Minggu, 26 April 2009

Pengorbanan (Tahdiyah)

Oleh : Win R.G (Winarti)

Hidup adalah perjuangan, hidup adalah bergerak, hidup adalah pilihan, hidup juga pengorbanan.

Ibarat tumbuhan, dia akan dikatakan hidup jika dia tetap bergerak dan terus tumbuh menjadi besar dan ada perubahan pada bentuk fisiknya sehingga menghasilkan bunga ataupun buah. Begitu juga dengan manusia, untuk mencapai mimpi, cita-cita, kemenangan, kemakmuran, ambisi, semuanya membutuhkan pengorbanan.

Banyak contoh teladan dari orang-orang yang dapat kita tiru mengenai pengorbanan mereka untuk mencapai sesuatu. Rasulullah berani mengorbankan jiwa dan raganya demi kejayaan Islam, diancam, diludahi, dilempar dengan kotoran, dimusuhi, bahkan akan dibunuh.

Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah, juga dengan rela mengorbankan harta bendanya demi Islam. Abu Bakar siap menempuh semua bahaya pada saat hijrah untuk melindungi Rasulullah. Abu Ubaidah tidak tidur malam di tengah tentaranya yang nyenyak tidur. Pada musim paceklik, Umar hanya bisa membolak-balikkan badan karena lapar karena seluruh makanan miliknya ia bagikan kepada rakyatnya. Abu Thalhah menjadikan dirinya sebagai tameng pada saat perang uhud untuk melindungi Rasulullah dari gempuran anak panah.

Semua itu secuil pengorbanan yang pernah mereka lakukan untuk kehidupan yang lebih baik. Siapa yang banyak berkorban, dia akan merasakan manisnya pengorbanannya. Ia akan tersenyum bahagia menikmati segalanya walau mungkin itu pahit buat orang lain.

Untuk sukses butuh pengorbanan lebih. Jangan mau jadi manusia yang biasa-biasa saja karena yang biasa-biasa akan mendapatkan hal yang juga biasa saja. Jadilah manusia yang luar biasa seperti Rasulullah, Siti Khadijah, Umar, dan sahabat-sahabat lainnya. Lihatlah hasilnya, ternyata mereka mendapatkan hal yang luar biasa. Nama yang dikenang sepanjang zaman dan tentunya surga dari yang Maha Terindah.Terbukti bukan, ternyata "buah" ataupun "bunga" pengorbanan itu benar-benar ada.

Harimau mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gadingnya, manusia mati meninggalkan namanya. Jika kita ingin nama kita harum ketika meninggalkan dunia nanti, maka perbanyaklah berbuat baik dan jadilah manusia yang bermanfaat.Salah satu hal menuju ke sana adalah dengan "berkorban".

Ikhlaskah kita berkorban dengan hal yang kita punya? Tinggalkan titik kenyamanan kita saat ini untuk hidup yang lebih baik kecuali kita tetap ingin jadi manusia yang biasa-biasa saja!

Selasa, 21 April 2009

ODONG-ODONG STORY

Minggu malam, 28 Desember 2008, (waktu O2 lg laris-larisnya)

MENANTI O2 oleh : nurul zee

Entah kenapa kalau lihat odong-odong beroperasi, bawaan ku mau ketawa mulu, geli aja gitu. Kesan odong-odong itu jadul, sederhana tapi mewah, unik, kreatif, dan salah satu fasilitas mencari kesenangan untuk anak di tengah susahnya hidup.

Malam ini kami berencana naik O2 sambil makan singkong gaul made in dewe. Aku, ibu, dan si kecil Azizah bersiap-siap menunggu dan menanti kedatangan O2 di depan rumah.

Tepat pukul 08.30, O2 trip pertama lewat tapi ternyata sudah penuh dengan penumpang urunglah niat untuk menaikinya. Kami pun tetap menunggu tapi posisi menunggu sudah tidak di depan rumah lagi, soalnya banyak nyamuk, gelap-gelapan lagi, jadinya kami pindah ke depan rumah nek Sirat yang lebih terang dan ada bangku buat menunggu sambil duduk2.

Tak lama berselang setelah kami hijrah, O2 yang dinanti pun datang, O2 trip kedua pun lewat, tapi penonton harus menelan kekecewaan sekali lagi, karena kali ini pun O2overload alias penuh jek!.

BTW, setiap kali O2 lewat, aku gak akan pernah lupa buat ketawa, hahaah. Eits...kembali ke Menanti O2. Apakah kami berhasil menaiki O2 dan berakhir happy ending everafter?. Ikuti terus kisahnya.

15 menit kemudian

Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, O2 yang ketiga datang dan kelihatan berhenti di ujung jalan rumah nek Sirat, sepertinya akan ada harapan soalnya dari kejauhan nampak ada penumpang yang turun.

Benarlah kata pepatah kebanyakan dari kegagalan dalam kehidupan adalah karena manusia tidak sadar bahwa manusia nyaris sukses sewaktu putus asa. Tapi apa yang terjadi sodara2, ketika O2 itu lewat tak ada sisa satu bangku kosong pun untuk kami penumpang yang malang ini. Capek Deeeeh….!

Seperti lagu Ridho Rhoma—Menunggu, kami pun tetap menunggu walaupun cuaca udah mulai mendung,hembusan angin malam yang dingin terus menerpa wajah ini.

Tiba-tiba suara yang tak mengenakkan itu kembali terdengar dari jarak radius 200 meter—degedegedeg. Ini adalah O2 yang keempat yang kami tunggu. Ternyata memang tak diizinkan Allah untuk kami berodong2 ria malam ini, soalnya yang keempat ini juga penuh bahkan sampe ada penumpang yang harus bergelantungan disisi tiang O2. Wah…gak iya neh, singkong gaul ku yang tadinya buat makan di atas O2, malah dah abis gara2 ku makan saat masa iddah alias masa menunggu tadi.

Akhirnya karena udah ngantuk plus dikerubungi nyamuk, angin-angin tanda mau hujan sudah mulai ngamuk.Yoda lah menanti O2 untuk hari ini cukup sampai disini dulu. Sampai jumpa diwaktu dan lain kesempatan dari studio satu Zee Zee FM, nurul pamit Assalamualaykuuuum.

To be continued..


Rabu sore, 11 Maret 2009
AKHIR DARI SEBUAH PENANTIAN

Akhirnya setelah sekian lama harapan untuk naik O2 terpendam, sore ini sepulang dari kursus menjahit barulah terwujud.

Bercampur perasaan geli (mau ketawa aja bawaannya) dengan mantap aku panggil “Odong-Odooooooooong” dan berhentilah dia untuk mengangkut diriku sang penumpang yang istimewa ini. Dengan anggunnya naiklah diriku ke atas O2, dimulai dengan kaki kanan sambil baca bismillah dan mendarat muluslah pantatku dan terduduk manislah aku di gerbong kedua O2, hanya aku penumpang yang ada di gerbong kedua bersama kenetnya.

Semua mata tertuju padamu, kurasa cocoklah slogan dari program Miss Indonesia disematkan pada diriku saat itu. Soalnya pas di atas O2 perasaanku mengatakan bahwa sepanjang jalan semua orang melihat aku, deuuu…jilbaber naik O2, deuu…cantik-cantik naik O2 begitulah kurang lebih kata orang2 yang melihatku naik O2 (woi…lebay woi!). Untung gila ku lagi gak kumat soalnya ku sempat berniat untuk melambaikan tangan ala Miss Universe kepada orang2 yang melihatku di sepanjang jalan, hahahha
.
Momen yang kayak gini ni yang kutunggu-tunggu, ngobrol bareng sama kenet O2nya. Maklumlah naluri seorang penulis yang bawaannya pengen tahu dan pengen nanya tentang segala hal lagi berkibar-kibarnya kayak jilbabku yang berkibar-kibar disapa angin sore yang sepoi-sepoi.

Namanya Bang Rismar, sepertinya dia PUJAKESUMA alias PUtra JAwa KElahiran SUmatera, agak kurus, hitam manis, rambut cepak plus murah senyum. Bang Rismar salah satu kenet O2 yang kunaiki, dia bertugas di gerbong kedua (Yaelaa…bertugas? Digerbong kedua? bahasanya kayak menceritakan suasana di kereta api eksekutif gitu ya kan padahal kan nggak).

Sepanjang jalan ku berbincang-bincang renyah sama si Abang kenet. Aku menanyakan kenapa sepi penumpang di O2 yang kunaiki ini. Beliau bilang memang kalau sore agak sepi penumpang, ntar abis maghrib barulah penumpang agak ramai. Satu pertanyaan sensitive yang sempat ku tanyakan pada si Abang kenet yang tidak mau kupanggil Bang Mar ini yakni soal penghasilan perhari yang di dapat dari menarik O2 ini, dengan senyum sumringah si Abang menjawab,” Ya…kalo lagi rezeki, Alhamdulillah pernah perhari dapat lima ratus ribu (what?, menjanjikan juga ya narik O2). Pertanyaanku berlanjut, “Lah…itu di bagi-bagi la ya bang?”. Si abang yang paginya berprofesi sebagai pengacara (pengangguran banyak acara) dan sore sampe malamnya jadi kenet O2 ini menjawab “iya, tapi setelah bayar setoran, beli solar, baru bisa dibagi tiga (kenetnya 2 orang, sopirnya 1 orang). Mendengar jawabannya aku pun ber O..O ria.

Acara talkshow dadakan yang disiarkan secara langsung di atas O2 ini sempat terhenti gara-gara dipertengahan jalan aku disapa sama anak muridku yang lagi main guli dipinggir jalan “Ummiiiiiii” teriaknya, dalam hatiku cuma bisa ngedumel (duh, mati aku, ketahuan anak murid ni, kalo aku lagi naik O2 ). Tuh, kan satu kampung pada heboh aku naek O2. Susahnya jadi artis.

Bincang-bincang pun berlanjut, dari si Abang aku dapat informasi yang terakurat, tercepat, terdepan, bombastis, fantastis, dahsyat, bahwa O2 yang kunaiki ini punya tempat pemberhentian di jalan Damar, tepatnya di rumah sang Juragan O2, sang juragan punya 2 unit O2. Trus di Medan ada sekitar 50 unit O2, tentunya dengan rute dan juragan yang berbeda-beda pula.

Tak terasa aku dah memasuki jalan Bambu bentar lagi aku nyampe rumah.
Dasar akunya memang selebritis kali ya…ibu aku yang lagi santai kayak di pantai dan lagi duduk-duduk di depan konter hape adiknya, hysteria melihat aku di atas O2 (Whahaaahaaa…si Nurul naek Odong-odong). Gubrak?!!!

Tepat di depan warnet DeGaRa aku diturunkan. Dengan pe de nya aku turun (walaupun banyak pengunjung warnet yang lagi nonkrong2 di depan warnet melihatku turun dari O2)Whatever they think about me lah. Namun aku cuek aja yang penting hasrat ingin naik O2 telah terpenuhi.

Hehey..berhasil…berhasil, Horrey!

THE END

Senin, 20 April 2009

Perempuan Ngawi

Oleh : Win R.G. (Winarti)

Perempuan tua belum layu
masih tangguh bersepeda di jalan raya
sedikit klausa perbanyak makna
ribuan nyeri ditaklukkan
untuk pertahankan senyuman

Kala gelap memeluk petang dengan mesra
alam terang permisi pulang
makhluk sang Maha telah kembali
namun perempuan tua tetap tak bersama lelaki
masih bersarung
masih harum meski dibalut lumpur
(Ngawi, akhir Desember 2008)

Itulah kado dari saya untuk hari Kartini esok hari. Sebuah puisi sederhana untuk para perempuan Indonesia. Mengapa harus Ngawi? Saya benar-benar terinspirasi ketika berada di Ngawi saat melintasi Jawa dan Bali di akhir tahun 2008 lalu.Sepanjang Ngawi, saya menemukan banyak perempuan yang bersepeda ria di jalan lintas, mereka bersarung dan memakai pakaian berladang, tak lupa membalut kepala mereka dengan kain panjang ataupun sarung. Persis ibu saya jika berangkat dan pulang dari sawah.

Para perempuan Ngawi itu bergerombol, tak ada pria di sana. Mereka tertawa, bahagia. Meski mungkin ada beban di pundak mereka tentang masa depan anak-anaknya.Tapi mereka tetap tertawa lepas bersama untaian angin sawah yang menyapa.Kulihat kaki-kaki itu, bertelanjang. Tak ada sandal di sana. Kaki yang tampak lesuh tapi kokoh dan tentunya ada surga di kaki-kaki itu.

Jujur, pada saat itu saya langsung ingat ibu saya. Ada kerinduan yang mendalam. Jika seandainya ibu ada di Ngawi, bisa menginjakkan kaki di tanah Jawa sebagai tempat aslinya, alangkah sangat bahagianya ia. Tapi lagi-lagi pasti dengan lugu ibu akan mengatakan, "Jika pun tetap kowe paksa, emoh ah. Takut naik pesawat."

Dunia, besok hari Kartini. Semoga akan tetap lahir Kartini-Kartini abadi sepanjang jagad raya nusantara Indonesia.Kartini yang berkarir sekaligus Kartini yang tak lupa "membajak" dapur, kamar, dan sumur.

Ya, itu pesan Kartini saya. Ibu.

Kamis, 16 April 2009

Belajar Menidurkan Rindu

Oleh : Sukma

Beberapa waktu saya pernah benar-benar tidak berdaya. Saya sadari ternyata ketidakberdayaan itu disebabkan karena saya tengah dirudung rindu. Rindu pada seseorang, rindu pada keluarga yang jauh di rantau atau rindu pada barang-barang kesayangan yang dulu pernah hilang. Namun yang lebih ekstrim lagi, entah mengapa saya pun sangat rindu ingin menikah di atas salju, rindu makan malam bersama ratu Inggris, berkelahi dengan Jet Li atau berunding dengan Barack Obama. Iya, itu semua kerinduan saya.

Sudah berulang kali rindu itu saya simpan rapat-rapat. Herannya, semakin rapat rindu itu saya simpan semakin memaksa pula rindu itu ingin keluar. Hingga pada suatu waktu kerinduan saya itu benar-benar telah membikin saya setengah waras. Betapa saya sangat rindu dengan seorang gadis. Ingin sekali hasrat hati bertemu dengan elok rupanya, memetik senyum dari wajahnya, lalu setelahnya, saya kerlingkan mata saya di depan gadis itu.

Alamak ! Kerinduan yang sangat gila menurut saya. Alhasil, setelah direnung-renung, saya sering tak nyenyak tidur memikir rindu-rindu itu. Tetap saja mustahil rindu itu saya wujudkan. Saya tidak punya kuasa kala hal-hal itu datang. Walaupun sudah acap kali orang-orang di sekitar saya mengatakan bahwa itu hal yang mustahil. Tetapi, tiba-tiba saja saya begitu yakin kalau rindu itu masih bisa saya nyatakan.

Perihal apakah akan terwujud, mungkin bisa jadi tidak mungkin. Hanya saja, rindu saya, kepinginnya saya, sering ketika rindu itu datang, saya ingin orang yang saya rindui, benda yang saya rindui mengerti kalau saya merindukan mereka. Dan itu sudah cukup untuk memuaskan rindu saya !

Beruntung ketika saya memiliki banyak sahabat, mereka bisa dijadikan teman curhat tentang kerinduan saya itu. Setidaknya ketegangan saya terhadap sesuatu yang saya rindui mulai tersalurkan. Hanya saja ketika beberapa hal tentang rindu itu mulai tidak memberi ruang untuk saya bernapas, saya sering dipukul asma. Tentu menyakitkan.

Mata saya berkunang-kunang, rambut saya mengeras, pipi saya...ah, seperti menggelembung. Belum lagi hati saya yang sudah pasti morat-marit.

Ada kalanya sahabat, ruang kosong, dinding, jurang yang dalam, air laut, kupu-kupu atau apa saja terkadang tidak sanggup mewakili hasrat rindu itu. Akhirnya saya sering lemah. Tidak berdaya. Lantaran dikalahkan rindu.

Sebut saja ketika saya rindu dengan seorang gadis yang saya puja itu. Untunglah, saat itu saya berani mengacungkan nyali hendak mengatakan rindu itu padanya. Dengan segera saya mengambil ponsel, memilih beberapa kata yang menurut saya romantis, mengetikkannya maka jadilah pesan itu hendak saya kirim.

“Hai, Gadisku ! Tahukah kau bahwa betapa hari ini saya sangat merindukanmu ?”

Ah, itu isi pesan singkat saya pada seorang gadis yang saya puja.

Apa yang terjadi ? Wow, ternyata hati saya riang sangat. Seperti ada reruntuhan embun yang menetes begitu sejuk dalam sanubari saya. Dalam renungan saya, pastilah gadis itu bersemi-semi wajahnya. Merah dadu pipinya. Serta meriah pula gedebar hatinya. Ahai, malang-melintang perasaan saya waktu itu !

Tapi sayang, terkaan saya tentang itu tidak tepat. Gadis itu sepertinya kecewa. Sama sekali tidak senang. Sapaannya pesimis. Dia malah membalas dengan pesan yang membikin rindu saya terjungkal nestapa.

“Jangan dibilang-bilang !” Kata gadis itu selanjutnya

“Kenapa ? Kamu tidak suka ?” Tanya saya

“Kira-kira begitu, tidak semua rasa harus diungkapkan.” Balasnya pula.

Oh, Tuhan !

Rontok rindu saya mendengar ucap itu dari gadis yang saya rindui. Entahlah! Malu, bingung, was-was, panik, semuanya campur aduk dalam benak saya. Sampai sekarang pun sms itu selalu saja saya timang-timang. Belum saya hapus. Nyaris tiap malam ketika rindu saya mulai muncul lagi, mulai tampil lagi, saya sering membaca pesan itu dari ponsel saya.

Tidak mesti rindu itu tentang apa, tentang siapa. Saya sering menidurkan semua rindu saya melalui pesan dari gadis itu. Sejak itulah, sering saya temui dada saya dikepung derita. Saya harus belajar menjinakkan ribuan rindu yang saya punya.

Dan esoknya, saya diajari teman saya bahwa mengendalikan rindu ternyata tidak sulit. Tidak butuh energi banyak. Cukup dengan kata-kata saja. Karena katanya, yang paling penting dari semua itu bahwa logika kita harus tetap terjaga. Bukan emosi semata.

“Mulai sekarang katakan pada dirimu bahwa kau memang sungguh-sungguh mencintai gadis itu. Namun saat ini, hari ini, kondisi tidak memungkinkan untuk dirimu dan dirinya bisa saling melepas rindu.”

Benar, kala itu nasihat teman saya teruji ampuh. Rindu saya langsung sirna. Hilang. Berganti entah apa namanya. Akan tetapi, selang beberapa menit kemudian, rindu itu pelan-pelan datang lagi.

Ah !



Medan, 18 Maret 2009

Tulisan ini pernah dimuat di harian MEDANBISNIS edisi Minggu, 29 Maret 2009

Senin, 13 April 2009

"Three Time A Lady"

"Three Time A Lady"
Oleh : Win R.G. (Winarti)

Anda penyuka acara Mario Teguh Golden Ways? saya juga sangat menyukai acara ini. Hanya orang-orang yang tak mau lebih baik sajalah yang tak menyukai acara yang setiap Minggu malam ini disiarkan di Metro TV ini. Sebuah acara yang bukan hanya membuka panca indera kita, melainkan juga membuka hati dan pikiran kita betapa ada banyak hal dalam hidup ini yang harus dibenah.

Jika Anda mengikuti acara Mario Teguh pada tanggal 12 April 2009, pasti tak asing dengan judul "Three Times A Lady" (tiga waktu seorang perempuan)-hm, biar saja Pak Mario mengatakan tiga waktu seorang wanita, tapi saya tetap akan menulis tiga waktu seorang perempuan karena nilai rasanya lebih tinggi-. Berbicara mengenai perempuan mungkin yang hadir di benak kita terlebih dahulu adalah sosok ibu kita. Banyak suami hebat dan anak-anak yang hebat lahir atau dicintai serta dibimbing oleh perempuan. Meski mereka -para perempuan- berdiri di samping kita ataupun hanya sekedar berdiri di belakang, tapi tetap saja kehadiran mereka begitu sangat luar biasa.

"Three Times A Lady" yang dimaksud di acara Mario Teguh Golden Ways adalah perempuan sebagai kekasih, sahabat, dan ibu. Bolehlah kiranya di kesempatan ini saya memberikan fakta bahwa fungsi three times ini benar adanya. Fakta yang akan saya hantarkan adalah tentang ibu saya.

Fungsinya sebagai kekasih, tentu saja kekasih untuk bapak saya. Ibu tetap ada di saat bapak marah, sakit, sedih, bahkan hancur. Keluarga bapak adalah orang-orang yang berwatak keras. Semua keras! Saat menikah dengan ibu dan telah 30 tahun lebih ini membina rumah tangga bapak memang masih kejam, namun ternyata kekejamannya tak menurun pada kedelapan anak-anaknya. Semua anak ibu dan bapak lebih cenderung lembut mengikuti watak ibu yang sangat pengasih.

Fungsinya sebagai sahabat. Dulu saya punya sahabat, tapi saya tak percaya lagi padanya sejak ia menghianati saya. Saya terus mencari sahabat sejati di hidup ini. Sejak mengikuti acara Mario Teguh Golden Ways barulah saya sadar bahwa sahabat tak mengenal usia dan tak mengenal jarak. Sahabat saya ternyata ada di dekat saya. Dialah ibu. Sahabat saya yang selalu memberi banyak omelan saat saya sakit, meluruskan asa yang pernah patah, membototi berbagai bekal saat akan pulang kembali ke Medan, tentu saja sahabat yang memberi pelukan dan ciuman saat berpisah dan menyambut telepon dengan hangat, tapi sekaligus sahabat yang paling cerewet untuk persoalan pasangan hidup.

Fungsinya sebagai ibu. Ah, untuk soal satu ini tak usah ditanya. Sangat sempurna!

Bagaimana dengan "Three Times A Lady" Anda? Hm,pastilah punya cerita berbeda. Yang pasti berbanggalah kita terlahir sebagai perempuan.Tentu saja, kita juga diamanahkan untuk menjadi perempuan yang luar biasa.

Senin, 06 April 2009

LOMBA MENULIS ESAI UNTUK BLOGER

Yuk, kita sikat ni lomba !


Memperingati 97 Tahun Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, bekerjasama dengan Paguyuban. Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam), kami mengundang para blogger untuk mengikuti “Lomba Penulisan Esai.”

Sebagai asuransi tertua dan terbesar di Indonesia, Bumiputera dikenal peduli terhadap pengembangan kreativitas masyarakat yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan lomba penulisan setiap tahunnya, termasuk menyelenggarakan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia. Sedangkan PaSar MaLam dikenal dengan kegiatannya seperti Sastra Reboan yang digulirkan secara rutin setiap hari Rabu akhir bulan di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan.


Topik : “Asuransi dan Saya”

Persyaratan Peserta :

1. Para blogger di seluruh Indonesia;
2. Memiliki blog pribadi selama minimal 3 bulan per Maret 2009;
3. Melampirkan daftar riwayat hidup, (termasuk alamat lengkap, nomor telepon, dan e-mail).
4. Lomba ini tertutup bagi pegawai tetap (organik) AJB Bumiputera 1912.


Pelaksanaan Lomba :

1. Esai ditulis di masing-masing blog pada periode April – Juni 2009.
2. Alamat blog (URL) yang memuat artikel tersebut dikirimkan via email ke pihak panitia (Bumiputera): komunikasi@bumiputera.com.
3. Tulisan tersebut akan diunduh oleh Pantiia, dan kemudian akan dilakukan penilaian oleh Dewan Juri.

Ketentuan Lomba :

1. Esai harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan pengetahuan masyarakat, khususnya pengetahuan tentang asuransi;
2. Setiap karya wajib menyebutkan kata “AJB Bumiputera 1912” sedikitnya satu kali.
3. Bentuk tulisan berupa esai dengan gaya bahasa yang cair, kreatif, dan tidak dalam bentuk makalah ilmiah.
4. Esai harus asli, bukan saduran atau terjemahan;
5. Esai belum pernah/tidak sedang diikutkan dalam lomba penulisan lainnya dan belum pernah dipublikasikan di media apapun;
6. Tulisan tidak mengandung SARA.
7. Esai yang menjadi pemenang akan dimuat di majalah “bumiputeranews” (hadiah sudah termasuk honorarium pemuatan);
8. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.
Pengumuman pemenang lomba penulisan akan dilakukan pada bulan Agustus 2009 di website AJB Bumiputera 1912 di http://www.bumiputera.com/, website panitia di http://www.bumiputeramenulis.com/ dan http://www.reboan.com/ .
9. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada akhir Agustus 2009, yang tempat dan waktunya akan diberitahukan kepada para pemenang.

Tata Cara Pengiriman Esai :

1. Peserta lomba dapat menulis lebih dari satu esai;
2. Panjang tulisan tidak dilakukan pembatasan.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi Bumiputera :
Telp. 021-5224565;
Faks. 021-5224566
Email : komunikasi@bumiputera.com


Hadiah :

1. Juara I : Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah) dan piagam penghargaan.
2. Juara II : Rp. 4.000.000,- (Empat juta rupiah) dan piagam penghargaan.
3. Juara III : Rp. 3.000.000,- (Tiga juta rupiah) dan piagam penghargaan.
4. Juara Harapan sebanyak 5 orang masing-masing sebesar Rp. 1.000.000,- (Satu juta rupiah).
5. Pajak hadiah ditanggung oleh pemenang.

Minggu, 05 April 2009

Bersikap bijak terhadap Kritikan

Miranda Nst
Ketika kita dikritik kepribadiannya, tingkah laku, dan “attitude” , kita sering tidak terima. Akan tetapi, kita juga tahu ada banyak orang yang begitu berjiwa besar menerima kritikan terhadap mereka. Nah, sebenarnya kritikan itu klise artinya, tetapi maknanya dalam. Klise karena kita cukup menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang membangun, agar kita maju. Ayo?? Siapa yang tidak mau maju!!!! Dalam maknanya karena untuk membangun seseorang perlu pemahaman, agar mengerti apa yang harus dikerjakan selanjutnya, sebagai respon atau tanggapan dari kritik tersebut. Bahkan, untuk memahami sinyal yang datang, yaitu berupa kritik, kita harus mempunyai kontrol diri dan kepala dingin, sehingga kita bisa memilah yang mana yang benar dan mana yang hanya pemikiran si pemberi kritik, atau just “asumtion of criticus”.
Fenomena sosial seringkali mengundang begitu banyak kritikan. Melahirkan pro dan kontra di masyarakat. Bagaimana tidak?? Sebab fenomena tersebut dianggap tidak biasa, bahkan meresahkan. Dan, jangan salah sesungguhnya begitu banyak fenomena yang berkembang luas itu ialah suatu hal yang sudah dianggap biasa, sehingga kita sulit membedakannya, apakah itu benar atau salah?
Nah, sekarang untuk dapat membedakannya. Tentu kita harus pandai-pandai memilah asumsi kita, dengan menggunakan naluri dan logika. Wah, suatu pekerjaan yang susah-susah gampang. Betul?? Namun, sebagai manusia atau kita sebut saja pemimpin di muka bumi ini, karena memang kita diciptakan oleh sang Khalik untuk menjaga dan menjadi khalifah di atas bumi ini.Betul?? Jadi, what’s next??
Ayo, pikir?? Jika kita saja sudah malas untuk berpikir, bisa-bisa akan dini terserang penyakit pikun. Selanjutnya, ya kita harus berusaha seintelektual mungkin, untuk mendapatkan yang namanya asumsi yang tepat terhadap fenomena tersebut tersebut. Tujuannya apa?? Ya tentunya agar mendapatkan penyelesaian dari pro dan kontra yang mencuat dari adanya fenomena tersebut.
Ternyata, fenomena itu bukan untuk dipusingkan atau menjadikannya sebagai suatu tekanan, tetapi seyogianya dianggap pematangan pribadi atau jiwa, dari sebab kritikan baik yang pro dan kontra ialah untuk membangun. Terlebih lagi, prosesnya yang membutuhkan pemahaman/pemikiran dapat memperkaya dan mempertajam intelektual sosial kita. Memang, ada kritikan yang rasa-rasanya tidak membangun. Jadi, harus diapakan kritikan seperti itu?? Oooh, tentunya disaring lagi , mungkin kita akan dapatkan yang berguna. Alih-alih, namanya tetap sebagai suatu kritikan yang membangun.
Coba Saudara pikir, jika seseorang dikritik dan menjawab “ Ini sudah tidak bisa diubah lagi.” Bagaimana pendapat Anda? Dan, marilah sekarang kita ingat pepatah yang mengatakan “Dimana ada kemauan, di situ ada jalan.”
Tentunya ketika kita menerima kritikan itu pertama sekali, di dalam diri kita muncul pro dan kontra. Ada yang menolak, karena merasa kebebasannya akan terkekang, jika harus mengubah atau mengikuti kritikan tersebut. Padahal, kita tidak harus mengikuti bulat-bulat kritikan tersebut. Namun, kita harus bijak memfilternya agar menemukan bagian mana yang bisa diambil.
Toh, dengan begitu akan malah menguntungkan kita, bukan sebaliknya. Kerapkali, orang tidak memberi respon terhadap kritikan (stuck), bahkan tanpa pertimbangan (berlalu begitu saja), karena ogah menyaringnya dan malas mengubah diri. Malas karena menganggap diri sudah benar, tanpa menyempatkan waktu untuk memakai
kaca mata orang lain. Bagaimana mungkin kita bisa mempermatang diri dengan kritikan, jika kita tidak mau memperkaya diri dengan sesuatu yang baru, yang hanya bisa didapat dari pengalaman orang lain. Ada pepatah yang mengatakan “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.”
Maka, mari kita buat pepatah yang baru sebagai analogi dari pepatah di atas, bunyinya begini “Tidak terbuka
Sekarang coba pikirkan kalau tiba-tiba Anda dikritik tentang kebebasan Anda. Bagaimana cara terbaik Anda menanggapinya? Tentunya dengan tidak berat sebelah (win win solution), artinya memegang kaca mata Anda, dan melihat kaca mata orang lain dengan mengambil ilmu atau ide yang baik. Dalam hal ini, Anda tentunya harus hati-hati , karena Anda dapat menyusupkan kepentingan Anda, begitu juga orang lain. Dari sebab itu, kita harus punya pedoman yang kuat. Begini salah satu contohnya, jika perbuatan yang dikritik tersebut memang menjadi hak Anda, berarti sah-sah saja, tetapi ingat kita tidak boleh mempergunakan hak kita tersebut, untuk lari dari kodratnya. Jadi, sah-sah saja, Anda jangan berang, jika ada orang yang memberanikan diri untuk menjaga perbuatan Anda tetap di relnya dengan menkritik Anda.
Sekarang, Anda bisa menilai sendiri kasus pro&kontra yang terjadi di Indonesia mengenai pornografi, yang marak tahun lalu. Wah, sudah tidak up to date lagi ya? Itu berarti, masalah ini sudah matang sekali diperbincangkan, tetapi bukan berarti sudah basi untuk diperbincangkan. Apalagi notabene para pelakunya mungkin masih belum mampu secara bijak menanggapin pro&kontra yang ada.
Selanjutnya saya ingin memberi contoh perilaku yang mengundang banyak kritikan, atau dengan kata lain mengundang sejumlah pro&kontra. Sebenarnya, perilaku ini sudah dianggap biasa bagi segelintir orang, Padahal, sesungguhnya perilaku ini tidak dibenarkan. Binggung bukan? Dan apakah anda semakin binggung, jika saya tanya bentuk perilaku tersebut, satu saja?. Saya beri tiga hitungan, satu…dua…tiga…
Kita sebut saja perilaku seks menyimpang. Dan, tolong sebut saja si “H” dan si “L” dalam hati Anda. Biar Anda lebih memahaminya. Saya sengaja tidak mengucapkannya. Jika bisa dibilang, ini adalah karena ingin menjaga budaya ke-Timuran kita, yang penuh tata karma.
Tidak jarang kita segan dan malu untuk memberikan kritik kepada mereka yang sengaja dan tidak sengaja melakukannya. Namun, why not? Apalagi, kalau kita tulus melakukannya. Maksud Saya ialah tulus mengkritiknya.
Saya masih ingat ketika Saya dan dua sahabat Saya reunian. kami pernah membicarakan sejenak mengenai fenomena ini. Saya begitu enak tanpa pertimbangan bilang, “Ya nggak boleh”. Lalu, satu sahabat Saya yang kritis menjawab, “Ya, nggak gitu juga. Mereka juga nggak mau seperti itu,” sambil memandang kritis kearah Saya.
Dari percakapan tersebut, saya dapat menangkap maksud sahabat Saya, sekaligus sadar yang Saya katakan juga tidak salah. Saya berpikir, tidak ada satu orang pun yang ingin dianggap abnormal dari yang lain. Kita sudah selayaknya bersyukur lahir sebagai orang yang normal. Wujud syukur itu bisa ditunjukkan dengan cara tidak menyalahkan apalagi sampai mengucilkan mereka.
Akan tetapi, bukan malah membenarkan perbuatan mereka. Kita harus mendukung mereka untuk berubah, agar dapat menanggapin secara bijak dan positif ketidaksukaan orang lain terhadap perbuatan mereka. Dan yang terpenting, Saya rasa ialah adanya kesadaran bahwa sesuatu yang terjadi mangandung hikmah dan pelajaran yang berharga buat hari ini, besok, dan sampai di kemudian hari. Dan, lebih luasnya Tuhan lah yang tahu.
Terpenting karena Saya pikir dapat memotivasi secara kuat untuk bisa berubah. Satu poin lagi adalah kesadaran bahwa sikap dan perbuatan bisa diubah. Jelas!! Kenapa tidak? “Selagi ada kemauan di situ ada jalan (there is a will there is way). Sedangkan sesuatu yang tidak seharusnya diubah saja, banyak yang berani mengubahnya. Yang jelas-jelas ciptaan yang di atas.
Terakhir, saya mau mengajak Anda semua berpikir secara kritis terhadap fenomena ini. Sebagai wujud bahwa kita tidak hanya bisa mengkritik, tetapi juga dapat memikirkan cara yang tepat untuk membantu mereka. Oh ya, satu dari Saya adalah “Jangan pernah berpikir tidak mampu.” Yang kedua dari Saya ialah “Pikirkan orang-orang sukses, bahwa mereka banyak belajar dari kegagalan dan sesuatu yang tidak mungkin, dan mereka menciptakan sesuatu yang belum terpikirkan sebelumnya.” Yang ketiga dari Saya ialah “Jangan pernah menyerah sesulit apapun itu, Teman. “ Selanjutnya.., ya dari Anda semua. Jika, Anda tidak menjawab secara lisan, cukuplah jawab dalam hati. Terima kasih.

Jerawat? Biasa ajalah!

Oleh : Win R.G. (Winarti, S.Pd)

Jujur aja, aku enggak pernah pusing mikiri jerawat seperti layaknya wanita-wanita lain yang jungkir balik kalau jerawatan. Perawatan wajah intensiflah, make up harus hati-hatilah, makan ini itu enggak bolehlah. Walah-walah! Biasa ajalah!
Aku bener-bener santai aja, enggak ada aturan sama sekali. Tapi…
“Ibu…” seorang bocah berusia sekitar 6 tahun menyapaku saat aku dan dia berjalan beriringan menuju ruang makan di bagian belakang sekolah, dekat klinik Mitra Bunda. Dia menatapku begitu sangat serius. Aku tak pernah melihatnya sebelum ini. Mungkin dia murid kelas 1-A. Karena aku tak pernah masuk ke kelas 1-A sebagai asisten.
“Ya, Sayang. Ada apa?” balasku ramah sambil mensejajarkan posisi badanku dekat dengan badannya.
“Yang di wajah ibu itu … namanya cacar air ya?” what?! Jerawatku disamain dengan cacar air? Padahal kan cacar air itu lebih jelek daripada jerawat, berarti menurut dia… Oh tidak!!!
Sabar, sabar. Dengan tenang kujawab.
“Bukan, Sayang, ini namanya jerawat bukan cacar air”
“Oh…” responnya, masih terus menatap wajahku dengan serius, serius, dan serius!!!
Ya ampun, kenapa bisa anak selugu itu memerhatikan wajahku dan menyamakannya dengan jerawat. Apakah sejelek itu wajahku?
Respon yang hampir sama aku dapatkan juga dari rekan kerjaku,
“Kak Win, kakak cacar air ya?”
“Kok bisa bilang gitu?”
“Eh jerawat ya? Maaf ya. Wana sebelumnya enggak pernah lihat kakak jerawatan. Maaf ya?” ujarnya dengan penuh permohonan maaf.
Atau komentar ini…
“Neng geulis ini kok sekarang jerawatan? Biasanya wajahnya mulus aja.”tanya bu haja dan Bu Lela, rekan kerjaku yang senior di Shafiyyatul Amaliyyah.
“Aku tahu siapa yang berikutnya menikah!” ujar PKS II saat para guru lagi nimbrung di jam istirahat.
“Siapa?” tanya yang lain
“Ini, si Winarto” aku tercengang. Seluruh guru menatap ke arahku.
“Jangan gitu pak, bisa jadi fitnah.” balasku
“Halah, itu buktinya jerawatan gitu. Ya kan Winarto?”
“Ya sudah, doakan saja.” ujarku padanya. Tuh orang ya kayak gitu, selalu saja panggil aku Winarto.
“Win, kok jerawatan sih sekarang?” tanya Kak Suryani, pengelola My Zakat
“Mbak Win, kok jerawatan sih?”tanya Mbak Ratna, anggota FLP Sumut yang noveletnya Loving Twice baru diterbitin.
“Ih, kakak jelek deh kalau jerawatan!”komentar Tono adikku
“Kok elek ngunu raimu saiki? (Kok jelek gitu wajahmu sekarang?)” tanya ibuku saat datang ke Medan
“Bu Win, diam aja jangan bergerak-gerak. Farah keker jerawat ibu.” Perintah Farah Amalia, muridku di kelas III-B sambil gulung selembar kertas putih lalu dikekerkannya padaku.
Oh tidak…!!!
Kenapa enggak ada yang paham sih dengan adanya jerawatku ini? Kenapa banyak yang usil?
Nih jerawat bukan sembarang jerawat, tauk. Kalau SMP dulu aku jerawatan karena suka dengan seseorang, kuliah juga jerawatan karena stress mikiri skripsi, nah jerawat yang sekarang ini karena aku stress mikiri…profesi!!!
Enggak percaya? Nih aku kasih tahu ya hasil dari beberapa sumber yang aku dapat mengenai penyebab jerawat: stress, keturunan dari orangtua, aktivitas hormon, kalenjer minyak yang hiperaktif, bakteri di pori-pori kulit, iritasi kulit karena garukan, anabolic steroid, pil KB, juga dipengaruhi oleh faktor pekerjaan, pendidikan, dan pola hidup.
Nah lho. Bener kan? Jerawatku karena faktor pekerjaan.
Itulah dilema jerawatku. Terserah deh orang mau bilang apa. Seharusnya mereka bersyukur karena jerawat ini nongkrong di wajahku, coba kalau nongkrong di wajah mereka. Hayo!
Tapi setidaknya aku berterima kasih pada mereka atas respon-responnya. Itu menandakan bahwa semuanya sayang dan sangat memerhatikanku.
“Rani yakin, saat kakak menikah nanti jerawat kakak pasti hilang”
“Kok gitu?”tanyaku serius pada Rani, rekan kerjaku saat makan siang
“Jerawat itu tumbuh karena adanya hormon yang berkembang namun tidak tersalurkan. Jadi ketika kakak menikah tentu saja hormon-hormon itu berkembang secara normal.”
Pusing aku! Benarnya itu? Jadi aku harus nikah untuk menghilangkan jerawat-jerawatku ini? Hm, pendapat dia barusan sama dengan hasil browsingku mengenai jerawat yang miskonsepsi bahwa masih ada mitos umum di masyarakat yang menyatakan tumbuhnya jerawat karena masturbasi dan tidak menikah.
Tauk, ah. Gelap!
Memang aku akui sekarang aku jerawatan, banyak! Tapi kita lihat saja nanti wajahku akan cantik lagi. Apakah aku kan berbagi tips menghilangkan jerawat dan mengembalikan kecantikan? He, tak usah ya!
ёёёёё