Sabtu, 10 Oktober 2009
Pria Sederhana, Pria Istimewa
Sudah nonton KCB 2? Tak enak rasanya jika KCB 2 tak masuk dalam komentarku, setidaknya melanjutkan komentar dari KCB 1. Ada hal yang ingin kukatakan tentang KCB 2. Masih tentang Azzam. Aku ingin berbicara mengenai Azzam sebagai sosok pria yang ada dari sekian berjuta pria di dunia ini (kuharap tulisan ini tak membuat pria lain berkehendak membunuh Kholidi sebagai pemeran Azzam.
Perhatikan lebih dekat karakter dan kehidupannya. Ia sangat sederhana. Ia tak pernah marah pada wanita sekalipun wanita itu tak berkenan di hatinya. Saat kedua adik Azzam terus menggoda Eliana untuk jadi istrinya, tetap saja Azzam bisa bertingkah tak menyakiti, hanya senyum dan berbahasa santun. Padahal bisa saja ia berfakta sebagai pria bahwa ia tak akan mungkin dan tak akan mau memilih Eliana. Profesi Eliana sebagai artis jelas berbalik dari sosoknya sebagai ikhwan. Apalagi sangat jelas bu'enya tak menyetujui wanita yang "bebas" itu sebagai daftar calon menantunya.
Tokoh Azzam yang diperankan oleh Kholidi Asadil Alam paslah bagiku untuk mewakili tokoh mimetik yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Cara berpakaiannya pun tetap mewakili bahwa ia sederhana, apalagi wajahnya yang tak terlalu tampan (saya harap penggemar Kholidi tidak marah untuk bagian ini, termasuk Kholidi sendiri).
Lihatlah saat ia merendahkan hatinya untuk menolak tawaran Kyai Ilyas -ayah Anna- untuk mengisi majelis taklim di pondok pesantren milik beliau. Azzam jelas-jelas menolak karena keterbatasan ilmu yang bisa membuat ia malu tapi karena kyai Ilyas tahu bahwa pria yang baru dikenalnya itu mampu, sehingga Kyai Ilyas terus memaksa. Akhirnya yang terjadi adalah semua orang menyukai cara Azzam menyampaikan materi. Sederhana namun indah. Kesederhanaan pun ditampilkan pada sikapnya yang sempat tampak gugup dan beberapa kali tertunduk namun menguasai materi dan para hadirin. Semua orang terpana dalam majelis taklim itu, baik pria maupun wanita.
Kesabaran dalam menjemput pendamping hidup harus diacungi jempol. Begitu banyak yang datang dan didatangkan, namun berguguran di awal jalan dan di tengah jalan bahkan di jalan yang hampir menuju pelaminan. Azzam tetap ikhtiar bahwa ia akan mendapatkan pasangan terbaik tepat pada masanya.
Garis merah sebenarnya adalah Azzam bukan sederhana tapi istimewa. Mana ada yang sederhana mampu mengontrol emosinya sedemikian rupa, mana ada yang sederhana mampu menyampaikan materi sedemikian dimegerti, mana ada yang sederhana dalam berpenampilan namun tampak cukup rapi, mana ada yang tak terlalu tampan namun enak untuk dipandang (nah, baru deh boleh senyum fans Kholidi).
Buat kebanyakan orang, sederhana itu biasa tapi tidak untukku. Tak selamanya yang sederhana itu biasa karena ternyata sederhana itu banyak mendatangkan keistimewaan yang wah. Sederhana itu sekilas tampak apa adanya tapi sebenarnya sederhana itu "ada apanya". Bahkan rasulullah sendiri menyukai kesederhaan, beliau tak menyukai sesuatu yang berlebihan karena dianggap sebagai kemubaziran yang tak mendatangkan kebaikan. Dalam kesederhanaan sesungguhnya ada banyak tersimpan cahaya yang berguna untuk menerangi sekelilingnya, dan...mana ada sosok yang sederhana bisa jadi coverguest 2002 di salah satu tabloid ibukota (Ups!).
By the way, Azzam memang taklah terlalu tampan jika dibandingkan dengan Mas Arulku, namun jika Mas Arul dibandingkan dengan Andra ternyata Andra jauh lebih tampan. Apakah Bintang akan bimbang? kutahu kalian tak sabar menanti novel Bintang jilid 2-ku, tunggulah sejenak beberapa minggu. Saat ini aku sedang mengumpulkan banyak ilmu yang harus bertarung dengan waktu. Mohon doanya agar aku bisa menampilkan Mas Arul yang istimewa di mata Bintang agar Bintang tak memilih pria yang lebih kaya dan lebih tampan (ow ow ow!).
***
Kamis, 20 Agustus 2009
Paket Pelatihan Menulis Ramadhan
Pelatihan Menulis Cerpen-Puisi FLP Sumut
Forum Lingkar Pena Sumut akan menggelar pelatihan bertajuk menulis fiksi (cerpen-puisi) yang akan dilaksanakan selama 20 hari di bulan ramadhan. Kegiatan akan diisi oleh para penulis-penulis FLP Sumut dan beberapa sastrawan Taman Budaya Sumut.
Syarat dan ketentuan :
Hari/Tanggal : 25 Agustus-14 September 2009
Pukul : Sesi 1, pukul 08.00 Wib-10-00 Wib
Sesi 2, pukul 15.00 Wib-17.00 Wib
(Pilih salah satu sesi)
Tempat : Taman Budaya Sumut, Jl. Perintis Kemerdekaan
Jumlah Peserta : Maksimal tiap sesi sebanyak 20 orang
Kriteria Peserta : Ibu rumah tangga, Pelajar, Mahasiswa, Karyawan, Pedagang, dosen dan masyarakat umum
Kontribusi : Rp. 100.000,- /orang*)
Fasilitas : Makalah, Sertifikat, List Media Massa dan Buku “Pelangi Kasih”**)
Syarat-syarat***) :
1. Mengisi formulir yang tersedia di blog www.batangpinsil.blogspot.com
2. Mentrasfer uang kontribusi ke rekening Bank Syariah Mandiri 0067008814 a.n Sukma (melampirkan bukti transfer pada saat pertemuan pertama)
3. Melampirkan pas foto ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar
4. Mengirimkan karya terbaru (3 judul puisi dan 1 judul cerpen)
Selain beribadah, niscaya dengan bergabung dengan kelas menulis fiksi ini, Anda sengaja digiring untuk lebih semangat, cepat, dan tepat untuk memahami teknik-teknik menulis, menyajikan serta mengirimkannya ke media massa. Tunggu apalagi, segera daftarkan diri Anda. Tempat sangat terbatas!!
Informasi Pendaftaran:
Sukma (081370458213)
Nurul Fauziah (085261483012)
*) Diskon 25% bagi Anda yang membawa teman sebanyak 5 orang
**) Selama persediaan masih ada
***) Formulir pendaftaran, Naskah tulisan, dan Pas Photo di kirim via email sukma_kidspro@yahoo.co.id
Formulir Pendaftaran Peserta TADARUS SASTRA 2009
Nama : …………………
T/Tgl Lahir : …………………
Alamat : …………………
Asal Sekolah : …………………
Kelas : …………………
No.Telp/handphone : …………………
Emai/Blog : …………………
Motivasi Mengikuti Pelatihan : …………………
Judul Buku yang Digemari : …………………
Penulis Pengarang yang Dikagumi : …………………
Pelatihan Menulis yang Pernah diikuti :
1. ………………………
2. ………………………
3. ……………….........
4. ………………………
Judul Karya yang Pernah ditulis :
1. ………………………
2. ………………………
3. ………………………
4. ………………………
Karya yang dikirimkan berjudul :
1. ………………………
2. ………………………
3. ………………………
4. ………………………
Menyatakan diri mengikuti Pelatihan Menulis Cerpen-Puisi Ramadhan 2009 FLP Sumut dan bersedia mentaati semua aturan yang berlaku. Demikian form ini saya isi dengan sebenarnya. Atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan banyak terima kasih.
Hormat saya,
Peserta
……………………………2009
…………………………….
Kamis, 09 Juli 2009
Oji & Ssstttssstttssss....
Azan Maghrib baru saja selesai berkumandang, dan segeralah diriku berwudhu lalu mendirikan solat Maghrib sedangkan adikku si Oji masih anteng di depan televise, disuruh sholat, hanya gumaman “mmmm…” yang keluar dari mulutnya yang berarti dua hal: pertama, akan sholat tapi sebentar lagi dan yang kedua bermakna akan sholat tapi sebentar lagi, eh sama aja yak an?. Yoda aku pun masuk kamar untuk sholat.
Setelah aku raka’at ke 3 lalu salam menolehkan wajah ke kanan yang berarti masukkan aku ke surga jannatuna’im ya Allah, dan menolehkan wajah ke kiri yang ya Allah jauhkan aku dari siksa neraka, tiba-tiba si Oji masuk ke kamarku dengan tergesa-gesa, mukanya pucat, dan napas berburu seperti baru ikut lomba lari marathon, lalu dia bilang “Kak ada ular di belakang”, dibelakang itu maksudnya di dapur, “Hah…betul ko Ji?, mana mungkin ada ular”, Iya kak betul, aku dengar bunyi ssttt… di dapur di bawah meja makan”. “Aku selesaikan dulu doaku ya, aku belum berdo’a ni”.
Selesai berdoa aku dan Oji mencari tahu apakah benar ada ular di dapur. Ternyata sodare2 bukan tertawa aja yang menular lebih cepat ke orang lain tetapi rasa takut ternyata juga bisa menular, aku pun jadi ikutan takut. Aku dah membayangkan bagaimana sosok ular yang dibilang si Oji itu berukuran besar kayak di pilem2 barat terus panjangnya bermeter-meter, pikiran ku terus berburuk-buruk ria, bagaimana jika ularnya manjat dinding, kemana aku kan lari?. Lagian siapa yang nggak takut bila ular seperti itu masuk ke dalam rumah. Hiiii…
Penasaran dengan promosi si Oji tentang ular yang dia maksud, akhirnya berdua kami keluar dari kamarku. Saking takutnya keluar dari kamar saat buka pintu pun kami haris lihat kiri kanan memastikan kalau-kalau itu ular ada di depan pintu, ternyata keadaan masih dalam on the control. Dengan mengendap-endap, aku di depan dan si Oji di belakangku, kami berjalan pelan menuju dapur. Sesampainya di dapur rasa takut itu makin besar.
“Mana ularnya, Ji?”
“Itu kk, di bawah meja”
Aku lihat di bawah meja tak ada apa-apa lah kayaknya.
“Bukan pas di bawah mejanya kk, tapi dia ada di atas kursi”, Jadi biar kujelaskan kawan2 meja makan kami itu ada kursinya nah, Karena lagi nggak ada acara makan memakan, kursinya di masukkan ke dalam meja. Apakah meja makan kalian juga kayak gitu?
“Mana Ji?”
“Nah, ko buka lah kk pake ujung sapu ini”, alamak dia ngasih aku sapu, saking takutnya untuk membuka alas meja dengan tangan, takut di patuk soalnya. Ku terima lah pemberian adikku itu. Saran yang bagus ku pikir.
Mau tak mau aku beranikan diriku. Pokoknya sok pemberani lah, terpaksa memberanikan diri tepatnya, kayak dipilem2 action, padahal aku takutnya setengah mati.
Ternyata sodara2 setelah layar terkembang alias pinggiran taplak meja di buka, mau tahu sesuatu apa yang dengan Pe We alias Posisi Wuenaknya, tergeletaklah di atas kursi sebuah plastic hitam yang isinya beberapa buah timun sgar. Emang sih sekilas timun-timunnya kayak kepala ular tapi kok kesannya lebay gitu ya???
Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, asal muasal bunyi ssstttss yang didengar si Oji berasal dari termos keci punya Azeeza yang penutupnya tidak rapat sehingga udara dan sisa-sisa air yang di dalam termos berdesak-desakan keluar dari pinggir penutup sehingga menimbulkan bunyi ssttsstt. Wah, dah ilmiah apa belum ya jawaban aku ini? Perasaanku mengatakan dah ilmiah kali pun.
Dulu aku pun sempat terkecoh dengan bunyi ini tapi tidak kusimpulkan bunyi itu sebagai suara ular kayak si Oji, tapi bunyi suara hantu yang mau menakut-nakutiku. Ssstttss…ssstt…(macam pernah dengar aja suara hantu ntu kyk mana).
Rabu, 08 Juli 2009
Kembali Pulang 2
Oleh : Sukma
Sepagi tadi, seisi rumah terlihat benar-benar diguyur panik. Adik perempuan saya yang biasanya berleha-leha di tempat tidurnya seketika bangkit dan melonjak saat membaca isi ponselnya yang berisi tentang kabar tak mengenakkan itu.
“Mak, aku baru dapat sms dari Wak Ipo. Bukde Lina sudah meninggal jam enam tadi !” Suara adikku memburu.
Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun !! Sambil mengelus dada emak terdengar beberapa kali mengucapkan kata-kata itu.
Begitupun adikku yang lelaki, abangku_kala itu ia masih tidur_ juga si bapak yang tengah menyapu halaman terdengar sedikit gaduh. Mungkin terkejut. Pasalnya malam tadi, mak dan bapak menjenguk kabar derita bukde kami itu di rumah sakit berjarak tidak jauh dari rumah.
Dan jujur saja, saya yang pagi ini tengah asyik nongkrong_dalam renungan yang panjang_ di toilet, sepintas terganggu pula.
“Meninggal ? Sudah saatnya kah?” Kata saya dalam hati.
Namun, memang dari sekian orang-orang yang ada di dalam rumah hanya saya-lah yang terbilang cuek. Tidak gusar sedikit pun. Emak terlihat terus saja mengelap air matanya yang tak kunjung usai. Sesenggukan. Bapak mengambil handphone, bersihendak mengabari sanak famili nun jauh di kampung. Sama pula dengan adik dan abangku, sudah langsung mandi, berbusana dan berpeci kemudian menggilir pesan kematian itu ke tetangga-tetangga terdekat.
Mereka sibuk. Nyaris melupakan sarapan pagi saya, yang umumnya, sudah harus terhidang di meja makan. Adik saya yang perempuan juga bergegas. Menjemur pakaian, menyapu ruang depan hingga menyetrika jilbab yang hendak dipakai.
Lagi-lagi saya tetap mengacungkan tampang cuek. Saya malah asyik menyemir sepatu. Mengemasi buku-buku dalam tas kemudian menyalakan televisi.
Itulah !
Entah mengapa saya tidak merasa penting dengan berita kematian itu. Saya tidak merasa itu hal yang ajaib. Karena menurut saya mati dan hidup adalah hal biasa. Orang-orang menangisi jenazah yang sudah tiada adalah hal yang sudah umum. Lalu, apa yang hendak dihebohkan dengan kejadian itu ?
Saya juga merasa bahwa sanak famili yang jauh pasti sudah ada yang mengabari, bilal mayit, penggali kubur serta Wak Dullah, pemuka agama di desaku yang biasa mengumumkan berita kematian di Toa Mesjid, pun pasti sebentar lagi akan berkumandang menghalo-halokan perihal berita itu.
Maka sekali lagi, apa sebenarnya yang mesti saya repotkan ?
Sementara tetangga-tetangga, kaum ibu dan bapak, beberapa tampak pula anak muda mulai berduyun menuju rumah almarhumah bukde saya. Mereka berbusana begitu rapi. Ada juga yang bertampang necis. Jilbab penuh kemeriahan. Juga ada yang saya lihat seperti hendak pergi berhari raya saja. Rapi nian. Sungguh, kejadian pagi ini benar-benar mengherankan bagi saya.
Tak lama berselang, mak juga mulai berteriak-teriak, menyuruh adik saya yang perempuan untuk lekas menjerang air, menggoreng telur hingga bermata sapi untuk sarapan pagi ini. Si abang juga disuruh-suruh supaya lekas mengeluarkan sepeda motornya. Cuma saya yang tidak disuruh emak. Mungkin karena emak sungkan.
Karena sepagi itu pasti saya sudah berdandan rapi, kemeja licin, celana bersih dan sepatu mengkilap ialah tanda bahwa saya telah siap untuk menerjang rezeki. Biasanya, kalau pagi mulai tiba tabiat saya memang begitu. Lekas mandi, berseragam rapi, menyetel tivi seraya menunggu sarapan pagi.
Maka kalau sarapan pagi tak kunjung tiba selanjutnya saya akan pergi sendiri ke pajak pagi untuk membelinya disana. Egois !! Kata adik saya begitu.
Mungkin ada benarnya. Namun, saya memang tidak pernah merasa begitu. Hari-hari saya selalu membuat saya nyaris tidak punya banyak waktu bahkan sering kehilangan waktu. Bukan pada persoalan manajemen waktunya tapi lebih kepada aktifitas yang jumlahnya tidak sebanding. Kadang rencana seabreg yang saya miliki belakangan sering menjelma duri yang teramat tajam. Kadang pula ibarat gua yang menakutkan.
Maka, memikir hari-hari itu jauh lebih menakutkan bagi saya ketimbang mendengar berita kematian pagi ini. Mungkin memang saya tipikal orang yang tak sembarang berkawan, terlalu suka menghabiskan waktu di luar, tidak terlalu peduli ke sanak famili hingga membuat saya tidak merasa begitu dekat dengan mereka.
Tidak hanya itu, jauh sebelum-sebelumnya ketika banyak teman-teman SD saya yang sudah naik pelaminan kemudian mengundang saya pada resepsinya itu, saya justru sama sekali tidak berhasrat datang ke pesta itu, apalagi arisan-arisan keluarga, acara wiritan tetangga sampai peringatan hari-hari besar islam di mesjid ujung, pun jarang jua saya ikuti.
Saya sama sekali tidak mengerti. Kenapa saya bisa sebegini egois, sebegini cuek. Padahal dulu-dulunya tidaklah saya separah ini. Apa mungkin karena aktifitas kota tengah meleburkan saya pada kegiatan-kegiatan seperti ini ? Mungkinkah saya sudah terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan modern yang membuat saya lupa dengan aktifitas tradisionil, tempat saya dulu dilahirkan ?
Apa juga karena saya terus digilakan dengan semua kecintaan pada hal yang sebenarnya justru (menjauhkan) saya dari nilai-nilai kehidupan ? Atau yang ekstrimnya, apakah saya sudah tidak lagi ingat perihal etika ketuhanan sebagai manusia yang punya hubungan horizontal ?
Oh.., saya benar-benar tidak mengerti !
Tampang-tampang sedih yang muncul pagi ini di rumah sebenarnya adalah simbol bahwa di rumah ini masih menganut jauh tentang apa yang disebut falsafah mati dan hidup. Hal yang kini terlalu sering saya khianati.
Alhasil ketika emak mengusung ide agar hari ini saya di rumah saja, tidak usah masuk kerja dan musti hadir diacara pemakaman almarhumah bukde saya itu, maka sesungguhnya itu permintaan yang teramat sulit bagi saya.
Namun sebagai seorang penulis justru kondisi ini menantang saya. Membuat saya harus mampu menciptakan alur cerita yang baru, adegan-adegan yang fantastis dan ending yang mutakhir dalam tiap cerpen yang kelak saya ciptakan. Hanya saja, yang paling payah saai ini, saya sendirilah tokoh utamanya.
Memang sesekali saya harus belajar mengorbankan semua rencana-rencana yang tadi malam tengah saya susun. Saya juga harus belajar bagaimana masuk dn mencitpakan sebuah cerita dengan dilatari adegan-adegan pemakaman yang nyata, yang itulah sebentar lagi akan saya kunjungi.
**
Benar dugaan saya !
Saat saya dalam suasana kematian yang hening itu, isak tangis kaum pentakziah pelan-pelan menjadi alunan keroncong tanpa nada begitu sepi, wajah-wajah lengang yang membatu, doa dan ayat-ayat yang diterbangkan, serta kain kafan, tempat pemandian dan keranda yang tengah dipersiapkan setidaknya menghipnotis saya untuk tidak bisa banyak bicara.
Saya benar-benar lupa dengan pekerjaan di kantor, saya sudah tidak ingat tentang janji dengan para peserta “workshop menulis” yang saya gelar beberapa hari lalu, saya sama sekali khusyuk dalam riuh aroma daun pandan dan kapur barus yang berkali-kali ditaburkan si bilal ke dalam tempayan tempat pemandian si mayit.
Tapi herannya, justru semakin saya khusyuk, semakin terasa bahwa dada saya berdenyut sesak. Tidak tau mengapa. Saya mencoba menukik ke dalam hati, benak dan emosi saya. Menemukan suatu yang membuat saya tidak habis pikir. Kenapa saya tidak kunjung sedih ? Kenapa saya tetap merasa ini biasa-biasa saja? Dan menangis, tetap saya rasakan sebagai sebuah ketololan saat itu.
Isak tangis terus menghilir dari pipi anak-anak alamarhumah bukde saya itu. Bahkan anaknya yang perempuan hingga siang itu saya hadir, tidak kunjung bangun dari pingsannya. Sementara saya tetap cuek-cuek saja. Tidak ada perasaan apapun !
Saya terus mencari dari kejadian hari ini yang bisa saya kutip pelajaran, ide, pemaknaan, pengetahuan dan rasa kemanusiaan untuk kemudian terjadi internalisasi dalam diri dan segenap tulisan-tulisan saya. Tapi, lagi-lagi saya tidak lihai menemukan itu.
Dalam keadaan yang cukup kikuk, saya masih saja sendirian. Berharap aliran cerita berubah wujud menjadi kisah yang bisa saya tulis sepulang nanti. Namun tetap saja saya terus dikepung bingung, bingung hendak melakukan apa.
Begitupun takut salah bicara. Apalagi memang tidak ada bahan pembicaraan yang bisa saya ungkapkan pada orang-orang di sekitar saya. Saya juga tidak mau terlihat sok sibuk, sok pura-pura membantu. Seperti mengangkat kursi-lah, membentang tenda, memasang kabel microphone atau mengatur parkir-lah. Karena saya tau, itu semua sudah dikerjakan.
Palingan, yang bisa saya lakukan waktu itu yakni mendekati Dian, anak almarhumah bukde saya yang paling besar. Wajahnya sangat kecut. Beberapa kali matanya terus melinangkan air. Sedu-sedannya jelas terlihat. Sebenarnya saya sangat ingin merangkul pundaknya seraya mengatakan, Sabar, ya ! Allah tau yang terbaik buat hambanya. Namun, kata-kata itu juga tidak berani saya ucapkan. Saya hanya diam saja.
Berselang kemudian, Dian beranjak. Kursi di sebelah saya kini kosong. Dari kejauhan bapak saya yang sedari pagi sudah berada di rumah duka ini kini duduk di bangku itu tepat di sebelah saya. Padah kalau bapak tidak mengarah ke bangku ini, saya sudah berniat ingin pulang saja.
“Kapan dikebumikan, Pak ?” Tanya saya
“Berharapnya sih sebelum zhuhur. Tapi sepertinya bakal dikebumikan setelah zhuhur juga,” jawab bapak saya sederhana. “Masih di sini kan sampai selesai ?” Tanya bapak saya kemudian.
“Kenapa, Pak ? Apa masih banyak yang harus dikerjakan ?”
“Bukan ! Tadi pakdemu cerita sama Bapak kalau di rumah ini anak-anaknya, termasuk si Dian tidak ada yang bisa menyolatkan bukdemu itu. Bapak rencananya nyuruh kamu. Bisa kan ? Jadi jangan pulang dulu, ya !” Kata bapak dengan suara pelan.
“Aduh !!”
Seketika saya terkejut bukan main. Tapi biarlah, kini sepertinya ide tulisan saya sudah ketemu.
Medan, 27 Mei 2009
Sabtu, 20 Juni 2009
"Tempe Azzam"
Bulan Juni ini adalah bulan "demam KCB". Anda tentu tahu apa itu KCB. Ya, Ketika Cinta Bertasbih. Sebuah film produksi anak negeri. Sejak munculnya film "Ada Apa dengan Cinta", maka muncullah kebangkitan produksi film di Indonesia setelah sekian lama tidur.
Secara pribadi saya menyukai film ini, termasuk ibu dan adik saya yang saya boyong untuk ikutan hobi saya, nonton! Saat ibu saya ajak, beliau memandang saya lama namun pandangannya itu tampak kabur, tak lama kemudian beliau berkata, "Terakhir kali mamak nonton nang bioskop sama bapakmu pas ngidam kakang Antomu." Oh...ternyata ibu mengenang memori terakhir kali di bioskop. Wah, itu kan 30 tahun yang lalu. Sehingga saat saya ajak beliau tersenyum-senyum. Aha, saya tahulah apa maksud ibu.Mau!
Saat nonton saya perhatikan ibu begitu sangat menikmati layar lebar di hadapannya. Saya gembira jika ibu bahagia seperti saat itu meskipun sebenarnya di pikirannya ada bermacam-macam beban yang ia pikul, sendiri.
Begitu selesai nonton, ibu mengatakan beliau menyukai Azzam. Pria dewasa yang 9 tahun tak tamat-tamat kuliah di Kairo, diakui ibu sebagai pria yang santun, baik, menghargai perempuan, bertanggungjawab, dan sayang pada keluarga. Yang lebih unik lagi besok paginya saat saya menggoreng tempe ibu mengatakan bahwa tempe itu adalah tempe Azzam. Ha ha ha . Ibu ada-ada saja.
Saya pun penasaran dengan manfaat yang dikandung tempe. Anda juga kan? nah, maka kali ini saya akan berbagi.
Tempe ternyata mengandung banyak protein yang dapat mengatasi diare, kaya zat besi yang dapat menurunkan tekanan darah, Superoksida Desmutasenya dapat mencegah jantung, penanggulangan anemia, anti infeksi, menurunkan kadar kolesterol, menolak kanker, mencegah hipertensi, dan mencegah kerapuhan tulang (osteoporosis).
Wah, subhanallah ya. Hanya dengan membeli sebungkus tempe yang seharga Rp. 1000,00 kita bisa sehat. Hm...tampaknya tak salahlah jika saya menamakan tempe adalah "makanan orang kampung yang modern". Anda setuju?
Kututup obrolan ibu dengan, "Ibu mau punya mantu kayak Azzam?"
Tak perlu saya ceritakan jawaban ibu karena Anda sudah tahu jawabannya. ^_^
Tapi buat saya "Mas Arulku" juga ngga kalah hebat. So, tunggu Mas Arulku di bulan Oktober. Insya Allah.
Kamis, 18 Juni 2009
Kekerasan pada Anak Lebih Banyak di Rumah
Senin, 13 Oktober 2008
MALANG, SENIN - Sekitar 70 persen kekerasan terhadap anak terjadi di rumah. Demikian disampaikan dr Heru P Kasidi MSc, Asisten Deputi Urusan Pendidikan dan Kesehatan Anak Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, Senin (13/10) di Malang, Jawa Timur.
Hal tersebut diungkapkan dalam seminar program perlindungan bagi anak Indonesia yang diselenggarakan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (BPMKB) Kota Malang di Hotel Gajah Mada, Kota Malang.
"Sebanyak 70 persen kekerasan terjadi di rumah. Bisa kekerasan fisik atau kekerasan psikis yang terkadang tidak disadari pelakunya," ujar Heru.
Bentuk kekerasan yang mungkin terjadi pada anak adalah perilaku menghalangi anak mendapatkan hak-hak dasarnya berupa hak bertahan hidup (gizi yang layak, layanan kesehatan, dan sebagainya), hak untuk bertumbuh dan berkembang (mendapat pendidikan yang layak, bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk bermain, dan sebagainya), hak perlindungan (terlindungi dari semua kekerasan fisik), dan hak partisipasi (turut andil menyumbang pendapat dalam keluarga).
Pelaku kekerasan pada anak ini bisa saja orang tua, saudara, atau kerabat lainnya.
"Kadang kala orang tua tidak sadar bahwa dengan membatasi waktu bermain anak dan hanya menyibukkan mereka dengan kegiatan belajar, merupakan salah satu bentuk kekerasan pada anak. Padahal itu salah satu bentuk kekerasan pada anak yang jarang kita sadari," ujar Heru.
Data tahun 2006, Heru menyebutkan bahwa ada 2,8 juta kasus kekerasan pada anak. Kekerasan itu selain terjadi di rumah, juga berasal dari media massa seperti surat kabar, dari lingkungan sekitar, dan sebagainya.
Winartiningsih, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Usaha Ekonomi BPMKB Kota Malang menuturkan bahwa dengan seminar itu, warga Kota Malang diharapkan mendapat pengetahuan dan informasi agar bisa memperjuangkan kesejahteraan dan perlindungan anak.
"Tanpa sadar banyak masyarakat yang tidak tahu apa itu kekerasan terhadap anak. Dengan informasi ini diharapkan tujuan mewujudkan Kota Malang sebagai kota layak anak bisa terpenuhi," ujar Winartinisngsih.
Asih Tri Rachmi, Kepala Bidang Kesehatan Keluarga dan Masyarakat (Kesgamas) Dinas Kesehatan Kota Malang mengatakan bahwa salah satu upaya Kota Malang mewujudkan kota layak anak dimulai dengan menjadikan Puskesmas Arjuno sebagai salah satu puskesmas yang memantau tumbuh kembang anak.
Kota Malang bekerjasama dengan Universitas Brawijaya melalui program pendidikan dokter spesialis (PPDS)-nya agar mereka berbagi informasi dan ilmu dengan masyarakat di puskesmas Arjuno. "Orangtua bisa mengontrol tumbuh kembang anaknya secara fisik dan psikis di sana. Tidak saja hanya pada saat sang anak sakit, namun juga saat-saat biasa," ujar Asih.
http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/13/17524094/kekerasan.pada.anak.lebih.banyak.di.rumah.
KOMENTAR DAN ULASAN
Oleh: Fitri Amaliyah Batubara
Seperti yang diungkapkan dalam surat kabar Kompas bahwa bentuk kekerasan yang mungkin terjadi pada anak adalah perilaku menghalangi anak mendapatkan hak-hak dasarnya berupa hak bertahan hidup (gizi yang layak, layanan kesehatan, dan sebagainya), hak untuk bertumbuh dan berkembang (mendapat pendidikan yang layak, bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk bermain, dan sebagainya), hak perlindungan (terlindungi dari semua kekerasan fisik), dan hak partisipasi (turut andil menyumbang pendapat dalam keluarga).
Dari semua bentuk kekerasan tersebut, anak lebih banyak mendapatkan perlakuan kekerasan dalam rumah mereka. Fakta yang ada menunjukkan bahwa ternyata anak di dalam keluarga mereka tidak mendapatkan giji yang layak, layanan kesehatan yang baik, pendidikan yang layak, kebebasan untuk bermain, perlindungan fisik dan kebebasan untuk berperan secara maksimal di tengah-tengah keluarga.
Orang tua terhadap anak mereka memiliki tugas dan kewajiban yang secara gamblang dapat disimak dalam Firman Allah SWT, Sabda Rasulullah SAW, Deklarasi PBB tentang Hak Anak-anak serta beberapa undang-undang yang mengaturnya. (Soemarjo, 171:951).
Firman Firman AllahSWT tersebut adalah
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakunya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar dan yang keras; yang tidak mendurhakakan Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim:6)
Kekerasan anak memang lebih banyak terjadi di rumah jika dibandingkan di sekolah. Di sekolah, anak hanya berada selama beberapa jam saja dan di rumahlah anak lebih banyak menghabiskan waktunya.
Awal Januari 2006 masyarakat dikejutkan kejadian tragis di Serpong, Tangerang. Indah (3 tahun) dan Lintar (1 tahun) dibakar oleh Yeni, ibu kandung mereka yang mengaku kesal karena tekanan ekonomi dan kebiasaan suaminya mabuk-mabukkan. Setelah dirawat sembilan hari, Indah meninggal sedangkan Lintar membaik dan sudah pulang dari rumah sakit. (Kompas edisi Selasa tanggal 24 Januari 2006). Peristiwa ini hanya sebagian kecil saja yang menunjukkan bahwa kekerasan pada anak memang lebih banyak terjadi di rumah.
Menurut WHO, kekerasan adalah penggunaan secara sengaja kekuatan fisik atau kekuatan, ancaman atau kekerasan aktual terhadap diri sendiri, orang lain, atau terhadap kelompok atau komunitas, yang berakibat luka atau kemungkinan besar bisa melukai, mematikan, membahayakan psikis, pertumbuhan yang tidak normal atau kerugian. (Kusworo, Danu. 2006 : 1)
Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa kekerasan tidak hanya melibatkan fisik tetapi juga psikis seseorang. Begitupun seorang anak yang kenyataannya hanyalah seseorang yang tidak bersalah dan belum memahami banyak hal.
Melihat fenomena yang terjadi bahwa kekerasan terhadap anak kebanyakan terjadi di dalam rumah, maka sudah sepantasnya para orang tua berusaha merubah fenomena tersebut dan paradigma berpikir masyrakat. Orang tua harus berusaha menjadikan rumah sebagai tempat yang menyenangkan bagi anak mereka.
KORAN WASPADA
“Usia Emas” Anak Justru Sering Dirusak Orangtua
Perkembangan kecerdasan dan mental seorang anak atau IQ/EQ sering dirusak para orang tua karena cara mengasuh, membimbing, serta membina anak pada "usia keemasan" (0 sampai enam tahun) dengan cara yang salah, yakni sekedar bicara bukan dengan sikap/teladan.
Pesan moral itu disampaikan Ria Enes bersama boneka Susan saat menghibur sekitar seribu anak-anak dalam acara "Kumpul Seribu Bocah" yang digelar oleh Dinas Pendidikan Kaltim dalam rangkaian peringatan Hardiknas di Stadion Madya Sempaja, Minggu lalu.
"Menurut para ahli, usia menyerap anak pada 'usia keemasan', yakni sampai enam tahun mencapai 70-80 persen yang efektif dibina dengan cara sikap atau teladan orangtua, bukan hanya sekedar perintah atau bicara, jadi ibu-ibu jangan merusak kecerdasan dan mental anak kita akibat kesalahan kita sendiri," kata Ria Enes.
"Kalau kita perintahkan anak belajar, sementara orangtuanya nonton tivi, pasti anak tetap ikut nonton tivi. Kalaupun kita paksa anak belajar, kemungkinan besar anak akan menangis, ya Susan ya!," kata Ria menatap "Susan", boneka lucu yang dipegang di tangan kanannya.
Sementara itu "Susan" mengiyakan apa yang dikatakan Ria. Bahkan, Susan juga mengatakan jika orangtua menyuruh belajar, maka orangtua juga harus memberi contoh belajar agar anak mau mengikutinya.
"Kalau ibu menyuruh saya belajar, ibu juga harus belajar, jadi kita sama-sama belajar," kata Susan, sang boneka yang disambut tawa ibu-ibu dan bocah yang terlihat kagum melihat pertunjukan suara perut itu.
Ia menambahkan bahwa anak-anak butuh keteladanan dan contoh sikap tersebut bagi seorang anak akan tertanam kuat dalam benaknya sampai mereka dewasa nanti.
"Jika sejak kecil anak sudah terbiasa melihat orangtuanya berbuat apa saja, baik itu sholat dan mengaji, maka hal itu akan mereka ingat terus. Namun, apabila ayah dan ibunya sering berkelahi, maka kebiasaan orangtua akan terekam pula dan bisa terbawa menjadi sikap keras mereka saat dewasa," kata Ria melalui sang boneka Susan.
Ria yang juga menghibur lewat
Pasalnya, hal itu justru bisa mempengaruhi lambat daya fikir, kreatifitas, dan mental atau intelligent quatients dan emotional quotients (IQ/EQ) si anak.
Sementara itu, panitia Kumpul Seribu Bocah, Sutikno yang juga salah seorang Kasi di Disdik Kaltim mengatakan bahwa salah satu tujuan dilakukan acara tersebut adalah selain memberikan penyegaran terhadap anak tentang hiburan yang dibawakan oleh Ria Enes, juga memberikan tambahan ilmu kepada orangtua yang mengantar anaknya.
"Cara mendongeng dan menyanyi lebih cepat mereka terima baik bagi anak-anak maupun para orangtua yang hadir pada acara ini. Dalam rangkaian peringatan Hardiknas ini kita ingin mengisinya dengan hal yang benar-benar bermanfaat bagi dunia pendidikan, yakni melalui pesan moral ini, bukan sekedar hura-hura," imbuh dia.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan di sekolah sifatnya hanya dukungan bagi perkembangan anak namun mempersiapkan generasi muda yang menjadi aset bangsa itu berawal dari rumah atau kehidupan keluarganya.
"Ketika memasuki dunia sekolah di SD, usia keemasan anak itu sudah lewat karena masuk sekolah, batas usia sudah tujuh tahun," papar dia.
Sebagai "orang pendidikan", ia juga mengharapkan agar cara mendidik anak melalui dongeng sebelum tidur sebenarnya cara sangat tepat selain melalui sikap/teladan orangtua.
"Misalnya, kita akan menceritakan tokoh-tokoh yang bijaksana, berbudi serta orang-orang jahat. Jadi pesan moral yang kita sampaikan di dalam dongeng, termasuk cara pendidikan yang tepat.Namun, dengan perkembangan sekarang, anak kita manjakan dengan menonton tivi dan game," kata dia.
Pihaknya berjanji bahwa dalam peringatan Hardiknas tahun-tahun akan datang, terus mengisinya dengan berbagai acara yang benar-benar bermanfaat bagi dunia pendidikan, bukan sekedar acara serimonial dan hura-hura.
KOMENTAR DAN ULASAN
Oleh: Fitri Amaliyah Batubara
Menurut Indra Sugiarno, Ketua Satuan Tugas Perlindungan dan Kesejahteraan Anak Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP-IDAI), yang dimaksud dengan anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun. Anak mengalami usia keemasan dimulai pada usia 0-6 tahun. Masa-masa ini merupakan masa-masa paling berharga bagi anak dan masa-masa paling tepat bagi orangtua untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak tersebut.
Dalam keluarga, orangtua memiliki peran yang sangat besar terhadap anak.
- Kata kunci pembangunan SDM Anak adalah pendidikan. Menurut M. Surya, keunggulan hanya diperoleh melalui pendidikan yang diprogramkan secara sistematis (A. Sasmita Effendi dan Syaiful Sagala, 2001:66).
- Dalam keadaan normal, lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orangtuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua serta mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui lingkungan itulah anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari (Soerjono Soekamto,1990:496).
- Keluarga diwajibkan untuk menyelami dan mendalami serta mengenalkan ajaran-ajaran agama dalam perilakunya sebagai manusia yang bertaqwa kepada Tuhan YME (Abu Ahmadi, 1991:91).
- Keutuhan rumah tangga adalah syarat utama dalam pembinaan anak (Rusli Nasution, 1996:4). 5)
- Selamatkan Remaja dengan Pendidikan Agama (Rusli Nasutian, 1998:1)
- Bila suatu keluarga tidak dapat menjalankan fungsinya, maka berarti keluarga tersebut telah mengalami kemandekan atau disfungsi akan mengganggu perkembangan kepribadian anak (Syamsu Yusuf, 2003:41).
- Keadaan keluarga yang tidak harmonis, tidak stabil atau berantakan, merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak yang tidak sehat (Syamsu Yusuf, 2003: 43).
Membina dan mendidik anak tampaknya bukanlah hal yang mudah bagi setiap orantua. Namun, bukan seharusnya hal ini menjadikan orangtua berdiam diri atau melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat sama sekali dalam membina dan mendidik anak mereka.
Seperti yang telah diungkapkan pada
KORAN KOMPAS
Kekerasan Pada Anak, Seram!
Menurut laporan dalam suatu pertemuan di
Ia menjelaskan, karena kekerasan dan kejahatan terhadap anak pelakunya orang terdekat, mungkin ibu-bapak kandung, ibu dan bapak tiri, kakek, nenek, paman, supir pribadi, guru, atau tukang kebun dan atau tukang ojek pengantar ke sekolah, banyak kasusnya tidak terungkap dan tidak dilaporkan. Keluarga, diyakini merasa itu sebagai aib atau akan mempermalukan keluarga. Sehingga yang ada cuma angka prediksi, berapa kasus tiap tahunnya.
" Anak-anak yang mengalami kekerasan atau kejahatan (yang menyebabkan gangguan fisik dan atau mental) diprediksikan 10-12 persen per tahun dari jumlah anak dindonesia. Yang dimaksud dengan anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun, " jelas Indra Sugiarno, yang juga Ketua Satuan Tugas Perlindungan dan Kesejahteraan Anak Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak
Data kasus yang dilaporkan ke kepolisian, setiap tahun ada sekitar 450 kasus kekerasan pada anak dan perempuan. Sebanyak 45 persen dari jumlah kasus itu, adalah anak korbannya. Menurut dia, seringkali istilah kekerasan pada anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi.
Kekerasan pada anak juga seringkali dihubungkan dengan lapis pertama dan kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak anak, yaitu orangtua (ayah dan ibu) dan keluarga. Kekerasan yang terakhir ini dikenal dengan perlakuan salah terhadap anak atau child abuse yang merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga.
Dengan adanya stres dalam keluarga dan faktor sosial yang kental dengan ketidaksetaraan dalam hak dan kesempatan, sikap permisif terhadap hukuman badan sebagai bagian dari mendidik anak, maka para pelaku makin merasa sahlah untuk mendera anak. "Dengan sedikit faktor pemicu, biasanya berkaitan dengan tangisan tanpa henti dan ketidakpatuhan pada pelaku, terjadilah penganiayaan pada anak yang tidak jarang membawa malapetaka bagi anak dan keluarga," papar Indra.
Indra juga menjelaskan, tindak kekerasan dan kejahatan pada anak sering terjadi karena pelaku tidak mengetahui dan sadar bahwa tindakannya itu dapat diancam pidana penjara atau denda yang tidak sedikit. Dalam Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, jika pelakunya orangtuanya sendiri, hukuman akan ditambah sepertiganya.
Pasal 80 menyebutkan, ayat 1: setiap orang yang melakukan kekejaram, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000. Ayat 2, dalam hal anak sebagaimana dimaksud ayat 1 luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000.
Ayat 3, dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati, maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp200.000.000. Pidana dapat ditambah sepertiganya dari ketentuan sebagaimana dimaksud ayat 1, 2, dan ayat 3 apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orangtuanya.
http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/14/21233615/kekerasan.pada.anak.seram
KOMENTAR DAN ULASAN
Oleh: Fitri Amaliyah Batubara
Kekerasan pada anak memang bukan sekedar issu belaka. Hal ini dibuktikan dengan beberapa fakta dan data yang ada dan salah satunya adalah fakta yang terdapat dalam
Kekerasan yang mereka lakukan pun bermacam-macam. Seperti yang telah diungkapkan oleh
Dalam hal ini saya akan mengaitkan masalah diatas dengan pendapat DR. Rose Mini A.P, M.Psi mengenai bentuk -bentuk kekerasan pada anak yang diantaranya adalah:
1. Kekerasan fisik (physical abuse)
- Bentuk kekerasan yang sifatnya bukan kecelakaan yang membuat anak terluka.
- Contoh: menendang, menjambak (menarik rambut), menggigit, membakar, menampar, dll
2. Kekerasan sexual (sexual abuse)
- Segala tingkah laku seksual yang dilakukan antara anak dan orang dewasa.
- Contoh: pelacuran anak-anak, intercourse, pornografi, eksibionisme, oral sex, dll
3. Mengabaikan(Neglect)
- Salah satu bentuk kekerasan dimana orang tua/ orang dewasa tidak dapat menyediakan kebutuhan fisik anak.
- Contoh: tidak memberikan gizi yang cukup, rumah yang tidak layak, memberikan pakaian yang tidak layak, tidak memberi pengobatan saat anak sakit, dll
4. Kekerasan emosi(Emotional Abuse)
- Segala tingkah laku atau sikap yang mengganggu kesehatan mental anak atau perkembangan sosialnya.
- Contoh: tidak pernah memberikan pujian/ reinforcemenyang positif, membandingkannya dengan anak yang lain, tidak pernah memberikan pelukan atau mengucapkan “aku sayang kamu “.
Bentuk-bentuk kekerasan tersebut kalau dianalisis dan digolongkan ada kekerasan yang cenderung ringan dan berat sekali. Namun ringan atau berat sekalipun, jika itu dilakukan tetap mendapat sanksi yang berat oleh Negara.
Mengenai sanksi bagi pelaku kekerasan terhadad anak tersebut telah diatur oleh Negara dalam pasal 80 yang menyebutkan, ayat 1: setiap orang yang melakukan kekejaram, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000. Ayat 2, dalam hal anak sebagaimana dimaksud ayat 1 luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000. Ayat 3, dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati, maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp200.000.000. Pidana dapat ditambah sepertiganya dari ketentuan sebagaimana dimaksud ayat 1, 2, dan ayat 3 apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orangtuanya.
Yang menjadi kekhawatiran sehingga membuat angka kekerasan pada anak semakin meningkat dari waktu ke waktu adalah orang tua atau siapa saja yang terkait dengan anak terkadang tidak menyadari bahwa mereka telah melakukan kekerasan pada anak. Seringkali mereka berpikir bahwa tidak pernah memberikan pujian/ reinforcemen yang positif, membandingkannya dengan anak yang lain, tidak pernah memberikan pelukan atau mengucapkan “aku sayang kamu“ adalah hal yang lumrah dan bukan bentuk kekerasan pada anak tersebut. Padahal jelas seperti yang telah dipaparkan oleh DR. Rose Mini A.P, M.Psi, bahwa perbuatan sepele tersebut merupakan bentuk kekerasan emosi pada anak.
Tindak kekerasan terhadap anak seperti yang dikatakan oleh Makmur Sunusi, Ph.D, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial adalah perilaku dengan sengaja maupun tidak sengaja (verbal dan non verbal) yang ditujukan untuk mencederai atau merusak anak, baik berupa serangan fisik, mental sosial, ekonomi maupun seksual yang melanggar hak asasi manusia, bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat, berdampak trauma psikologis bagi korban.
Jadi, apapun itu baik dilakukan dengan sengaja atau tidak dan mengakibatkan anak cedera dan rusak secara fisik, mental sosial, ekonomi maupun seksual serta mengalami trauma psikologis, adalah merupakan bentuk kekerasan pada anak. Bagi yang melakukannya, siapun dia, ada sanksi tegas yang tidak bisa ditolerir.
Selasa, 02 Juni 2009
UNTUK YANG TERSAYANG…
Oleh: Fitri Amaliyah Batubara
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.”(Q.S.Al-Baqarah: 25)
Setiap kali aku melangkah menuju taman orang-orang yang merindukan kedamaian dalam hidupnya, terbayang sejuta pesona kebaikan yang akan lahir setelahnya. Terhitung dari langkah yang terayun karena Nya sehingga malaikat-malaikat langit tanpa ragu menitiskan doa, yang tanpa disadari mengalir seiring denyut nadi dan jantung serta bisik desah nafas. Bismillah, inilah langkah yang tak kenal lelah menyusuri lika-liku hidup. Berusaha mengalahkan hasrat yang terkadang tentram dengan kesenangan. Bertekad menghapus kata-kata “lumrah “ untuk sesuatu yang dipandang oleh “rasa“ sebagai hal kecil namun hal yang besar jika dipandang oleh “hati”. Berharap menjejaki jalan itu bersama-sama yang tersayang. Tahukah kau jika ku rindu saat dimana aku dan dirimu ditemani para bidadari surga bercerita tentang kenangan manis antara aku dan dirimu yang Allah pertemukan dalam taman orang-orang yang merindukan kedamaian dan kebaikan.
Karena aku menyayangimu biarkan kita berjalan bersama-sama menuju taman itu karena aku tak mau jika ku berjalan sendiri tanpamu.
Bila hari ini kau tak ada di taman yang sama denganku, aku akan berbisik pada Rabbku dalam doa-doaku di pagi dan malamku agar esok kau bersamaku di taman ini. Biarkan kerinduanku untuk bersamamu di surgaNya nanti menjadi nyata.
“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”(Q.S.Adh Dhuhaa:4)
SENDIRI #2
Oleh: Fitri Amaliyah Batubara
Saat sendiri aku temukan diriku yang selalu menunggu di depan pintu. Selalu seperti itu setiap hari. Berharap anak-anak berseragam sekolah yang pulang beramai-ramai dengan langkah kaki yang selalu semangat menyusuri perjalanan mereka antara sekolah dan rumah atau antara rumah dan sekolah, lewat lagi di depan rumahku.
Entahlah. Aku begitu senang melihat mereka yang selalu riang dan sesekali berteriak-teriak kecil antara sesama mereka. Yang kutahu, mereka adalah anak sekolah yang setiap hari memakai pakaian merah putih lengkap dengan kain merah yang tersangkut di leher baju mereka.
Aku tidak tahu apakah aku tahu makna sekolah yang sebenarnya. Tapi, yang kutahu, sekolah adalah tempat yang bisa membuat siapa saja bisa membaca dan pintar.
Aku selalu meminta kepada ibu untuk bisa sekolah secepatnya walaupun umurku baru 5 tahun 3 bulan. Aku juga berharap ibu bisa mengabulkan permintaanku. Aku merasa aku layak walaupun umurku belum 6 tahun. Toh, aku sudah mengenal huruf-huruf meskipun aku tidak TK dahulu seperti anak-anak kebanyakan. Aku bisa mengenal huruf-huruf itu hanya melalui kerendahan hati kedua orangtuaku yang membelikanku satu set huruf-hurufan yang terbuat dari bahan plastik dan mengajariku dengan sabar dan perlahan-lahan. Hingga akhirnya kubuktikan, aku sudah layak untuk duduk di bangku sekolah dasar seperti anak-anak sekolah yang setiap hari lewat di depan rumahku.
Aku selalu bermimpi, suatu saat aku bisa bangun pagi, sarapan, menyiapkan buku-buku pelajaran sekolah dan memasukkannya ke dalam tas sekolah yang dibeli ayah, memakai sepatu sekolah berwarna hitam yang dibeli ibu dipasar dan berpamitan serta mencium tangan ayah dan ibu setiap akan pergi dan pulang sekolah. Sampai disekolah, aku pun disambut teman-temanku dengan senyum manis mereka. Menunjukkan pada guruku kalau aku bisa menjawab semua pertanyaannya.Itu mimpiku.
Mimpiku terwujud tidak berapa lama kemudian. Ibuku mendaftarkanku sekolah pada saat usiaku 5 setengah tahun dengan segala pertimbangan yang ibu lakukan ke pihak sekolah.
Dalam sendiri, akhirnya kudapati aku telah sekolah seperti mereka yang selalu lewat di depan rumahku. Aku bangun pagi, sarapan, menyiapkan buku-buku pelajaran sekolah dan memasukkannya ke dalam tas sekolah yang dibeli ayah, memakai sepatu sekolah berwarna hitam yang dibeli ibu dipasar dan berpamitan serta mencium tangan ayah dan ibu setiap akan pergi dan pulang sekolah. Sampai disekolah, aku pun disambut teman-temanku dengan senyum manis mereka. Menunjukkan pada guruku kalau aku bisa menjawab semua pertanyaannya.
(31 Mei 2009, ketika memoriku sedang bermain)
Minggu, 31 Mei 2009
Iblis, Tak Selamanya Berbuat Mungkar
Oleh : Sukma
Maka, apa mungkin neraka akan penuh sekalau iblis tak lagi berbuat mungkar ?
Di masa lampau pernah iblis berikrar di hadapan Tuhan bahwa ia-nya tidak akan pernah tunduk dan patuh kepada manusia. Melainkan akan terus berupaya menggoda umat manusia hingga ke tepi neraka. Apa mungkin itu karena kesombongan iblis ? Apa karena iblis tak lagi mau bertuhankan Allah atau karena iblis diciptakan dari api yang kemerah-merahan ? Ah, itu terka-terkaan yang membikin siapa saja sepakat bahwa iblis muara dari segala dosa.
Inilah Cublis, alias cucu iblis yang dipentaskan monolog oleh Hasan Albanna pada Sabtu, 16 Mei 2009 di Taman Budaya Sumatera Utara. Pementasan kali ini setidaknya menyedot perhatian banyak orang. Mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum. Mungkin karena pementasan monolog ini berbau iblis sehingga identik dengan kebengisan, kekerasan atau bahkan kengerian maka seiring itu alasan beberapa orang tertarik pula untuk menyaksikannya.
Monolog ini disajikan dalam dua sesi. Sesi pertama dimulai pada sore hari sekitar pukul 16.00 wib dan malam harinya pada pukul 19.30 wib. Tentunya, karena Cublis adalah gawean Teater Generasi Medan maka seyogyianya pementasan kali ini pun kerap diawali dengan musikalisasi puisi oleh pemain dari tim Generasi sendiri. Padamu Jua karya Amir Hamzah dan Sembahyang Rumputan sebuah puisi rakitan Ahmadun Yosi Herfanda terdengar mengalun sayup-sayup sebagai tanda bahwa pementasan Cublis telah dibuka.
Tampilan Hasan Albanna sebagai aktor utama dalam pementasan kali ini memberi aroma baru bagi kalangan pelajar. Setidaknya huru-hara, teriakan-teriakan dan tawa geli mampu membius penonton dengan cara yang terbilang beda.
Ketertawaan, kelucuan dan riuh tepuk tangan bukan semata dimainkan Hasan Albanna sebagai aktor yang mumpuni pada Cublis kali ini. Melainkan lebih kepada nilai rasa Cublis ini sendiri sedari awal ialah pembalikan arah berpikir manusia tentang iblis. Ia-nya sanggup menertawakan perawakan iblis yang setidaknya wujud dari penjelmaan manusia itu sendiri. Dramatisasi itu juga dikemas dalam bentuk yang tidak kalah elegan seperti halnya tontonan-tontonan di gedung biskop penuh AC atau pagelaran musik bermahkota sound yang menggelegar. Cublis sebenarnya adalah alkisah kehidupan anak cucu iblis—yang dalam usianya masih terbilang muda untuk menggoda manusia—namun dengan sekelumit cobaan, ujian serta kegelisahannya yang teramat membingungkan ternyata dari keresahan itu ia berhasil menyuguhkan sekelumit renungan bagi kita umat manusia.
Cublis sering tak tentram hati manakala manusia sering bahkan terlalu sering menjadikan iblis sebagai dalang dalam semua aktifitas yang berbau dosa dan neraka. Sang aktor, Hasan Albanna, memainkan tokoh-tokoh dalam monolog ini nyaris sepi dari kebuntuan. Tatkala ia harus memerankan Tuan Bustaman sebagai tokoh yang sangat menyeramkan, sadis, menakutkan dan paling diktator di kalangan iblis. Tuan Bustaman yang senantiasa mengajak Cublis berbuat aniaya, kesalahan, dan penuh kemaksiatan mampu diperankan Hasan dengan tuturan-tuturan yang mengulik hati, sedikit kocak bahkan sesekali terkesan angker.
“Sebenarnya malam ini aku ingin mengajakmu bersenang-senang. Tapi, sudahlah, lain kali saja. Malam ini, bergembiralah dengan teman-temanmu. Mabuklah. Fly. Berpestalah dengan perempuan-perempuan jalang terbaik. Bukankah sudah aku ajari kau bagaimana mabuk dengan cara yang anggun dan elegan?” Begitu tutur Tuan Bustaman saat mengajak Cublis berpesta fora.
Ternyata kehidupan iblis yang selama ini sering dianggap miring oleh manusia nyatanya tak lah separah itu. Bagaimana Cublis begitu gelisah melihat manusia yang kerap menjadikan iblis sebagai hal-hal yang buruk. Tidak berprikeiblisan. Dan Hasan Albanna menjadikan adegan-adegan yang tercipta tertata penuh ketelitian. Meski terbilang sedikit terkesan melebihkan, namun menurut hemat saya sebagai penonton bahwa Cublis seiyanya mampu memenggal pemikirian manusia tentang hakikat iblis yang ada selama ini.
Manusia lupa bahwa iblis tidak pernah merampas hak manusia untuk beribadah kepada tuhannya. Berbuat baik kepada sesama. Namun jauh dari itu, iblis memang tidak sendiri, iblis kerap berkelompok untuk terus memasang strategi supaya manusia terhasut dan tentunya menjadi kawanan iblis. Maka, sajian Cublis sebenarnya sajian dari sekelumit hidup dan kehidupan manusia.
Itulah Cublis !
Banyak hal yang sebenarnya bisa kita renungkan ketika iblis divonis sadis. Senang berdurhaka. Kerap mengajak manusia untuk melakukan hal-hal yang berbuah neraka. Namun jauh itu, dari adegan Cublis yang dipentaskan Hasan Albanna selama lebih kurang satu jam tersebut, setidaknya mampu mengguit hati para manusia bahwa kreatifitas iblis dalam berbuat dosa jauh ketinggalan tinimbang kreatifitas manusia itu sendiri.
”Memang, memang, terus terang, kamilah yang habis-habisan menggoda Kabil agar membunuh saudara, Habil. Tapi ingat, ingat, catat, tulis, dan cetak dengan huruf yang besar di surat kabar terbitan besok, bahwa kami para iblis tidak pernah menyuruh manusia memenggal-menggal tubuh sesamanya, merajang, dan merebusnya sampai putih, sampai hancur seperti bubur sumsum.” Begitu tutur Cublis dalam ketika merenung di pesta ulang tahunnya saat aroma Tuan Bustaman terus membuntutinya.
Bukan sekedar itu, pementasan Cublis ini selalu saja mengejutkan penonton dengan adegan yang tak terduga. Lihat saja ketika Cublis hendak berdoa, merenung, ulang tahun, saling peduli antar sesama iblis dan senang bergotong-royong. Iblis pun sering mengutamakan kata mufakat, ramah, tahu soal adat-istiadat, tahu mana yang pantang mana yang boleh. Hati iblis gampang tersentuh, iblis mudah menitikkan air mata. Menangis. Tentu bukan air mata buaya. Maka seiring godaan manusia, iblis telah pula dibuat menakutkan padahal sejatinya tampang iblis adalah tampan. Semua itu diperankan oleh manusia yang sok tau, sok mulia. Manusia menganggap iblis sebagai mahkluk yang menyeramkan dan menjerumuskan manusia semata. Padahal, semua itu terjadi karena ulah manusia sendiri.
Hmm, bisa jadi neraka lebih banyak dipenuhi manusia daripada khalayak iblis !
Selain tokoh Tuan Bustaman dan Cublis yang diperankan Hasan Albanna, ada Atok, sebagai tokoh tetua dari Cublis. Yang kerap lebih meliukkan hati penonton dengan petuah-petuahnya. Atok diperankan seolah memberi warna baru dalam dunia keiblisan. Ia-nya memberikan peringatan pada umat iblis bahwa iblis memang menghimbau manusia untuk memelihara kedengkian hati, kemewahan, ketamakan, keculasan, tapi ummat iblis tidak pernah melakukan hal-hal demikian. Semula hanya memberi jalan dosa bagi manusia, tapi manusia malah lebih lihai menciptakan jalan dosa sendiri. Bahkan mampu memperbudak iblis untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang iblis pun sangat membencinya.
Karena gesekan-gesekan cerita Cublis inilah yang secara hakikat, tidak pula sanggup mengundang audiens untuk mengantuk, apalagi jemu. Kharismatik iblis, alur cerita dan suntikan-suntikan pesan yang dititipkan ditiap adegan Cublis telah mampu membikin hati penonton untuk tertawa geli sambil merenung-renung apa pesan terdalam dari iblis yang kini tengah geleng-geleng menyaksikan manusia lebih parah dari iblis sendiri.
Terlepas dari sajian yang begitu menghibur baik lahir maupun batin, namun saya sangat yakin bahwa Cublis bikinan Hasan Albanan telah menyeret kita untuk menyadari bahwa iblis begitu setia menggoda anak manusia. Iblis kerap merenung akan ketakutannya menuia neraka kelak. Karena ketakutan itu, kiranya iblis mencari kawan untuk tidak berhenti mengobati kegelisahan dan keresahannya dengan janji yang tengah Allah tetapkan padanya.
Kalau saja iblis begitu konsisten menepati janji akan menggoda anak manusia. Lalu, mengapa manusia tidak belajar dari iblis perihal ”kekonsistenan” itu ?
Yah !
Medan, Mei 2009
Senin, 18 Mei 2009
Kembalikan Lagu Untuk Anakku !

Oleh : Sukma
Saya teringat ketika masa kanak-kanak saya dulu, teringat pula ketika saya harus didendangkan dengan nyanyian kasih sayang oleh ibu saya saat hendak beranjak tidur. Nyanyian yang melambungkan angan-angan akan indahnya masa kanak-kanak, nyanyian yang penuh suka cita, kegembiraan, pesan-pesan moral untuk saling menyayangi dan saling mencintai antara semesta, hewan, lingkungan juga ibu bapak.
Sampai saya kelas 5 SD, masih banyak lagu yang bisa saya hapal. Tidak hanya lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah pun sempat kami (saya dan teman-teman) teriakkan di dalam kelas secara bersama-sama dengan riangnya. Bukan tidak sering saya juga diajak bapak dan ibu guru untuk bermain angklung, menepuk rebana, meniup seruling, meramu marakas dari kumpulan tutup botol, batok kelapa yang dipernis menjadi ketipung, juga botol kecap yang dimainkan untuk menghasilkan irama kelenting dalam membawakan lagu “Sayang-sayang Sipatokaan”, apalagi menjelang pentas seni diselenggarakan.
Namun jauh berbeda dengan sekarang, banyak diantara anak-anak Indonesia saat ini hampir melupakan lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah atau lagu-lagu yang sengaja dipopulerkan oleh para penyanyi cilik Indonesia.
Dulu pun kita masih ingat dengan sederetan lagu yang sempat populer di kalangan para penyanyi cilik Indonesia, sebut saja Josua, Trio Kwek-kwek, Marshanda, Sherina, Dea Ananda dan lain sebagainya. Lagu-lagu yang mereka bawakan adalah lagu-lagu yang mengenangkan banyak kisah yang seru, indah, bahkan menakjubkan untuk dunia anak-anak. Tentang gunung, tentang laut, langit biru, kicauan burung, bertamasya, bercocok tanam, bersepeda ria, juga sampai pada lagu anak-anak yang beraliran religius seperti yang pernah dipopulerkan dalam tembang sholawatnya Sulis dan Haddad Alwi.
Namun berbeda dengan kondisi masa kini, kalau kita disuruh memilih dan mencari dimana lagi lagu anak-anak yang meriah dinyanyikan ? Kemana kita akan membeli kaset anak-anak yang menceritakan tentang burung-burung, pemandangan sawah atau hembusan angin ? Lantas, siapa pula penyanyi cilik yang sekarang digandrungi oleh para anak-anak kita ?
Maka jawabannya, tidak ada ! Hampir semua event yang mengasah bakat menyanyi anak-anak Indonesia semuanya luput dari dunia anak-anak. Anak-anak disuguhi dengan lagu-lagu yang bernuansa dewasa, tentang cinta, soal selingkuh, tentang patah hati juga tentang nafsu birahi. Lihat saja pemandangan yang tak menyenangkan pada tayangan televisi di rumah kita, para anak-anak diikutkan dalam sebuah ajang perlombaan menyanyi dengan dalih mengasah potensi bakat dan talentanya. Nyatanya, anak-anak kita dipilihkan lagu-lagu orang dewasa yang secara tidak langsung membuat mereka jauh lebih dewasa dari kita, orang dewasa yang sesungguhnya.
Anak-anak kita disuruh menjiwai lagu-lagu orang dewasa, dengan lirik-lirik yang mendewasakan mereka belum pada masanya. Berikut pun kontes-kontes yang ada, anak-anak kita tidak lagi diajarkan apa itu pelangi? Apa itu purnama ? Apa itu bintang? Dan, apa itu bunga ? Melainkan mau tidak mau anak-anak kita telah diajarkan bagaimana menyatakan cinta dengan pasangan, trik mendapatkan pasangan, sampai pula bagaimana menjaga romantisme hubungan lawan jenis.
Belum lagi kalau kita mampir di setiap lapak-lapak penjualan kaset murah, aneka vcd bajakan, MP3 via handphone yang kesemuanya itu adalah fasilitas yang memudahkan anak-anak kita untuk senantiasa mendengarkan lagu-lagu orang dewasa untuk kian merasuk dalam telinga dan ingatan mereka.
Padahal, kalau saja industri musik Indonesia mau kembali menggeliatkan lagu untuk anak-anak di Indonesia, saya amat yakin lagu-lagu tersebut akan sangat laris manis. Betapa tidak anak-anak Indonesia sudah sangat jenuh dengan lagu-lagu orang dewasa yang tidak mengajarkan bagaimana menjadi anak-anak yang sebenarnya.
Wajar saja kalau anak usia sembilan tahun sudah mengenal jatuh hati, istilah cinta monyet, coklat di hari valentine, sms-sms cinta, sampai pula bunuh diri akibat patah hati. Siapa yang lantas kita salahkan ? Orangtua ? Stasiun televisi ? Grup-grup band pencipta lagu ? Panitia penyelenggara kontes menyanyi? Atau malah pemerintah ?
Kalau sudah begini maka kita akan semakin repot menjawabnya, tidak mungkin kita matikan televisi, tidak mungkin kita halangi anak-anak kita mendengar radio, tidak pula kita larang mereka bergabung dengan anak-anak yang juga berstatus penghapal mati lagu-lagu orang dewasa tersebut.
Lalu kalau begitu, saya akan sangat optimis lima belas tahun mendatang. Anak-anak Indonesia tidak akan lagi mengenal bagaimana lagu Piso Surit, lagu Indonesia Raya, lagu Halo-halo Bandung, Lagu Bengawan Solo, lagu Bintang Kecil, Pelangi, Topi Saya Bulat, atau pula lagu Cicak-cicak di Dinding. Dan kemudian dengan sangat gampang kita akan mengatakan; Say good bye lagu anak-anak Indonesia !
Medan, 25 April 2008
Tulisan ini pernah dimuat pada Harian MEDANBISNIS-edisi Minggu, Akhir Mei 2008