, ia pun berlari menuju pohon besar itu. Bukan main, ia berusaha mengangkat pohon itu sendiri agar setiap orang tak lagi saling menyalahkan, saling menunggu dan saling menanyakan “kenapa bisa begini?”.
Tanpa ia sadari, setiap orang memandangnya dan seolah-olah tak percaya dengan apa yang anak itu lakukan. Seketika, ia disusul oleh kekuatan anak kecil lainnya. Mereka senyum satu sama lain, seakan percaya kalau pohon besar itu bisa terangkat dengan kekuatan tangan-tangan kecil mereka. Tapi, keyakinan itu memang benar terjadi. Aura polos mereka mendorong hati setiap orang dewasa yang melihatnya untuk segera membantu mereka.
Hujan perlahan berhenti dan matahari pun mulai menampakkan dirinya. Pohon besar itu tak lagi berada di tengah jalan itu. Setiap orang tersenyum dan membanggakan anak itu. Senyum itu hanya untuk kepolosan dan kehebatan anak kecil itu. Bukan untuk siapa-siapa. (Andai sejuta anak terlahir dengan kehebatan itu!). Semoga.



(Kisah ini adalah sepenggal cerita dari sepotong film India. Saya ceritakan kembali setelah menyaksikannya di Hotel Madani Medan. Semoga Bermanfaat!)

88embun.pagi@gmail.com

Minggu, 15 Maret 2009

Ternyata Takdir pun Bisa Diubah

Oleh : Sukma

Berbicara perihal takdir ibarat membicarakan hal yang ghaib. Namun keghaiban itu bukan berarti tidak bisa diilmiahkan. Takdir memang tidak dapat diperdebatkan hanya dengan bermodalkan percaya atau tidak percaya belaka. Melainkan konsistensi takdir yang datang manakala tidak kita inginkan, atau sama sekali kita harapkan, itulah ciri khas dari takdir tersebut.

Sebagai kaum yang beriman kepada Allah maka sudah sepatutnya kita sepenuhnya percaya kepada takdir. Karena selain merupakan bagian dari rukun iman yang enam, tentang hal ini Al-qur`an juga telah menjelaskan dalam Surat An-Nisa ayat 136 yang berbunyi,” Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya”

Walau tidak nyata dalam perwujudan dimana letak takdir itu diposisikan. Namun yang jelas kita tidak perlu risau akan kehadiran takdir yang secara parsial akan sulit untuk didefinisikan.

Keparsialan takdir itu hanya akan meliputi sisi terluar dari pemaknaan terhadap takdir itu sendiri. Inilah yang kemudian mengarahkan kita titik kekeliruan dalam pemaknaan takdir secara utuh.

Takdir berasal dari kata qadr, yakni kadar, ukuran atau batas. Semua alam semestar ini beraktivitas berdasarkan takdir (batas) yang telah dikendaki oleh Allah swt.
Burung-burung terbang berdasarkan takdirnya dan ikan-ikan berenang berdasarkan takdirnya. Manusia pula diciptakan Allah berdasarkan takdirnya, sehingga tidak bisa terbang liar seperti burung atau berenang bebas seperti ikan.

Dia yang menciptakan segala sesuatu, Dia pula yang menetapkan atasnya takdir yang sesempurn-sempurnanya (QS.25:2)

Itulah, dari yang kecil hingga yang besar, ada takdir yang ditetapkan Tuhan atasnya (lihat QS 65:3). Sehingga dari semua itu, apa-apa yang telah Allah ciptakan, terdapatlah kemungkinan takdir yang tengah digariskan padanya.

Tenaga Allah, Tangan Manusia

KH. Ridwan Hamid dalam sebuah ceramahnya pernah menyampaikan bahwa jikalau semua pekerjaan manusia ini adalah pekerjaan Allah maka sesungguhnya tiada makna antara dosa dan pahala.

Beliau juga menjelaskan bahwa takdir yang digariskan Allah pada tiap hambanya kerap dipulangkan kembali pada hamba tersebut. Ini berarti penggunaan atas takdir yang diberikan senantiasa menuntun manusia untuk memaknai ketuhanan Allah sebagai sang pencipta.

Takdir memang tidak lepas dari baik dan buruk. Orang yang terkena banjir bisa jadi karena takdirnya dari Allah. Namun apakah banjir tersebut tidak ada campur tangan manusia di dalamnya sebagai upaya menemukan sebab-musabab di dalam banjir tersebut ?

Inilah yang kemudian di simbolkan oleh KH. Ridwan Hamid bahwa tenaga, nikmat, bahkan ujian yang Allah berikan hanya akan tergantung kepada bagaimana hamba tersebut mampu memberdayakannya pada proses pendekatan dirinya kepada Allah.

Seperti dicontohkan, ketika saya memberikan sebuah pisau kepada seseorang untuk memudahkannya dalam hal memasak. Lalu kemudian pisau itu malah digunakan seseorang tersebut untuk melukai orang lain. Maka, inilah takdir !

Tapi, tentu kita bisa bedakan, mana perbuatan saya dan mana perbuatan orang yang saya beri pisau itu. Hal yang dipilihnya untuk menggunakan pisau sebagai alat memasak adalah takdir sedangkan pisau yang dipakainya untuk melukai orang lain juga kita sebut sebagai takdir.

Begitulah dengan nikmat atau bantuan Allah. Kita diberikan Allah berbagai potensi untuk kita gunakan pada hal-hal yang mengarah pada prosesi pencapaian takdir tersebut. Hanya saja, terletak di tangan kita lah pilihan takdir positif dan takdir negatif itu berada.


Mari Mengubah Takdir

Dari uraian di atas sudah selayaknya kita sepakat bahwa takdir sebagian berada pada pilihan kita. Allah hanyalah memberikan serta mengabulkan apa yang telah kita pilih tersebut.

Anda menjadi orang susah adalah takdir. Anda pun kaya tetaplah sebuah takdir. Lalu, mana takdir yang kita pilih ? Jawabannya tentu pada seberapa kuat kita mengarahkan segenap potensi yang telah Allah takdirkan jauh-jauh waktu sebelum kita Anda.

Memang secara jujur, pelbagai pandangan seputar takdir sangat sulit dipahami, sehingga menimbulkan kesalahpahaman. Namun demikian, banyak faktor yang lebih dominan dalam kemunduran umat pada saat sekarang ini. Kemunduran itulah yang menurut ulama kondang, M. Quraish Shihab, diartikan sebagai penimpaan salah satu faktor yang belum sepenuhnya terbukti.

Penimpaan salah satu faktor tersebut hanya ditujukan sesaat malapetaka datang kepada kita. Kondisi ketidakamanan ini malah menjadi sebuah definisi tunggal dalam pemaknaanya terhadap takdir. Kesusahan, musibah dan kesedihan lebih cenderung kita sudutkan pada persoalan takdir semata. Namun, ketika kita sukses dan bahagia, takdir sama sekali tidak tersentuh.

Sikap ini yang sangat tidak sejalan dengan penjelasan Al-Qur`an : Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja yang menimpamu maka itu (kesalahan) dari dirimu sendiri.”(QS. 4: 74)

Hal ini yang menjadi dalil bahwa kita tidak bisa melepaskan diri dari takdir Allah. Tetapi, lagi-lagi yang harus diingat adalah takdir Allah tidaklah satu.

Takdir itu pula yang kemudian bisa diterjemahkan sebagai sebuah aturan, norma, dan tanda atau hukum. Semisal hukum di jalan raya. Ketika kita mengendarai sepeda motor, misalnya. Maka hukum dan peraturan itu akan tetap berlaku. Sebut saja penggunaan helm. Kita dituntut untuk menggunakan helm disaat berkenderaan roda dua.

Dengan memenuhi aturan itu, keselamatan dari penilangan polisi akan dapat dihindari. Terlebih lagi disaat kecelakaan. Setidaknya posisi kepala dapat lebih meminimalkan benturan yang terjadi saat kecelakaan tersebut.

Namun begitupun, ketika helm dan surat-menyurat kenderaan telah kita penuhi. Rambu-rambu kita patuhi. Bukan tidak mungkin kecelakaan tetap saja bisa terjadi. Itulah yang semula kita sebut sebagai takdir.

Memenuhi aturan pun bisa kita sebut sebagai takdir dan melanggar aturan juga kata lain dalam memaknai takdir yang telah kita pilih. Untuk itulah, takdir tidak semata campur tangan Allah saja. Melainkan takdir adalah usaha dimana kita secara terus-menerus melakukan apa-apa yang dianjurkan Allah swt.

Kemudian, takdir yang telah kita pilih tersebut (meskipun yang terjadi negatif atau positif) hendaklah menjadi pemicu bahwa segala sesuatu yang tengah kita kerjakan merupakan sebuah usaha agar kita senantiasa dekat dengan Allah.

Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Lentara Hati juga menambahkan bahwa kelirulah seseorang yang hanya mengingat takdir pada saat terjadi malapetaka saja. Namun lebih keliru lagi yang mempersalahkan takdir untuk malapetaka yang menimpanya.

Maka, mulai sekarang ubahlah takdir Anda !

Medan, 4 Februari 2009

Menyimak Cleopatra Buatan Kang Abik

Oleh : Sukma


Pudarnya Pesona Cleopatra, inilah karya keempat Habiburrahman El-Shirazy sebelum Ayat-Ayat Cinta meledak di pasaran. Karyanya ini diterbitkan oleh Penerbit Republika pada Nopember 2005 lalu. Kang Abik, begitu beliau biasa disapa, sangat luwes menyajikan fakta dalam dunia rekaannya kali ini. Setelah beberapa buku kumpulan kisah islami penyejuk jiwanya berhasil menembus angka best seller dalam proses penjualannya. Sebut saja bukunya yang berjudul Bercinta Untuk Surga (terbitan Grenada Busur Budaya, Jogjakarta 2003), Di atas Sajadah Cinta (Basmala Press, Semarang 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (MQ Publishing, Mei-Bandung 2005).

Kang Abik memang terkenal dengan ikon “Cinta” dalam tiap judul yang ia bubuhkan. Bisa jadi, ini yang membuat tiap karyanya begitu menggoda. Bukan hanya membius kalangan anak muda, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, hingga para ulama juga turut menikmati suguhan demi suguhan karyanya.

Hebatnya pula, Pudarnya Pesona Cleopatra juga mampu menyamai Ayat-Ayat Cinta yang meledak di pasaran hingga mengalami cetak ulang beberapa kali. Buku yang dikemas dalam bentuk novel mini ini terhitung hingga Maret 2007 saja sudah mencapai cetakan ke-IX. Waw.. hebat bukan !

Novel mini racikan kang Abik ini memberikan semacam pencerahan bagi para siapa saja yang begitu memuja keindahan, kecantikan, dan kemolekan fisik belaka. Layaknya Ayat-Ayat Cinta, buku keempatnya ini tidak kalah mengasyikkan dengan buku-buku setelahnya. Kita bisa meniliknya dari alur cerita yang sengaja disajikan begitu meliuk-liuk hati.

Tokoh yang diangkat dalam ceritanya kali ini mengkisahkan bagaimana seorang anak lelaki yang hendak dijodohkan oleh ibunya dengan seseorang, yang menurutnya, termasuk perempuan biasa.

Setting tempat yang digambarkan Kang Abik sebenarnya terbilang sederhana yakni meliputi kondisi sosial masyarakat Indonesia biasa. Hanya saja, tokoh aku yang dikemas oleh penulis cukup memukau. Pergolakan batin yang cukup hebat begitu detil dipoles oleh Kang Abik.

Bagaimana tokoh harus menolak harapan ibunya untuk menikahi Raihana yang hanya perempuan biasa. Dari keturunan orang biasa, muslimah biasa dan tiada yang istimewa dalam pandangan tokoh aku yang sengaja diciptakan si penulis.

Namun dari hal-hal yang biasa ini, si penulis berhasil menciptakan konflik yang tiada henti untuk kita nikmati. Meski konflik tersebut menyita keresahan batin si pembaca. Maka saya sangat yakin, tulisan Kang Abik ini akan lebih mendekatkan kita pada apa yang namanya kegundahan, kebimbangan dan kepasrahan.

Cleopatra atau Raihana

Tokoh aku yang diciptakan kang Abik begitu menggoda. Ketika ia harus membayangkan bagaimana seorang perempuan sekaliber Cleopatra, bakal menjadi istrinya kelak.
Tapi seleraku lain. Entah mengapa. Apakah mungkin karena aku telah begitu hanyut dengan citra gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra yang tinggi semampai ? Yang berwajah putih jelita dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas Arab, dan bibir merah halus menawan. Dalam balutan jilbab sutera putih wajah gadis mesir itu.

Jika tersenyum, lesung pipinya akan menyihir siapa saja yang melihatnya. Aura pesona kecantikan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra itu sedemikian kuat mengakar dalam otak, perasaan dan hatiku.

Kalimat itu yang diukir penulis dalam mendeskripsikan bagaimana takjubnya ia pada gadis-gadis Mesir secantik Cleopatra. Bukan seperti Raihana yang keturunan Jawa. Hanya orang biasa. Tiada menggoda hati kala memandangnya.

Namun, apa yang bisa dilakukan tokoh aku kala pilihan ibunya lebih memutuskan untuk ia harus menikahi Raihana, teman ibunya itu. Tokoh aku merasa dalam kebimbangan yang amat dahsyat. Di sini kang Abik tidak kewalahan dalam mengobrak-abrik hati pembaca dengan konflik yang terus-menerus dibangunnya.

Walau menurut, si adik tokoh utama, Raihana memang terlihat cantik dan baby face. Tetap saja si aku lebih menyukai gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra itu sendiri. Hmm, bukan pilihan yang gampang. Bahkan ketika khitbah hingga menjalani rumah tangga, Raihana tetap menjadi tokoh yang layak untuk terus diamati.

Bagaimana Raihana seorang muslimah yang taat beragama melayanai si tokoh aku sebagai suaminya dengan baik dan santun. Walau sebenarnya hati Raihana sudah menerka kalau suaminya itu sekalipun tidak pernah mencintainya.

Yah, itulah Raihana dengan karakternya. Pantas saja ibu si tokoh utama tetap ngotot menikahkan Raihana dengan anaknya itu. Karena bisa jadi tokoh si ibu yang dibangun penulis sudah didesain sedemikian rupa bahwa Raihana lah yang pantas menikahi seorang pria seperti tokoh aku tersebut.

Dari cuplikan dialog berikut betapa kita bisa merasakan bahwa Raihana adalah perempuan yang begitu taat dan sayang pada suaminya.

“Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa Mas. Pakai balsem, minyak kayu putih atau pakai jamu ?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar.

“Mas jangan diam saja dong. Aku kan tidak tau apa yang harus aku lakukan untuk membantu Mas.”

“Biasanya dikerokin.” Kataku lirih

“Kalau begitu kaos Mas dilepas, ya. Biar Hana kerokin.” Sahut Raihana sambil tanggannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan yang halus. Setelah selesai dikerok, Raihana membawa satu mangkuk bubur kacang hijau panas untukku.


“Biasanya dalam keadaan meriang makan nasi itu tidak selera. Kebetulan Hana buat bubur kacang hijau. Makanlah Mas untuk mengisi perut biar segera pulih.”

Memang, tokoh aku yang diciptakan kang Abik adalah tokoh aku yang sengaja disetting dengan karakter santun, berbudi, taat ibadah dan yang tak kalah hebatnya, kang Abik menjadikan tokoh aku sebagai orang yang sudah lama hidup di Mesir. Tentu dengan cita rasa negeri Piramid itu pula. Kekentalan watak Mesir dan Cleopatra pada tokoh aku cukup signifikan dijelaskan oleh penulis dalam novel mininya ini.



Pilihan Hati yang Sulit

Tidak hanya pada titik perseteruan tokoh aku yang diceritakan begitu memesona hati. Raihanah, sebagai tokoh kedua dalam novel mini ini memberi semacam asupan gizi yang tak kalah penting dari seorang manusia bernama perempuan.

Tatkala hati begitu bergelimang bahagia lantaran telah mendapatkan suami yang selama ini begitu diharapkannya. Namun, perjuangan Raihana tidak boleh berhenti setelahnya. Perlakukan dingin dari suami membuat ia kian pasrah bahwa Tuhan tetap memiliki skenario terbaik untuk dirinya.

Raihana malah bertambah susah hatinya, meski dalam konteks susah yang dialami Raihana tidak pernah menelungkupkan rasa bosan, benci apalagi amarah untuk sang suami. Hingga akhirnya berbulan-bulan ia harus menahan diri dari pelukan, ciuman, ucapan mesra bahkan ah, hubungan intim sekalipun.

Namun tetap dalam keputusan semula, tokoh aku tak pernah letih mengkhayalkan bagaimana gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra sanggup menikahi dirinya. Angannya tentang Raihana cuma sebatas pelengkap saja. Tidak lebih.

Hingga pada suatu ketika, kehamilan Raihana tanpa cinta, kandungannya membesar tanpa butuh kasih sayang si suami, tokoh aku tetap saja tidak membubuhkan setitik cinta untuk Raihana pula.

Dramatis memang, namun Kang Abik tidak gagal melepaskan dirinya dari karya yang bersifat klise. Masa usia kandungan Raihana makin uzur, disitu pula Kang Abik tidak begitu buru-buru memukul para pembaca untuk lekas memecah air mata.

Kang Abik menghadirkan konflik yang begitu mengharu-biru. Raihana meninggal bersama bayi di dalam kandungannya. Saat itu tokoh aku tengah mengikuti pelatihan di daerah puncak yang cukup jauh dari Raihana.

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku sesak oleh dada yang haru luar biasa. Tangisku meledak. Dalam isak, tangisku tentang semua kebaikan Raihana selama ini terbayang. Wajahnya yang teduh dan baby face, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tangisnya saat bersimpuh dan memeluk kedua kakiku, semua terbayang dan mengalirkan perasaan haru dan cinta. Ya, cinta itu datang dalam keharuanku.

Seketika itu, pesona kecantikan Cleopatra memudar, berganti cahaya cinta Raihana yang terang di hatiku.


Tokoh aku melembutkan cintanya untuk sang istri yang telah tiada. Meski cinta itu datang terlambat, Kang Abik seolah ingin menawarkan suguhan baru terhadap mereka yang selalu memuja cinta lewat kecantikan fisik belaka.

Cinta yang dikemas Kang Abik kali ini, benar-benar menjanjikan sebuah kenikmatan dahsyat. Sebuah pengorbanan demi cinta, sebuah makna perjuangan mempertahankan cinta untuk cinta. Dan setelahnya, cinta kepada apa-apa yang dicintai akan lebih menghantarkan kita untuk kerap terdampar ke dermaga surga.

Lalu, kenapa kita masih juga mengotori rasa cinta itu ?

Sastrawan Memosisikan Diri Sebagai Dai, Kenapa Tidak ?

Oleh : Sukma


Apakah beda antara sastrawan dengan dai, ulama atau dengan ustadz ?


Kiranya itu pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab. Ya, tentu kalau diamati secara sepintas barangkali keduanya memiliki status yang berbeda. Namun dalam tulisan Helvi Tiana Rosa yang berjudul Lagi, Soal Sastra Islam bahwa keduanya kerap tidak memiliki perbedaan signifikan.

Lahirnya seorang sastrawan pastilah diawali dengan sebuah proses dimana individu tersebut menekuni, memahami, mempelajari dan mengaplikasikan sastra sebagai jalan hidupnya. Hanya saja persoalannya, apakah sastrawan tersebut merasa perlu untuk mengkaji ulang nilai-nilai sastra yang ditulisnya dalam tiap karyanya tersebut ?

Tentu pengkajian ulang terhadap nilai-nilai sastra tersebut bukanlah dimaknai
sebagai proses pembelajaran dalam hal tekni penyajian cerita semata. Melainkan bagaimana ruh sastra yang dibubuhkan dalam tiap karya haruslah benar-benar nyata, hidup dan ada dalam diri individu tersebut.

Walaupun secara konsep hal ini tidak menjadi sebuah keharusan. Akan tetapi, bisa jadi ini pula yang menjadi titik perbedaan secara jelas antara sastrawan dan dai. Dai dituntut menyampaikan, melakukan dan berpikir secara kontekstual pemahaman keagamaannya. Ritual kedaiannya haruslah senantiasa hidup menjadi sebuah aktifitas kerohanian yang utuh.

Hal ini yang semestinya menjadi sebuah keharusan menjadikan dai haruslah tampil sempurna. Walau setiap kita meyakini proses kesempurnaan tetap ada pada siapa saja dan kesempurnaan secara menyeluruh tiada pernah kita dapati.

Nyaris tiada berbeda dengan kegiatan bersastranya para sastrawan. Harun Daud pernah menyampaikan bahwa tujuan kesusasteraan adalah untuk mendidik dan membantu manusia ke arah pencapaian ilmu yang menyelamatkan, bukan untuk membentuk manusia yang spekulatif.

Sementara tujuan dai tercipta sebagai penyampai dakwah. Secara jelasnya dakwah tentu diartikan sebagai bentuk kegiatan penyeruan kepada orang banyak tentang nilai-nilai kebenaran ilahiah.

Sastra Dai, Sastra Islam


Dalam konteks ini (mungkin) dai dan sastrawan akan ditemukan pada satu titik. Walau polemik tentang sastra Islam hingga kini tetap saja tidak pernah berujung. Belum lagi secara definisi sastra Islam sejauh ini tidak memiliki standar pemaknaan yang cukup jelas. Helvi juga menjelaskan bahwa polemik sastra Islam bukan hanya pada definisi belaka melainkan lebih kepada ketidak-setujuan mengenai apa yang disebut sebagai ‘pengotak-otakan sastra’.

Letak sastrawan dan dai dalam pembahasan kali ini akan semakin kita perjelas. Namun Abdul Hadi W.M. Dalam sebuah seminar tentang sastra profetik yang menghadirkan Suminto A. Sayuti, Helvi dan Kuntowijoyo sebagai pembicara ada Mei 2000 lalu di Yogya, mengatakan bahwa sastra Islam itu ada, bahkan eksis. “Sastra Hindu aja ada, mengapa sastra Islam tak ada ?” katanya.

Maka peletakan mana sastrawan dan dai sudah harus semakin dikarekterkan. Dai yang secara prinsip mengambil ranah penyampaian kebenaran lewat praktik-praktik, ritual-ritual serta aneka tabligh yang dikelola secara baik dan sistematis lewat majelis yang telah jelas tempatnya. Begitu pula dengan sastrawan, bentuk kegiatan bersastra yang dikelola kerap selalu dipisahkan dengan kegiatan bertabligh yang diampu oleh para ulama dan dai itu sendiri.

Hanya saja dalam pembahasan kali ini saya tidak bermaskud membeda-bedakan mana profesi ulama (dai) dan mana kegiatan bersastranya para sastrawan. Berangkat dari tulisan Helvi T. Rosa sebagai pendiri Forum Lingkar Pena, sebuah wadah kaderisasai penulis muda Indonesia, yang berusaha terus-menerus untuk menciptakan iklim penulis (sastrawan) yang berlabel ulama.

Karena dalam konteks Islam, semua yang dilakukan seorang muslim sudah seharusnya merupakan manifestasi dari bagaimana aktifitas hidupnya tidak lekang dari ibadah kepada Tuhannya.

Inilah yang kemudian merasuk dalam kehidupan bersastranya setiap muslim. Menurut Shauqi Dhaif, sastra (adab) adalah karya yang dapat membentuk ke arah kesempurnaan kemanusiaan yang di dalamnya terkandung ciri estetika dan kebenaran.

Kebenaran yang dikemas dai sebenarnya selalu berwajah kembar dengan kebenaran yang disampaikan kaum sastrawan. Proses tampilan, teknis dan muatannya saja yang berbeda.

Inilah yang kemudian menuntut siapa saja, baik itu dai dan sasrawan, tidak perlu repot-repot menterjemahkan proses kreatif menyampaikan kebenaran secara teknis.

Membeda-bedakan antara ranah sastarawan dan dai inilah yang menuntut kita pada sebuah gerbang bernama perpecahan. Islam sebagai agama kebenaran selalu mengajarkan keuniversalan dalam hal pemaknaan aplikasi di kehidupan nyata.

Meski menurut Helvi dalam sebuah esainya, Lagi, Soal Sastra Islam¸ menganggap bahwa sastra Islam berbeda dengan sastra yang bersumberkan Islam. Jelas, dalam karyanya selalu saja selain tampilan dakwah yang diusung dalam tema tulisannya, jauh dari itu sastrawan tersebut harus Islam dan benar-benar memahami kontekstual Islam secara utuh.

Arahan dai dan sastrawan dalam tulisan ini memang dituju pada mereka yang masih sungkan meneruskan karyanya pada genre sastra Islam yang sejak masa Amir Hamzah telah dimulai. Sebagaimana Buya Hamka, seorang ulama dan sastrawan yang sekaligus membingkai nilai dakwah dalam tatanan yang seiring sejalan.

Keberadaan Buya Hamka telah menjadikan wacana baru bagi kita bahwa dakwahnya seorang sastrawan adalah ruhnya sebagian para dai di dalamnya. Maka, bersyukurlah kita yang saat ini tengah menjalani proses keduanya.

Karena sastra dan dakwah adalah serangkaian nilai-nilai luhur yang secara berbarengan menjadi sarana untuk perbaikan moral masyarakat ke depannya.

Semoga !

Misteri Kelengangan Epri Tsaqib

Oleh : Sukma

ada ruang kosong di hatiku
yang selalu menunggu KAU isi

tapi selama ini
sesungguhnya aku lupa
pintu ruang itu selalu terkunci

kuncinya tertinggal
di rumahMu


Ada rasa yang berbeda dari puisi karya Epri Tsaqib yang berjudul Ruang Kosong tersebut. Rasa itu tidak sendiri. Epri Tsaqib seolah ingin mengenalkan sebuah misteri yang dirasanya, dipikirkan serta ditemukannya. Walau sebenarnya misteri itu tidak selamanya bernilai misteri. Malah pun sesudahnya ketika sesuatu dilabelkan misteri, pasti lah ada misteri lain di dalam kata “misteri” itu.

Pada Ruang Kosong di atas misalnya, kekosongan yang hendak dikenalkan Epri memberi semacam argumentasi bahwa apa sebenarnya yang ruang kosong itu. Kekosongan yang menimbulkan ruang itu menjadi kosong serta kondisi dimana kekosongan itu lamat-lamat mengarah pada sebuah objek bernama hati.

Maka sepertinya kekosongan ruangan bernama hati itu tidak pula dialami Epri dalam sajaknya kali ini. Berdiri di antara 3 jembatan/sepotong kain putih tanpa kancing/sebuah buku diari/sesobek alamat/ dan petunjuk jalan. Adalah isi sajak baru berjudulkan Kematian 4 turut pula makin memperjelas kekosongan tempat itu dalam ruang bernama hati.

Tentulah hubungan yang jelas antara hati dan kematian tidak bisa disepelekan. Rasa yang dimiliki hati, penilaian yang dimiliki hati tentang mati dan kematian bukanlah hal yang bisa dirumuskan dalam sebuah perdebatan tanpa makna. Justru mati dan kematian adalah sahabat hati yang paling dekat.

Mumpung ruang kosong bernama hati itu belum benar-benar dihancurkan, maka sepertinya Epri hendak mengkisahkan betapa gelisahnya hati tatkala ia kosong, tatkala ia sepi dan tatkala itu pula misteri mulai muncul.

Ah, itu pula Ruang Lengang yang hendak Epri paparkan dalam antologi sajaknya terbitan Pustaka Jamil pada Juni 2008 lalu. Kelengangan yang berbuih pada sajak-sajak telah mengental dalam diri Epri (mungkin) terutama hati.

Ia-nya seolah menikmati perrsenggamaannya dengan lengang layaknya ruang kosong, mati dan misteri. Hanya saja, dalam sajak berikutnya Epri makin tak gamang menunjukkan kesetiannya pada lengang untuk terus ditimang-timang dalam hatinya.

Tiup lilinmu, nak
Ambil nafas
Sisipkan sebaris doa
Untuk teman-temanmu di luar sana
Yang tak bisa tidur
Karena lapar
Malam ini

Tiup lilinmu, nak
Ayah titip adikmu
Jaga ibu
Jangan buat airmata dukanya
Tumpah karenamu

Sajak bertajuk Tiup Lilinnya Nak pun memberikan penjelasan yang tiada berbeda jauh sebagai simbol pengharapan Epri. Simbol itu berwujud pada ulang tahun. Pada pesta kecil yang tiap tahun terbiasa digelar. Bukan pestanya, bukan hadiahnya, bukan lilinnya, bukan pula hari ulang tahunnya melainkan sebaris doa yang diselipkan Epri pada anak-anak sajaknya.

Pengharapan dan doa merupakan simbol dari pesta kecil bernama ulang tahun. Padahal jauh dari itu, penyair tidak jengah meletak lengang diantara harap dan doa itu. Lagi-lagi semua tetap bermuara pada titik kelengangan yang akhirnya melebur menjadi sebuah misteri yang terus dikumpul Epri di dalam hatinya.

Menimbang-nimbang tentang kelengangan sepertinya Epri tidak mau sendiri. Kelengangan itu selalu saja dia temukan dimana hatinya berada. Jauh dari itu semua, harapan akan kelangan jatuh pula pada Perjalanan Celanadalam¬-nya. Setelah berkelana kesana-kemari/celanadalam itu merasa lelah, ia begitu rindu ingin pulang.

Dalam sajaknya yang satu ini, penyair lebih memilih ruang lengang lewat pemotretrannya terhadap apa yang biasa disebut kegundahan sosial. Kaca mata sosial lebih banyak berucap macam-macam tentang perjalanan panjang celana dalam. Di angkot, di pasar, di mall, di ruangan terbuka, di ruang sempit, di taman, di kantor-kantor dan kesemuanya itu membikin ruang kosong Epri makin terasa kosong. Pantas saja, pintu ruang itu selalu terkunci/kuncinya tertinggal/di rumahMu.

Kunci itu yang tak pernah atau sederhananya kita tak mau menemuinya. Bilanglah Epri, saya, kalian dan si pemilik celana dalam selalu alpa merasa ruang kosong itu tetap tidak pernah untuk diisi. Dalam sajaknya ini Epri menautkan satu dengan lainnya sebagai sebuah keadaan dimana kita telah jengah, kita tengah bosan mencari, menemukan kunci yang ada di rumahNya untuk kemudian mengisi sesuatu di dalam ruang kosong itu. Atau malah sebaliknya, ruang kosong itu, menurut Epri, kita tidak pernah merasakannya sama sekali.

Selanjutnya, bisa jadi Epri tidak hanya memberi jejalan emosi yang menuntutnya untuk terus gelisah dengan kekosongan hatinya. Melainkan dalam konteks Azan Jum`at, tentulah sajak ini lebih dari sekedar kritik belaka.

PintupintuMu terbuka
Sajadasajadah tergelar

:menunggu kening-kening angkuh.

Bayangkan betapa gelisah, kekosongan hati, kematian, dan misteri tetap dituangkan Epri terhadap satu penghambaan yang teramat dahsyat sebagai sebuah tawaran yang tidak main-main. Kening-kening angkuh masih saja setia dirindukan oleh sajadah-sajadah lusuh yang tiap kali kit memasukinya akan terbentang sebuah misteri baru dalam kekosongan hati yang terus berharap diisi.

Kumpulan puisi Ruang Lengang kali ini, justru tidak pernah sepi dari elaborai Epri terhadap bentuk sajak-sajaknya yang padat dan meriah terhadap ragam pemaknaan. Aku berlari pada puisi/lalu kami saling mengurai nyeri/dan begitu sibuk mengumpulkan air mata. Permainan Epri dengan sajak-sajaknya membuat sebagian orang terus merasakan kelengangan yang dikemasnya secara memesona. Nyata sudah perihal air mata, mengurai nyeri, berlari pada puisi adalah semenanjung konflik hati yang lagi-lagi tiada luput dari misteri.

Itulah hati !

Ketenangan batin dalam sosok hati makin mantap diminati siapa saja. Selain Epri, ternyata apa yang ditulisnya saat ini juga mengupas tampilan umum bagaimana hati-hati kita hari ini terus merindukan kedamaian yang diseret Epri dalam kelengangan tanpa tepi.

Begitupun wajah ibu selalu menjadi sorotan penting dalam Ruang Lengang kali ini. Engkau adalah jutaaan dongeng/yang mengantarkan malamku dari bintang ke bintang. Siapa saja, apa saja, dan dimana saja selalu saja dijelaskan Epri sebagai perwakilan rasa yang diramunya menjadi sebuah sajak-sajak penuh kekhasan.

Tidak menumpuk pada satu titik. Apa yang dipandang, dirasa, dilakukan, dan dipikirkan selalu penting untuk dinamai Epri dengan kelengangan. Dan itu, tentunya menimbulkan efek misteri bagi siapa saja yang merindukan iklim kelengangan seperti dirinya.

Setelahnya, selamat menikmati misteri yang dikemas Epri dalam sajak-sajak lainnya bernama Ruang Lengang itu.

Kamis, 05 Maret 2009

ORANG GILA YANG WARAS
Oleh: Fitri Amaliyah Batubara

Ketika itu (26 Pebruari 2009), aku hendak menyeberang jalan di kawasan .Jl. Prof. H.M Yamin. Melihat kondisi jalan yang cukup sepi dan aman untuk memulai penyeberangan, aku pun menyeberang. Aku tak sendirian karena di sampingku ada seseorang yang menurutku orang gila. Tapi, memang benar kalau dia orang gila. Pakaiannya kumal dan sobek, rambutnya kusut dan panjang, bau tak sedap dari tubuhnya sangat terasa walau aku berada 3 meter darinya dan dia tak peduli kalau setiap orang yang melewati jalan itu selalu melihatnya dengan pandangan yang tidak enak. Yah, namanya juga orang gila.
Satu jalur jalan sudah diseberangi, tinggal satu lagi. Menunggu jalur kedua sepi, aku sempatkan untuk mengambil fotonya dari jarak lebih kurang 3 meter. Aku tak langsung menyeberang karena jalanan masih sangat ramai ketika itu. Kutunggu beberapa menit sambil melihat hasil jepretan ku tadi. Lumayan bagus walau cuma menggunakan HP kamera biasa.
Jalan itu tak juga sepi, aku berpikir. Aku berhenti dan tidak langsung menyeberang karena kutahu dan kusadar kalau aku menyeberang saat jalan ramai akan membahayakan diriku. Orang gila disampingku juga berhenti untuk waktu yang cukup lama sepertiku. Aku tak tahu kenapa ia berhenti. Berbagai kemungkinan muncul di benakku. Salah satunya, memang ada mungkin orang gila yang waras di dunia ini. Buktinya, ya orang gila yang kutemui sore itu.
Saat untuk menyeberang pun tiba. Aku pun menyeberang tapi tidak dengan orang gila itu. Dia tetap berdiri di antara dua jalur jalan itu. Aku tetap memperhatikannya. Tidak lama, ia pun menyeberang. Dia menyeberangi jalur yang ia seberangi sebelumnya. Tapi, tidak lama dia menyeberangi jalur satu lagi dan ditambah jalur kedua. Aku masih berdiri di pinggir jalan itu untuk menunggu angkot. Ada rasa takut tentu. Apalagi, ia sempat hampir mendekat ke arahku. Baunya pun semakin terasa saja. Spontan aku pun menjauh dengan cepat. Kupikir dia akan menggangguku tapi ternyata tidak. Syukurlah….(Allahu a’lam)

Minggu, 01 Maret 2009

KONTRIBUSI PIKIRAN, PERASAAN, DAN LINGKUNGAN SOSIAL TERHADAP KUALITAS PRIBADI
MAHASISWA IAIN SUMATERA UTARA
Oleh:Fitri Amaliyah Batubara

Hidup, Pilihan, dan Motivasi
Pada awalnya, menjadi mahasiswa IAIN Sumatera Utara tak pernah terpikirkan oleh saya. Cita-cita dan impian yang sudah lama ada pada saya yang membuat saya berpikir seperti itu. Tak berlebihan, cita-cita saya pada waktu itu adalah kuliah di Universitas Sumatera Utara pada jurusan Ilmu Komunikasi atau di Universitas Negeri Medan pada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Karena itu, ketika di Madrasah Aliyah, saya memilih jurusan Bahasa. Untuk mewujudkan itu semua, jalur SPMB pun saya tempuh dengan persiapan yang matang, baik itu mental, materi, dll.
Dengan segenap usaha yang sudah saya lakukan, ternyata Universitas Sumatera Utara atau Universitas Negeri Medan bukanlah tempat yang Allah pilihkan untuk saya dalam berjuang menimba ilmu pengetahuan. Kecewa tentu ada, khususnya pada saat membaca satu persatu nama-nama yang lulus dalam SPMB tahun 2006. Tapi kecewa itu tidaklah lama, karena ada solusi lain yang datang. Solusi itu adalah kuliah di IAIN Sumatera Utara.
Jurusan Bahasa Inggris di IAIN yang membuat saya ikhlas memilih IAIN. Walaupun begitu, Bahasa Inggris bukanlah pilihan utama saya diatas formulir tetapi, Pendidikan Agama Islam. Bahasa Inggris hanya menjadi pilihan ketiga saya dan pilihan keduanya adalah Komunikasi Penyiaran Islam. Semua itu terjadi tentunya dengan pertimbangan yang datang dari orang-orang di sekeliling saya. Saya pun berpikir, bukankah Bahasa Inggris bisa didapat dimana saja dan dapat bermanfaat dimana saja. Bukankah menulis itu bisa dilakukan di jurusan manapun atau bidang apapun yang kita pilih. Dan pada akhirnya, saya memang terpilih di jurusan Pendidikan Agama Islam, jurusan yang menjadi favorit di IAIN Sumatera Utara.
Bagi saya kuliah di IAIN bukanlah hal yang begitu berbeda tapi juga bukan hal yang sepele. Tidak begitu berbeda karena saya berasal dari Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Artinya, masih ada hubungan yang erat diantaranya, baik itu dari segi pengetahuan maupun suasana lingkungannya. Bukan juga hal yang sepele, karena menuntut ilmu butuh tekad dan kemauan yang kuat agar tak sia-sia. Kita telah memilih maka tak bijak jika kita lari dari apa yang telah kita pilih.
“ ...Dan boleh jadi apa yang kamu benci akan sesuatu, sedang ia lebih baik bagimu dan boleh jadi kamu kasihi sesuatu , sedang ia tidak lebih baik bagimu. Allah mengetahui tetapi kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Berpikir untuk Berpikir
“Sesungguhnya telah Kami berikan hikmah (ilmu pengetahuan) kepada Luqman (firman Kami): Berterima kasihlah kepada Allah. Barangsiapa yang berterima kasih (kepadaNya), maka hanya berterima kasih untuk dirinya, dan barangsiapa yang kafir (tidak berterima kasih), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji.” (Q.S. Luqman: 12)
Eric Baum (2004) dalam What is Thoughth, Chapter Two: The Mind is a Computer Programmenuliskan bahwa pikiran adalah gagasan dan proses mental. Berpikir memungkinkan seseorang untuk merepresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan keinginan.
Jika dianalisis, benar bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan dan dengan berpikir apa yang kita harapkan bisa terjadi. Saya misalnya, saya tidak berharap menjadi guru walaupun saya telah memilih jurusan Pendidikan Agama Islam. Saya sempat terhenti sejenak dari semangat untuk bergiat di jurusan ini. Ada semacam kejenuhan dan keengganan untuk serius pada setiap mata kuliah yang saya dapatkan. Apalagi, mata kuliah Bahasa Inggris hanya saya dapatkan pada dua semester saja, itu pun di semester dua, dosen yang mengajarkan bidang ini tidak begitu saya harapkan. Terlalu materialistis dan tidak profesional. Selain itu yang membuat saya jenuh adalah impian untuk kuliah di perguruan tinggi lain sempat terbersit di benak saya kembali. Sampai sekarang pun pemikiran ini sesekali menyelinap di pemikiran saya.
Saya berpikir untuk berpikir kembali tentang segala hal yang saya pikirkan itu. Saya berpikir bahwa yang membuat perjalanan yang sudah sempat saya lalui ini menjadi bermanfaat hanyalah saya sendiri. Bukan orang lain. Saya coba mencari celah kebaikan dari masalah ini. Tak harus menjadi guru sehabis S1 pada jurusan ini. Banyak hal yang saya yakin bisa saya capai dari jurusan atau pengetahuan yang saya tekuni. Lantas, tersemat di pikiran saya untuk menjadi seorang Dosen bahkan Pakar Pendidikan yang berjuang untuk memperbaiki sistem pendidikan di negara ini.
Terkadang, dengan pemikiran ini, saya lebih semangat untuk serius dalam menuntut ilmu dan “bersaing” dengan teman-teman di IAIN khususnya di kelas saya sendiri. Namun, dengan segala keterbatasan yang ada -misalnya fasilitas yang tak lengkap dan sulit dijangkau, pergaulan yang tak sehat dan bermanfaat, juga lingkungan yang tidak efisien- dapat menghambat saya untuk bergerak bebas meraih yang saya harapkan. Tapi, lagi-lagi saya berpikir bagaimana caranya agar hambatan ini menjadi jalan buat saya untuk lebih kreatif. Semoga dengan ini, nantinya orang-orang setelah saya tidak akan merasakan hambatan ini juga. Tentunya dengan usaha perubahan yang lahir dari saya dan teman-teman lainnya yang berjuang di IAIN ini.

Hanya Perasaan
“Tiadakah engkau ketahui orang-orang yang membersihkan dirinya? Bahkan Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya, sedang mereka tiada teraniaya sedikitpun.” (Q.S. An-Nisa’: 49)
Sulit untuk membedakan antara keyakinan dan perasaan, butuh kejelian tentunya. Tapi, kita sering terjebak dalam hal perasaan. Perasaan juga yang kadang membuat kita terdiam dari apa yang kita harapkan. Perasaan tak senang, perasaan ingin marah, perasaan tak bersalah dan merasa selalu benar adalah contohnya. Dan perasaan seperti yang ditulis oleh Achmanto Mendatu adalah keadaan yang dirasakan sedang terjadi dalam diri seseorang.
Perasaan tidak senang pernah muncul di diri saya ketika telah lulus di jurusan Pendidikan Agama Islam. Perasaan ini lahir dari impian saya yang tidak tercapai. Ada keterasingan dengan pilihan ini, walaupun telah ada pertimbangan dan keyakinan untuk memilih jurusan ini. Yang jelas, saya benar-benar terjebak dengan perasaan ini. Padahal teman-teman saya yang lain tampak begitu semangat dan terlihat mantap dengan jurusan ini.
Ini hanya perasaan sementara karena perasaan positif telah muncul di diri saya. Perasaan optimis dan perasaan cocok dengan jurusan ini muncul mengalahkan perasaan tidak senang yang muncul pertama sekali. Jika saja perasaan tidak senang itu berdiam terlalu lama, saya mungkin sulit untuk serius dan bergiat di jurusan ini sampai semester 6 (enam) ini. Sampai sekarang, saya berusaha agar perasaan-perasaan negatif itu tak pernah datang dengan adanya perasaan-perasaan positif yang lahir dari adanya rasa kaeyakinan dan pemikiran bahwa saya harus bisa.

Beradaptasi dengan Lingkungan Sosial
Adaptasi adalah kemampuan makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tentunya manusia termasuk kedalam kategori makhluk hidup itu. Dan setiap orang memang dituntut untuk bisa beradaptasi dimanapun ia berada. Jika tidak, maka orang tersebut akan tersingkir dari kominitas yang ia masuki. Hambatan pasti ada tentunya tapi usaha juga harus ada untuk mengatasi hambatan itu.
Menurut psikolog DR. Dewi Matindas, lingkungan sosial adalah wilayah kita bisa menjalin hubungan kerja dan silaturrahim secara spontan dan menyenangkan. Dalam hal ini, menurut beliau pikiran, perasaan dan nsikap positif memiliki andil yang sangat besar.
Awal memasuki lingkungan IAIN, perasaan saya paling berperan dalam setiap tindakan saya. Meskipun berasal dari lingkungan sekolah religi, ada perasaan canggung dan terasingkan yang datang. Butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri saya terhadap kehidupan di IAIN dan segala yang ada di dalamnya. Saya harus menganalisis walaupun secara “diam-diam”, bagaimana kehidupan di kampus ini sebenarnya.
Untuk bisa beradaptasi dengan IAIN, yang pertama sekali harus bisa saya pahami adalah pola belajar dan segala sesuatu yang berhubungan dengan belajar itu. Lalu, latar belakang teman-teman dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka untuk bisa saya jadikan bahan perbandingan atau cerminan kepada saya. Hak dan kewajiban mahsiswa dan dosen adalah hal lainnya, dengan ini ada harapan bahwa kuliah saya bisa berjalan tanpa ada perasaan terbebani.
Tak hanya itu, persaingan antar mahasiswa dalam dunia kampus juga menjadi sorotan bagi saya agar bisa beradaptasi. Menurut saya, jika mahasiswa tak punya sesuatu utnuk di jadikan senjata untuk bertahan dalam komunitas kampus, maka ia akan terseret dia arus yana tak jelas muaranya. Karena siswa bukan mahasiswa yang harus di suguhkan lagi dengan jamuan-jamuan yang otomatis ada. Buat saya mahasiswa adalah pejuang yang harus mencari dan mendapatkan sesuatu yang belum dicari dan didapat oleh orang lain. Artinya mahasiswa harus kreatif dan tidak suka menunggu pemberian orang lain, khususnya dalam hal pengetahuan agar bisa bertahan pada komunitas yang ia pilih.
Organisasi bisa menjadi alat untuk bertahan di dunia kampus. Dengan adanya pemahaman yang baik tentang manfaat suatu organisasi, kiranya setiap mahasiswa mampu untuk menjadi kreatif, inisiatif bahkan inovatif dalam kehidupannya. Saya misalnya, jika saja saya tidak memilih salah satu organisasi yang sekarang saya ikuti, mungkin saya akan terikut dengan arus yang tidak jelas muaranya tadi. Untuk bisa bertahan di komunitas kampus, bagi saya bukan hanya kemampuan intelektual yang diperlukan. Kemampuan dalam hal spiritual dan emosional juga sangat di perlukan. Karena orang yang cerdas adalah orang yang seimbang antara kemampuna intelektualnya dengan kemampuan emosi dan spiritulanya.
Dalam hal beradaptasi dengan lingkungan tampaknya kecerdasan emosional memiliki peranan penting. Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.
Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.
Dan menurut Zainun Mu'tadin, SPsi., MSi. ada 3 (tiga) unsur penting kecerdasan emosional yang terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).




Kesimpulan
Butuh keberanian untuk melahirkan pikiran dan perasaan yang positif. Butuh keberanian juga untuk menjadikan lingkungan sosial yang kita pilih menjadi lingkungan yang berhawa positif. Semua itu tentunya untuk memperlihatkan siapa yang berkualitas dan siapa yang tidak.
Membiarkan pikiran dan perasaan negatif muncul sama saja membiarkan diri terperangkap dalam ruang gelap tanpa jejak. Tak ada yang menolong, begitupun diri sendiri. Begitupun, jika kita membiarkan lingkungan sosial yang negatif melenakan kita tanpa pernah tersadar sedikitpun.
Untuk setiap kebaikan yang kita harapkan, jangan pernah berharap dari orang lain. Karena kita sudah diberi kemampuan oleh Allah untuk berusaha menurut kemampuan kita masing-masing. Semoga dengan kesadaran ini, kita mampu medapatkan dampak positif dari setiap pikiran dan perasaan yang kita punya. Begitupun lingkungan sosial yang telah kita pilih.
“ Apakah kamu mengira, bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja berkata: Kami telah beriman, tanpa mereka mendapat cobaan.” (Q.S. Al-Ankabut: 2)
(Berbagai Sumber)